Oleh karena itu, psikolog Vera Itabiliana, P.Si memberikan beberapa tips sederhana agar momen makan bersama di pagi hari bukanlah sesuatu yang mustahil bagi tiap anggota keluarga yang memiiki kesibukan yang berbeda.
"Pertama, buatlah komitmen bersama terlebih dahulu agar bisa tercapai," tukasnya dalam peluncuran kampanye Ayo Bangun Indonesia, Kamis (9/2/2017).
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

(Baca juga: Sereal, Alternatif Sarapan Sehat Si Kecil)
Tips pertama adalah menyiapkan sarapan di malam hari sehingga di pagi hari hanya perlu memanaskan atau menggoreng masakan. Dengan demikian waktu pun menjadi semakin efisien.
Kemudian, buatlah menu sarapan yang praktis dan realistis namun nilai gizi terpenuhi.
"Membuat menu-menu sarapan yang lucu, seperti bentuk kartun, memang susah. Buat yang biasa saja tak apa, nilai gizinya tetap sama," tambahnya. Orangtua pun turun berperan dalam memberi contoh. Ketika orangtua bangun lebih cepat untuk bisa sarapan, maka anak pun akan mengikuti apa yang mereka lihat dan ikut mengikuti aktivitas yang dilakukan bersama orangtua.
Namun, dalam kondisi tertentu, orangtua tak bisa menemani anak sarapan karena beberapa alasan. Menurut Vera, hal tersebut tidak mengurangi ungkapan kasih sayang yang diberikan orangtua pada buah hati.
"Kalau orangtua sudah pergi saat anak sarapan, tidak apa-apa. Yang penting anak sudah sadar bahwa orang tuanya mau menyiapkan sarapan untuknya. Ini adalah bentuk kasih sayang dalam sepiring nasi," tutupnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News(TIN)
