Ilustrasi-- Warga menyaksikan iring-iringan mobil jenazah yang membawa almarhum Presiden ke-3 Republik Indonesia BJ Habibie menuju Taman Makam Pahlawan Nasional Utama Kalibata di Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Kamis (12/9/2019)--Antara Galih P
Ilustrasi-- Warga menyaksikan iring-iringan mobil jenazah yang membawa almarhum Presiden ke-3 Republik Indonesia BJ Habibie menuju Taman Makam Pahlawan Nasional Utama Kalibata di Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Kamis (12/9/2019)--Antara Galih P

Setiap Orang Punya Cara Sendiri Menyembuhkan Rasa Duka

Rona psikologi
Raka Lestari • 13 September 2019 14:24
Jakarta: Berpulangnya Presiden Ketiga Republik Indonesia, Bacharuddin Jusuf Habibie menimbulkan duka mendalam buat ratyat Indonesia. Setiap orang memiliki cara mengungkapkan perasaan duka dan menyembuhkan rasa duka.
 
"Contohnya, ada orang yang nilai keagamaaannya kuat. Dia akan memilih cara yang paling tepat untuk diri dia menyembuhkan rasa berduka tersebut dengan berdoa misalnya. Dengan seperti itu dia merasa bisa menteralisir perasaan berdukanya tersebut," kata Jovita Ferliana, M.Psi, psikolog anak dan keluarga.
 
Ia juga menambahkan, beberapa orang mungkin mengatasi rasa berdukanya tersebut dengan mendengarkan lagu-lagu tertentu. Misalnya dengan mendengarkan lagu-lagu yang menguras emosi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Mereka akan merasa lebih baik. Contohnya saya, kalau saya sedih dan rindu dengan almarhumah ibu sya biasanya saya akan mendengarkan lagu sedih, dengan menguras air mata saya akan merasa lebih baik," tutur Jovita.
 
Jadi, lanjutnya, setiap orang sebetulnya punya cara yang berbeda-beda dan biasanya mereka bisa tahu dengan sendirinya cara untuk mengatasinya. Karena setiap orang pasti pernah mengalami kesedihan. "Terlepas itu dari kesedihan karena kematian atau bukan," jelas Jovita.
 
Kematian memang hal yang paling menyedihkan, tetapi di luar kematian ada beberapa event-event lain yang juga bisa membuat sedih. Misalnya saja kehilangan barang, teman, atau teman dekat harus pindah. "Atau bisa juga karena ada kerabat dekat yang sedang sakit," imbuhnya.
 
Menurut Jovita, hal-hal tersebut tentu juga akan menimbulkan kesedihan meskipun memang derajatnya berbeda-beda.
 
"Kita sebenarnya pasti sudah tahu yang paling cocok dengan kita untuk mengekspresikan kesedihan dengan cara apa. Beberapa orang mungkin harus mengekspresikannya dengan cerita dengan orang baru kemudian bisa healing. Jadi memang setiap orang berbeda-beda caranya," tutup Jovita.
 

 

(YDH)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif