Ilustrasi--Bagi mereka yang mengalami kegagalan dalam hubungan romantis kerap kali merasa pasangan memiliki sisi kepribadian yang sama dengan pasangan sebelumnya--Pexels
Ilustrasi--Bagi mereka yang mengalami kegagalan dalam hubungan romantis kerap kali merasa pasangan memiliki sisi kepribadian yang sama dengan pasangan sebelumnya--Pexels

Riset Temukan Setiap Orang Punya Sisi Romantis

Rona keluarga
Anda Nurlaila • 26 Juni 2019 15:30
Penelitian yang dilakukan psikolog sosial di University of Toronto (U of T) menunjukkan kegagalan dalam hubungan romantis kerap kali merasa pasangan memiliki sisi kepribadian yang sama dengan pasangan sebelumnya. Namun, keinginan tersebut mudah dikatakan tapi lebih sulit dilakukan.
 

Jakarta: Bagi mereka yang mengalami kegagalan dalam hubungan romantis kerap kali merasa pasangan memiliki sisi kepribadian yang sama dengan pasangan sebelumnya. Sehingga mereka memutuskan untuk mencari seseorang yang berbeda dengan "tipe"nya.
 
Namun, penelitian baru yang dilakukan psikolog sosial di University of Toronto (U of T) menunjukkan, keinginan tersebut mudah dikatakan tapi lebih sulit dilakukan. Studi yang diterbitkan Proceedings of the National Academy of Sciences menemukan orang sering mencari cinta dari tipe orang yang sama berulang kali.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Ketika suatu hubungan berakhir, orang-orang mengaitkan perpisahan itu dengan kepribadian mantan pasangan, dan memutuskan perlu tipe orang yang berbeda," kata penulis utama Yoobin Park, seorang mahasiswa PhD di Departemen Psikologi di Fakultas Psikologi. Seni & Sains di U of T seperti dilansir science daily.
 
"Penelitian kami menunjukkan ada kecenderungan kuat untuk tetap berkencan dengan orang yang memiliki kepribadian yang sama dengan mantan pasangan," Park menambahkan.
 
Data diambil dari studi multi-tahun yang sedang berjalan tentang pasangan dan keluarga di beberapa kelompok umur di Jerman. Park dan rekan penulis Greoff MacDonald, seorang profesor di Departemen Psikologi di U of T, membandingkan kepribadian pasangan saat ini dan masa lalu dari 332 peserta. Temuan utama mereka adalah adanya konsistensi signifikan dalam kepribadian pasangan romantis individu.
 
"Efeknya lebih dari sekadar kecenderungan untuk berkencan dengan seseorang yang mirip dengan Anda," kata Park.
Riset Temukan Setiap Orang Punya Sisi Romantis
Ilustrasi--Pexels
 
Peserta dalam penelitian bersama dengan sampel dari pasangan saat ini dan masa lalu, menilai kepribadian mereka sendiri terkait kesesuaian, hati nurani, kepedulian terhadap sekeliling, neurotisme, dan keterbukaan terhadap pengalaman.
 
Survei termasuk identifikasi diri dengan serangkaian pernyataan seperti, "Saya biasanya sederhana dan pendiam," "Saya tertarik pada banyak hal yang berbeda" dan "Saya membuat rencana dan melaksanakannya." Responden diminta untuk menilai ketidaksepakatan atau kesepakatan mereka dengan masing-masing pernyataan pada skala lima poin.
 
Analisis Park dan MacDonald tentang respons menunjukkan bahwa secara keseluruhan, mitra individu saat ini menggambarkan diri mereka dengan cara yang mirip dengan mitra masa lalu. "Tingkat konsistensi dari satu hubungan ke yang berikutnya menunjukkan bahwa orang mungkin memang memiliki 'tipe'," kata MacDonald.
 
Walaupun data tidak menunjukkan mengapa pasangan saat ini dan di masa lalu memiliki kepribadian yang sama, periset menemukan adanya kesamaan dengan seorang individu.
 
Para peneliti mengatakan temuan ini menawarkan cara untuk menjaga hubungan tetap sehat dan pasangan bahagia. "Dalam setiap hubungan, setiap orang belajar untuk memahami kepribadian pasangannya," kata Park.
 
"Jika kepribadian pasangan baru mirip dengan kepribadian mantan pasangan Anda, transfer keterampilan yang Anda pelajari mungkin cara efektif memulai hubungan baru dengan pijakan yang baik."
 
Di sisi lain, Park mengatakan bahwa strategi orang mengelola kepribadian pasangan juga bisa negatif.  Sehingga perlu lebih banyak penelitian untuk menentukan seberapa banyak pertemuan seseorang yang mirip dengan mantan pasangan yang menjadi nilai tambah, dan seberapa besar merugikan jika beralih ke hubungan baru.
 
"Jika memiliki masalah yang sama dalam hubungan yang baru, Anda mungkin berpikir ke arah sifat kepribadian pasangan yang berkontribusi pada konsistensi dalam masalah kalian."
 
Data untuk penelitian ini berasal dari studi Panel Keluarga Jerman yang diluncurkan pada 2008. Sebuah studi longitudinal yang sedang berlangsung tentang pasangan dan dinamika keluarga dengan sampel remaja, dewasa muda, dan individu paruh baya yang representatif secara nasional di Jerman.
 

 

(YDH)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif