Harvey Karp, asisten profesor pediatrik di UCLA School of Medicine dan penulis dari The Happiest Toddler on the Block, memberikan penjelasan bahwa walau sulit untuk dimengerti oleh orang dewasa tentang hal ini, pada dasarnya anak yang seperti ini adalah anak yang perfeksionis dalam aturan (ketertiban).
(Baca juga: Tiga Kemampuan yang Harus Dimiliki di Era Globalisasi)
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
Hal ini menjurus pada terciptanya infleksibilitas "aturan hidup" yang sekali lagi tidak masuk akal bagi orang dewasa. Dan biasanya orangtua bisa melihat anak memilikinya sekitar usia 2 dan 3. (Walaupun pada beberapa anak, hal ini bisa berlangsung sedikit lebih lama).
Bagaimana mengatasinya?
Karp mengatakan bahwa langkah pertama adalah memperlihatkan si kecil bahwa Anda mengerti dan menghargai situasi yang ia kehendaki, pengulangan bahasa yang menggambarkan kenyataan di dalam diri si kecil.
Karp menyebutnya dengan "Toddlerese." Contohnya "Anda bilang bukan, bukan, bukan, bukan tas hijau, tas warna merah."
Ketika si kecil sudah mengerti, dia akan berangsur menjadi lebih tenang dan lebih terbuka untuk menjelaskan mengapa ia hanya suka warna merah saja, dan ini merupakan saat yang tepat untuk memberikan saran.
Misalnya, berkata Anda tahu bahwa ia sangat menyukai warna merah, namun, ia tetap bisa memakai kaus dalam warna putih, hijau, atau kuning lalu memakai kaus luar berwarna merah.
Usahan untuk tidak menjadikan ini bahan untuk berperang dengannya, karena jika Anda konsisten melakukan perubahan dalam berbagai warna ini perlahan ia akan membuka kesempatan warna lainnya untuk ia sukai.
Jangan juga memberikan rewards jika ia mau memakai tas, kaus, atau tidur dengan guling yang sarungnya hijau ia akan diberikan cokelat. Karena hal ini menurut Karp tidak akan menyelesaikan permasalahan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News(TIN)
