Menghadapi Stigma Keluarga Beda Agama

Sri Yanti Nainggolan 18 Juni 2018 11:45 WIB
topik khusus rona
Menghadapi Stigma Keluarga Beda Agama
Tak sedikit anak dari keluarga beda agama yang mengalami sindiran terkait kondisi keluarganya. Beberapa bisa tidak mengacuhkannya, tetapi bagaimana dengan anak yang justru memikirkannya? (Foto: Priscilla Du Preez/Unsplash.com)
Jakarta: Tak sedikit anak dari keluarga beda agama yang mengalami sindiran terkait kondisi keluarganya. Beberapa bisa tidak mengacuhkannya, tetapi bagaimana dengan anak yang justru memikirkannya?

Salah satu contohnya adalah ketika ada orang lain yang menyindir atau justru menasihati tentang bagaimana keluarga dengan satu dasar iman lebih baik. 

Menurut psikolog anak dan keluarga Anna Surti Ariani, hal tersebut sangat mungkin terjadi. Ia menyarankan agar anak membicarakan hal tersebut dengan orang tua jika merasa terganggu. 


"Lebih baik anak ngomong ke orang tua, minta saran tentang bagaimana menanggapinya, menjawab respons orang lain itu," sarannya saat dihubungi Medcom.id beberapa saat lalu. 

Jika anak belum puas dengan jawaban tersebut, tak ada salahnya mencari pandangan dari ahli agama dari kedua agama yang ada dalam keluarga tersebut. 

(Baca juga: Orang Tua Beda Keyakinan, Anak Ikut Agama Ayah atau Ibu?)


(Anak bisa menceritakan kegundahan pada orang terdekat dan tak perlu menyimpannya sendirian. Di satu sisi, orang tua juga berkewajiban mencari jawaban yang terbaik dari pertanyaan seputar keluarga berbeda agama. Foto: Sai De Silva/Unsplash.com)

"Jadi jawaban yang diterima adil, seimbang, dari dua sumber yang berbeda. Jika jawaban satu pemuka agama tak memuaskan, coba cari opini lain. Namun, tetap di jalan positif."

Psikolog yang akrab disapa Nina tersebut juga menekankan bahwa anak tak perlu merasa tertekan ketika mendapat stigma negatif tersebut, dimana hal itu biasanya berujung pada penutupan diri atau justru menyalahkan orang tua. 

Anak bisa menceritakan kegundahan tersebut pada orang terdekat dan tak perlu menyimpannya sendirian. Di satu sisi, orang tua juga berkewajiban mencari jawaban yang terbaik dari pertanyaan tersebut. 

"Sebagai orang tua, kita perlu membesarkan hati anak. Misalnya, bilang kalau orang tua merasa nyaman dengan agama masing-masing dan itu tidak masalah, baik-baik saja."

Menurut Nina, ketika anak bisa menjelaskan bagaimana perbedaan tersebut bukan masalah besar, maka secara tak langsung si kecil telah memberikan pemahaman positif di lingkungannya. 

"Anak perlu diajari untuk menyampaikan poin tersebut. Karena jika tidak, anak bisa menganggapnya salah karena persepsi orang lain," ia menegaskan. 





(TIN)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id