etapkan batasan apa yang harus dilakukan Anda dan pasangan terkait denga ibu mertua. (Foto: Pexels.com)
etapkan batasan apa yang harus dilakukan Anda dan pasangan terkait denga ibu mertua. (Foto: Pexels.com)

Empat Cara Atasi Suami Tipe 'Anak Mama'

Rona keluarga
Anda Nurlaila • 26 Februari 2019 15:51
Jika pasangan Anda merupakan tipe "anak mama" ada baiknya Anda tak hidup serumah dengan sang mertua. Tetapkan batasan apa yang harus dilakukan dan komunikasikan jalan yang terbaik tanpa harus memihak salah satu sisi.
 

Jakarta:
Menikah dengan pria yang sangat dekat dengan ibunya atau sering disebut anak mama tidak selalu buruk. Seorang pria yang dekat dengan ibunya cenderung lebih perhatian kepada pasangan. 
 
Namun tak jarang karakter anak mama memengaruhi hubungan dengan pasangan. Sebab, dalam banyak hal suami terlalu tergantung pada ibunya termasuk dalam hal-hal yang menyangkut rumah tangga anak.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dikutip dari Verywellmind, ada empat cara menghadapi suami yang terlalu mengandalkan ibunya:
 
1. Jangan menyerah pada tuntutannya
 
Sebelum menikah suami mungkin terbiasa dengan ibu yang selalu melayani semua kebutuhan dan keinginannya. Tetapi tidak berarti Anda harus melakukan hal serupa. 
 
Tetapkan batasan dan biarkan dia tahu Anda tidak akan berperilaku seperti ibunya. Dia bisa bertingkah semaunya saat bersama ibunya, tapi saat bersama pasangan dia harus berperan sebagai pria yang menjaga diri sendiri. 
 
(Baca juga: Psikologi Anak Mami, Baik atau Buruk?)
 
Empat Cara Atasi Suami Tipe 'Anak Mama'
(Jika pasangan Anda merupakan tipe "anak mama" ada baiknya Anda tak hidup serumah dengan sang mertua. Foto: Pexel.com)
 
2. Jangan hidup serumah dengan ibunya 
 
Jika pasangan tipe anak mama, ide hidup bersama dengan ibu pasangan sebuah ide buruk. Pasangan akan cenderung selalu memihak ibunya untuk menjaga perasaannya. 
 
Bahkan, di saat Anda berselisih dengan mertua, kemungkinan besar ia akan selalu membela ibunya tanpa memahami persoalan. Menjaga jarak dengan mertua atau ibu pasangan namun tetap berkunjung rutin akan menghindarkan rumah tangga dari potensi masalah. 
 
3. Hindari berkonfrontasi dengan ibunya
 
Saat ada masalah dengan mertua, hindari konfrontasi langsung. Sebaliknya berbicaralah dengan suami. Ungkapkan perasaan tanpa kemarahan mengenai topik sensitif. Misalnya, Anda cemburu dan ingin lebih banyak waktu sendirian dengan pasangan. 
 
Ingatkan bahwa Anda menyukai mertua dan ingin berkunjung satu atau dua kali dalam sebulan. Tetapi ibu suami juga tidak boleh menjadi pusat kehidupan setelah kalian menikah, meskipun dengan alasan kesepian sehingga ingin selalu bersama anaknya. 
 
4. Jangan biarkan ibunya membuat pilihan hidup kalian
 
Semua orang tua menginginkan yang terbaik untuk anaknya, namun membuat pilihan untuk anak yang telah menikah bukan tanggung jawab orang tua. Sebelum menikah, ibu suami mungkin memilihkan makanan, pakaian, hingga karier pasangan. 
 
Atau suami terbiasa membuat keputusan meminta pendapat ibunya, bahkan dalam urusan keuangan, jalur karier, pengasuhan anak bahkan liburan keluarga. 
 
Jika berlarut-larut, hal ini dapat menjadi masalah dalam pernikahan. Komunikasikan bahwa jika ada masalah rumah tangga termasuk keputusan yang hanya perlu disepakati pasangan, tanpa campur tangan ibunya. Cukup Anda dan suami saja.
 
Dalam beberapa kasus, bantuan profesional mungkin diperlukan untuk mengurangi ketergantungan suami pada ibunya.
 
Jika Anda ingin mengonsultasikan permasalahan Anda dan keluarga, bisa mengunjungi Klinik Terpadu, Universitas Indonesia, Rumah Konseling, Tangerang atau Klinik Psikologi di Rumah Sakit Royal Taruma, Jakarta.
 

 
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

(TIN)


social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif