Keraton Agung Sejagat di Desa Pogung Jurutengah, Bayan, Kabupaten Purworejo. (Foto: ANTARA/dok. pribadi)
Keraton Agung Sejagat di Desa Pogung Jurutengah, Bayan, Kabupaten Purworejo. (Foto: ANTARA/dok. pribadi)

Melihat "Keraton Agung Sejagat" dari Sisi Psikologis

Rona psikologi
Raka Lestari • 17 Januari 2020 14:38
Jakarta: Beberapa waktu belakangan ini muncul kasus mengenai Keraton Agung Sejagat (KAS). Totok Santosa Hadiningrat dan Dyah Gitarja mengaku sebagai Raja dan Ratu Keraton Agung Sejagat. Keduanya ditangkap oleh polisi pada 14 Januari 2020 lalu. 
 
Jika dilihat dari segi psikologis, ada beberapa hal yang bisa mendasari Totok dan Dyah melakukan hal tersebut.
 
“Mengenai hal tersebut bisa ada dua motif. Motif pertama bisa jadi memang tidak ada hubungannya dengan gangguan mental, namun menggunakan cara tersebut (mengaku sebagai raja dan ratu) sebagai salah satu strategi untuk meraih keuntungan pribadi. Misalnya memanfaatkan pengikutnya untuk tujuan tertentu,” ujar Psikolog anak, remaja, dan keluarga, Efnie Indrianie, M.Psi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Yang kedua jika memang dari hasil pemeriksaan mengalami gangguan mental, biasanya hal seperti ini dimiliki oleh mereka yang mengalami gangguan mental Schizofrenia. "Di mana ia merasa dirinya sebagai raja dan bisa menguasai dunia sebagai bentuk delusi/waham kebesaran yang ia miliki,” tambah Efnie.
 
Menurut Efnie, untuk mengetahui apa yang menjadi penyebab hal tersebut sebaiknya dilakukan pemeriksaan kondisi mental terlebih dahulu apakah ada gangguan atau tidak.
 
"Namun memang belum tentu pelaku sudah pasti mengalami Scizofrenia. Kalau belum diperiksa kondisi kejiwaannya tentu kita tidak bisa mengetahui penyebabnya. Dan jika memang tidak ada gangguan jiwa ketika sudah diperiksa lebih lanjut, mungkin bisa saja motifnya adalah yang pertama yang tadi saya sebutkan itu,” ujar Efnie. 
 
Kehadiran Keraton Agung Sejagat di Desa Pogung Jurutengah, Bayan, Kabupaten Purworejo, dinilai telah meresahkan masyarakat. Kabag Humas dan Protokol Pemkab Purworejo Rita Purnama, menyebut berdasarkan laporan Kepala Desa Pogung Jurutengah melalui Camat Bayan, kegiatan di KAS meresahkan warga sekitar dan terindikasi penipuan karena sejarah yang disampaikan banyak yang tidak sesuai.
 
Menurut Rita, bangunan di KAS juga tidak berizin. Pusat kegiatan KAS di lokasi juga akan ditutup dan ditandai dengan pemasangan garis polisi. Alibi KAS yang menyatakan dapat melakukan kegiatan tanpa izin tak punya dasar.
 
Totok dan Dyah telah ditetapkan sebagai tersangka. Mereka dijerat dengan pasal penipuan dan pembuat keonaran karena mendeklarasikan diri sebagai Raja dan Ratu KAS di Purworejo, Jawa Tengah.
 
Mereka dijerat dengan pasal 14 Undang-Undang Nomor 1 tentang 1946 tentang menyiarkan kabar bohong dengan sengaja menerbitkan keonaran dan pasal 378 KUHP tentang penipuan.
 
Menurut Iskandar para anggota KAS diduga merupakan korban penipuan. Mereka agar bisa menjadi anggota KAS dipungut uang puluhan juta rupiah.
 

 

(YDH)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif