Dokter Keliling, Program Jemput Bola untuk Pemeriksaan HIV/AIDS

Sri Yanti Nainggolan 22 Oktober 2018 17:32 WIB
topik khusus rona
Dokter Keliling, Program Jemput Bola untuk Pemeriksaan HIV/AIDS
LSM Layak saat melakukan penyuluhan terkait HIV/AIDS (Foto: Sri Yanti Nainggolan)
Jakarta: Pada siang yang terik di bawah jembatan gantung Rawa Bebek, Penjaringan, Jakarta Utara, beberapa ibu-ibu asyik mengobrol.

Mereka rupanya akan mengikuti Rapid Test Program (RTP) HIV/AIDS yang diadakan Lembaga Swadaya Masyarakat Yayasan Pelayanan Anak dan Keluarga (Layak). Tes harusnya sudah dimulai sejak pukul 13.00 WIB, tetapi mundur karena harus menunggu warga lainnya berdatangan.

RTP digagas untuk membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya pemeriksaan HIV. Pemeriksaan dengan RTP juga lebih praktis dan efisien, yakni dengan menggunakan sampel darah dari jari.


Ayu (22), salah satu peserta mengaku tertarik mengikuti tes tersebut karena dirinya belum pernah menjalani tes HIV. Perempuan yang mengaku sebagai pekerja seks tidak langsung itu tidak mengetahui apa itu HIV dan penyakit-penyakit menular seksual lainnya. Kendati demikian, ia mengaku selalu menggunakan kondom setiap kali melayani kliennya. 

"Saat mulai bekerja, saya sudah diberi tahu untuk selalu menggunakan kondom. Klien saya juga selalu membawa kondom sendiri," ujar perempuan yang memiliki satu anak ini.  

Setelah menunggu sekitar setengah jam, acara pun dimulai, meski peserta hanya berjumlah belasan.

Novia Herlina selaku program officer Layak memberikan penjelasan terkait HIV/AIDS, seperti apa perbedaan keduanya, bagaimana penularan dan pencegahannya, dan apa yang sebaiknya dilakukan apabila terbukti positif. 

Kemudian, Novi pun memberikan penjelasan singkat terkait HIV/AIDS seperti apa perbedaan keduanya, bagaimana penularan dan pencegahan, serta apa yang sebaiknya dilakukan bila terbukti positif. Selama 10 menit, Novi memberi penyuluhan yang diselingi dengan kuis. Bahasa yang digunakan adalah bahasa keseharian agar bisa lebih dipahami.

"Kita memang memberikan penyuluhan dulu sebelum pemeriksaan. Kalau di hari yang berbeda, nanti mereka tak mau periksa," jelas Novi setelah kegiatan berlangsung.

Warga terlihat antusias, meskipun malu-malu untuk angkat tangan. Mereka yang benar menjawab pun membawa pulang bingkisan gelas dengan wajah sumringah.

Setelah itu, para kader pun mengabsen para warga yang ingin melakukan tes, didampingi oleh pihak administrasi dari Puskesmas kecamatan Penjaringan.

Secara teratur, warga yang dipanggil pun berjalan ke arah meja yang telah disediakan. Mereka menjawab beberapa pertanyaan dari dokter, sebelum diambil darahnya oleh pihak laboratorium.

Tak jarang, beberapa warga yang sudah sampai mengurungkan niatnya untuk melakukan tes karena takut disuntik. Jika sudah demikian, biasanya pihak LSM LAYAK pun membantu memeluk agar warga tetap mau melakukan tes.

Setelah melakukan tes, warga akan mendapatkan tas kecil yang berisikan brosur seputar HIV/AIDS, 10 buah kondom, dan satu sachet pelumas cair. Mereka pun kembali melanjutkan aktivitas

"Sengaja kita masukkan supaya mereka menjaga diri," ujar Novi, yang menjelaskan bahwa sebagai hotspot, kemungkinan untuk aktivitas seks tak terproteksi di daerah tersebut cukup besar.

