Eva Octavia Siagian, tak menyangka kue buatannya yang mengusung tema khas Indonesia laku keras. (Foto: Dok. Medcom.id/Khalishah Nuramalina)
Eva Octavia Siagian, tak menyangka kue buatannya yang mengusung tema khas Indonesia laku keras. (Foto: Dok. Medcom.id/Khalishah Nuramalina)

Dari Coba-coba Jadi Bisnis yang Menjanjikan

Rona kisah
Dhaifurrakhman Abas • 15 April 2019 18:36
Eva Octavia Siagian, tak menyangka kue buatannya yang mengusung tema khas Indonesia laku keras. Jika selama ini Es Podeng, Bubur Sumsum, atau Cendol hanya berupa yang itu-itu saja, oleh Eva aneka makanan dan minuman khas tersebut dijadikan cake dan tart. Aneh, tentu saja. Jadi, kreasi dan idenya untuk membuat makanan dan minuman khas Indonesia menjadi kue modern dan bernilai tinggi, tersaji dengan rasa yang tidak diragukan lagi, super lezat.
 

 
Jakarta:
Senyum Eva Octavia Siagian tetiba terkembang saat menatap kue tart berwarna-warni dan beragam rasa yang ada di hadapannya. Kue hasil bikinannya itu sebentar lagi siap dijual secara daring. Sudah banyak yang pesan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sebelum dijual, dia sempatkan menggapai telepon genggam yang ada di kantong celana sebelah kiri. Lalu dia jepret kue tersebut dari berbagai angle yang menarik. Kemudian, hasil jepretan itu dia bagikan ke media sosial Instagram miliknya.
 
“Jadi inget masa lalu ya,” kata Eva sambil menatap toko kue Tarterie & Co di kawasan Senayan City, Jakarta Selatan, tempo hari.
 
Sesekali tampak Eva mengernyitkan dahi sambil tertawa kecil. Dia tak habis pikir kue yang ada di hadapannya itu, sekarang jadi bisnis besar yang menjanjikan. Malahan mampu menambah pemasukan keluarga.
 
“Dulu enggak sempet anggap ini sebagai bisnis isapan jempol belaka," kenangnya.
 
Dari Coba-coba Jadi Bisnis yang Menjanjikan
(Kue Cendol, seperti nama aslinya, terdapat cendol di dalam kue tersebut. Foto: Dok. Medcom.id/Khalishah Nuramalina)

Berawal dari coba-coba

Sebelum jadi bisnis besar, Eva hanya membuat kue untuk sajian manis penutup mulut. Biasanya dia hidangkan usai santap makan malam bersama keluarga atau buat mengisi perut saat nongkrong bersama kawan-kawan.
 
Kue yang dia bikin waktu itu juga hanya ada satu rupa dan rasa. Bentuknya mirip pie dengan taburan keju nikmat di atasnya. Saking seringnya membikin kue itu, sampai-sampai dia berikan nama Ferrero Cheese Tart.
 
“Bikinnya iseng-iseng. Untuk ngilangin penat pas lagi hamil. Terus aku share ke Path dan Instagram. Ternyata banyak yang mau coba,” ujar Eva.
 
Namun siapa sangka, kue yang dia ciptakan berdasarkan coba-coba itu punya nilai ‘magis’. Buktinya, tiap kali dicicipi teman dan keluarga, Ferrero Cheese Tart tersebut selalu dilibas habis. Sampai-sampai tak tersisa sediktipun.
 
“Pas mereka cicipi, katanya enak. Terus mereka bilang jual aja, untung-untung laku dan jadi usaha sukses,” kenang Eva.
 
Meski begitu, sehabat karib dan keluarganya itu untuk menjual kue buatannya tak ditanggapi dengan serius. Alias hanya dianggap guyonan.
 
Apalagi menjadikannya sebagai sebuah bisnis serius. Toh, Eva pikir, dia tak punya bakat apalagi kesempatan untuk bersaing dengan pebisnis kuliner lainnya.
 
“Soalnya memang enggak punya bayangan untuk berbisnis sih,” jawabnya.
 
Dari Coba-coba Jadi Bisnis yang Menjanjikan
(Aneka kreasi kue khas Indonesia, diakui Eva diminati oleh masyarakat. Seperti kue ini contohnya, Ubi Ungu Cake dengan rasa ubi ungu yang diciptakan dengan gaya kekinian. Foto: Dok. Medcom.id/Khalishah Nuramalina)

Mendapat sokongan

Tahun 2014 rupanya jadi waktu paling berharga buat Eva. Pasalnya, keenggan untuk mencoba peruntungan berbisnis kue akhirnya berhasil diruntuhkan.
 
Ya, apalagi kalau bukan karena hasutan sekaligus sokongan kawan-kawan dan keluarga.
 
Ditambah lagi, saat itu, dia menemukan jalan terang untuk memulai berbisnis kue kecil-kecilan. Menjalankan bisnis tersebut terbilang mudah. Tak perlu modal banyak dan tanpa tekanan dari siapapun.
 
“Waktu itu 2014 lagi sering diadakan bazar-bazar di mal. Buat usaha masyarakat gitu. Nah, sampai temen aku maksa. Katanya nanti ditemanin kalau jualan di mal,” kenang dia.
 
Tanpa pikir panjang, Eva segera mendatangi bazar dan langsung menyewa tempat selama tiga hari berturut-turut.
 
Bermodal Ferrero Cheese Tart yang jadi menu andalan satu-satunya, dia coba mulai dagangkan kepada para pengunjung mal di hari pertama.
 
“Aku jual satu potongan kecil Ferrero Cheese Tart seharga Rp45 ribu,” kenang dia.
 
Berhubung sudah menyewa lapak tiga hari, dia tak mau rugi. Ratusan Ferrero Cheese Tart dia siapkan di meja bazar. Perkiraan itu rupanya tepat sasaran. Meja bazar Eva kian ramai disesaki para pengunjung.
 
“Ternyata banyak yang beli,” ujar Eva.
 
Bukan cuma banyak yang beli, kue yang dia jual tersebut semuanya ludes diborong para penjaja makanan dalam tiga hari. Bahkan dia kaget bukan kepalang saking larisnya itu dagangan
 
“Benar-benar enggak nyangka,” sambungnya.
 
(Baca juga: Bahan Pengganti Telur untuk Membuat Vegan Cake)
 
Dari Coba-coba Jadi Bisnis yang Menjanjikan
(Puluhan kue sekarang sudah diciptakan oleh Eva. Jika Anda membayangkan makan Es Podeng, begitulah rasanya dalam bentuk kue imut ini salah satunya. Foto: Dok. Medcom.id/Khalishah Nuramalina)

Mengembangkan bisnis

Lamat-lamat, Eva mulai merasa bisnis kuliner tersebut yang menjanjikan itu tak boleh dilewatkan begitu saja. Dia pun mulai mencoba serius untuk mengepakkan sayap mega bisnisnya.
 
Namun, berhubung modalnya belum gede-gede amat, dia lantas mencoba memulai membangun bisnis dari langkah paling bawah. Yaitu dengan memperbanyak varian rasa kue yang dia dagangkan.
 
“Aku mikir kan, kayaknya enggak bisa dong kalau cuma jualan satu produk. Akhirnya dikembangkan varian rasa kue lainnya,” ujarnya.
 
Meski begitu Eva sadar bisnis ini tak mungkin bisa dijalankan sendirian. Dia membutuhkan bantuan tangan orang lain agar usahanya kian maju. Misalnya bantuan untuk memberi ide rasa maupun kritik terhadap varian baru yang tengah diracik.
 
“Aku amat beruntung dikelilingi orang-orang yang jujur dan kreatif. Mereka, kawan dan keluarga, bakal ngomong blak-blakan kalau racikan aku enggak enak. Lalu memberi masukan yang masuk akal,” katanya.
 
Dia mengaku akan memasarkan setiap produk baru ketika mendapatkan persetujuan dari orang terdekat. Setelah dicicipi dan mendapat lampu hijau, barulah Eva berani menjajakan dagangannya di pasaran.
 
“Kalau mereka bilang biasa aja, aku enggak akan keluarin produknya deh,” kata Eva.
 
Untuk meningkatkan kemampuan memasak, Eva juga mengaku rutin membaca dan menonton peliputan kuliner.
 
Semua buku dan acara kuliner, baik dalam maupun luar negeri, dia cermati baik-baik. Kemudian ia terapkan metode memasak itu menjadi produk makanan baru.
 
“Aku improvisasi dan ciptakan produk baru. Sekarang udah ada 30-an varian. Dari rasa dan ukuran,” ujarnya tersenyum.
 

Dari Coba-coba Jadi Bisnis yang Menjanjikan
(Ferrero Cheese Tart, kue pertama yang ia ciptakan dan tak menyangka banyak peminatnya. Foto: Dok. Medcom.id/Khalishah Nuramalina)

Di luar ekspektasi

Bisnis kue Eva lambat laun kian berkembang. Dia mengaku, dari 2014 hingga saat ini, setiap kue buatannya laku keras dan menghasilkan cuan bejibun.
 
Adapun kue yang jadi favorit khalayak di antaranya Ferrero Cheese Tart, Bubur Sumsum, dan Es Podeng.
 
“Yang paling diminati, yang dekat dengan lidah orang Indonesia,” ujarnya memberikan tips.
 
Sayangnya, Eva enggan menjawab ketika ditanyakan soal omzet yang dia dapatkan. Dia hanya menjawab singkat sambil tersipu malu.
 
“Pokoknya sudah bisa punya tim di dapurlah hehehe,” ungkap dia.
 
Yang jelas, Eva menyarankan untuk mengejar mimpi sekecil apapun, jika dilakukan dengan niat dan usaha yang kuat, tentu akan berbuah manis. Hanya saja, menurut dia, banyak orang yang takut kalah sebelum mulai berperang.
 
“Terkadang butuh keberanian untuk mulai mencobanya. Kalaupun gagal, setidaknya kita tahu. Ketimbang menduga-duga dan menyesal pada akhirnya,” tandas Eva.
 
Ya, begitulah cerita Eva yang kini mulai merasakan indahnya usaha yang dia rintis. Berawal dari coba-coba, kini Eva sudah bisa membuka senyum lebar-lebar.
 
Menatap manis sebuah toko kue bernama Tarterie & Co miliknya yang terletak di The Food Hall Senayan City, Jakarta.
 

 

(TIN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif