Ironisnya, orang-orang di sekitar anak bernama Mustafa itu seakan tak peduli dengan kebiasaan aneh yang dilakukan. Bahkan keluarga dekat membiarkan Mustafa tetap melakukan perilaku tak lazim itu sejak usia 7 bulan.
"Sebenarnya kebiasaan yang dilakukan oleh anak pasti ada yang memberikan contoh, pengenalan, sampai bisa suka dengan bau bensin dan menjadi kebiasaan. Pasti ada yang mengenalkan," ujar Psikolog Anak Novita Tandry, dalam Newsline, Rabu 12 April 2017.
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
Menurut Novita, apapun yang dilakukan anak tak lepas dari faktor kebiasaan yang ditularkan oleh orang tua. Jika kemudian ditemukan kebiasaan tak lazim yang dilakukan oleh anak, mau tidak mau orang tua harus menghentikannya.
"Bisa bertahap. Kalau sudah tidak bisa harus konseling ke dokter, ke psikolog untuk mengetahui tahapan apa yang harus ditempuh," katanya.
Novita pun menyayangkan yang kerap kali terjadi adalah keluarga memilih untuk melakukan tindakan kuratif ketimbang preventif. Orang tua hanya bereaksi ketika kondisi anak sudah sangat memprihatinkan, padahal yang diperlukan justru tindakan pencegahan.
"Orang tua punya andil besar dalam memberikan info kepada anak bahwa ini berbahaya, pengetahuan akan kesehatan dan dampak apa yang mereka rasakan dan tanggung kedepannya kalau melakukan ini," jelas Novita.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News(MEL)