Hotspot adalah daerah di mana populasi kunci banyak berkumpul, seperti diskotek, kafe, tempat karaoke, atau panti pijat. Populasi kunci adalah populasi yang berisiko tinggi terkena HIV/AIDS seperti pekerja seks komersial (PSK), pengguna NAPZA dan suntik (penasun), LSL (lelaki berhubungan seks dengan lelaki), dan waria.

Sekitar satu jam, petugas puskesmas melakukan tes pada 30 warga yang berdatangan secara bergantian. Tak lama, mereka memberikan hasilnya pada kader untuk dibagikan pada yang empunya hasil.

Hasil RTP hari itu menunjukkan terdapat dua orang yang terbukti positif HIV. Sesuai dengan prosedur, kader akan mendatangi warga tersebut dan menganjurkan untuk melakukan tes lebih lanjut di fasilitas pelayanan resmi. 

Pergerakan Dokling dalam Populasi Kunci 

Di Jakarta, kegiatan RTP masuk dalam program Dokter Keliling (Dokling), yang memang berfokus pada pemeriksaan HIV/AIDS. Program ini sudah dilakukan secara di semua bagian Jakarta.

"Di Jakarta Utara, dokling bisa 2-4 kali dalam seminggu. Sekitar 30-50 orang dalam satu wilayah," ujar penanggung jawab dokling di Puskesmas kecamatan Penjaringan, dr Intan Novita pada Medcom.id, pada kesempatan yang sama.

Jika tidak demikian, tambahnya, tak ada pasien yang akan mengajukan diri untuk diperiksa. Inilah mengapa tim tersebut harus jemput bola.

Program dokling sendiri tidak hanya dilakukan oleh pihak fasilitas kesehatan, tetapi berkolaborasi dengan LSM untuk memudahkan menjangkau target, yaitu populasi kunci. LSM menjadi medium yang tepat untuk menjembatani, termasuk kader dalam wilayah tersebut.

"Warga cenderung kooperatif karena sebelumnya pihak LSM sudah melakukan sosialisasi, jadi mereka juga paham."

Jadi, dalam satu kali kegiatan dokling, diterjunkan empat orang dari puskesmas yang terdiri dari dokter, petugas laboratorium, petugas administrasi, dan petugas pelaporan. Sementara, pihak LSM biasanya terdiri dari dua orang yang ditemani oleh kader.

Terkait target pencapaian, dr Intan mengungkapkan bahwa umumnya angka positif HIV mencapai 10 persen dari total keseluruhan untuk satu kali kegiatan dokling.

"Tiap ke lapangan, pasti ada 10-20 persen yang positif. Ini lumayan besar, makanya kita rajin turun," tambahnya.

Bahkan, tak jarang tim dokling Puskesmas kecamatan Penjaringan melakukan RTP ulang pada satu wilayah, dengan rentan tiga bulan. Durasi tersebut berdasarkan pada masa jendela dimana virus HIV masuk dalam tubuh dan terdeteksi dalam tubuh. Selama masa itu, hasil bisa menunjukkan negatif meskipun virus sudah masuk dalam tubuh.

Di wilayah Penjaringan, populasi kunci yang mendominasi adalah PSK dan pelaut, yang diduga cenderug melakukan hubungan seks tak terlindungi. Inilah mengapa dokling rutin dilakukan di sana.

Terkait gender, menurut dr Intan, baik pria maupun wanita berada pada presentase yang sama dalam mengikuti program tersebut.

Namun, Novi yang sudah beberapa kali mengikuti program RTP di beberapa wilayah Jakarta mengungkapkan bahwa wanita cenderung lebih sadar untuk melakukan pemeriksaan HIV/AIDS.

"Biasanya, pria hanya 20-30 persen dari total peserta. Dominasi pria jarang terjadi, pernah sekali saat RTP di PPSU (Petugas Prasarana dan Sarana Umum) Cilincing, yang memang pekerjanya kebanyak laki-laki," terangnya.

Prosedur pengajuan dokling

Bagi komunitas atau LSM yang ingin melakukan RTP, permohonan tersebut bisa dilakukan secara daring melalui situs resmi dokling.bantuanteknis.org maupun secara konvensional.

Koordinator Layanan HIV dari Klinik ARSA Puskesmas kecamatan Setiabudi, Jakarta Selatan, dr Prisyana Kususmawardhani menjelaskan bahwa permohonan tak berbayar tersebut tidaklah sulit.

"Sekarang, LSM sudah bisa koneksi melalui aplikasi atau web bantuan yang disediakan dinas kesehatan. Bisa juga dengan mengajukan surat ke Puskesmas," ujarnya saat ditemui medcom.id pada Senin, 1 Oktober 2018.

Di Puskesmas kecamatan Setiabudi, program dokling sendiri telah dilakukan sejak 2010 di mana pada 2016 mulai dilakukan secara mandiri.

Syarat utama dari permohonan dokling adalah berada di bawah kawasan puskesmas dengan jumlah peserta minimal 20 orang. Menurut dokter yang biasa dipanggil dr Ina tersebut, mereka cenderung melayani berdasarkan permohonan, bukan inisiatif, karena adanya tanggung jawab untuk tetap melakukan pelayanan di puskesmas.

"Kalau tidak demikian, kami juga kewalahan dengan jumlah pasien umum," ujarnya, yang mengungkapkan bahwa dokling dilakukan setidaknya dua kali dalam sebulan.

Setelah melakukan dokling, pihak puskesmas mengharapkan peserta yang terbukti positif mau melakukan tindak lanjut ke pusat pelayanan.

"Dokling ini bersifat pengenalan layanan, jadi kira berharap pasien mau masuk ke pelayanan supaya penanganan bisa lebih komprehensif."

Meski bertujuan positif, tak jarang peserta tetap enggan melakukan tes setelah mendapat penyuluhan.

"Soalnya mereka merasa tak berisiko, jadi tak mau. Tapi tak sedikit yang tahu berisiko dan ikut tes. Dari 50 orang, sekitar lima orang biasanya menolak karena kepedean atau justru ketakutan," ujar Novi.

Jika peserta terbukti positif pada saat melakukan RTP, pihak pelayanan berharap peserta mau mengakses pelayanan secara mandiri. Selain itu, program ini juga bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam melindungi diri dari penyakit menular seksual.

Di sinilah LSM berperan. Umumnya, peserta yang terbukti positif enggan melakukan pengobatan lanjutan, atau bahkan melakukan tes ulang di puskesmas. Pihak LSM pun akan mencoba menawarkan pendampingan dan memantau bagaimana kelanjutan akses peserta dalam pengobatan.

"Biasanya, mereka mengalami hambatan seperti tidak punya KTP DKI Jakarta atau tak punya ongkos ke Puskesmas, jadi kami jemput bersama kadernya," terang Novi.

Pihak LSM umumnya akan memantau selama satu bulan konsumsi obat-obatan agar peserta bisa terbiasa minum obat Antiretroviral (ARV), obat untuk penyakit tersebut.

"Intinya, kita memberitahu kalau mereka sudah terinfeksi dan memberitahu bagaimana dampak selanjutnya. Kita kasih dukungan dan pendampingan selama konsumsi obat awal. Ketika mereka sudah menerima dan mau minum obat, baru kita lepas."

Tak hanya menyasar populasi kunci, dokling juga ditawarkan pada perusahaan-perusahan umum yang digabungkan dengan pemeriksaan kesehatan lain seperti tekanan darah, gula darah, dan kolesterol.

"Jadi, ini kolaborasi program, yang bisa menyasar ke masyarakat atau pegawai pemerintahan," terang dr Ina yang mengungkapkan bahwa setiap tahun, pemerintahan daerah juga rutin melakukan dokling. 




(DEV)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id