Seorang psikolog asal Florida State University menemukan bahwa istri cenderung merasakan kepuasan pernikahan selama ovulasi ketika suami mereka terlihat maskulin.
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
Studi yang dipublikasikan dalam Evolutionary Behavioral Sciences tersebut mencatat bahwa wanita mengalami pergeseran ovulasi berdasarkan preferensi pasangan mereka selama hubungan jangka panjang.
Dengan kata lain, kesuburan wanita dan maskulinitas pasangannya mempengaruhi kepuasan pernikahan.
Semakin dominan, berkuasa, maskulin, dan asertif seorang pria saat masa ovulasi wanita (yang berada di tangah siklus menstruasi); maka wanita semakin senang dengan hubungan tersebut.
(Baca juga: 7 Cara Merawat Pernikahan agar Bahagia)
"Studi ini menunjukkan bahwa istri yang memiliki suami yang maskulin cenderung lebih merasakan kepuasan dalam pernikahan saat mendekati masa ovulasi dibandingkan masa lain," tukas pemimpin studi Andrea L. Meltzer pada PsyPost. Meltzer menanyai 70 pasangan suami-istri yang pertama kali menikah untuk melengkapi sebuah survei setiap malam hari selama 14 hari. Survei tersebut mengevaluasi risiko konsepsi para istri dan kepuasan pernikahan mereka setiap hari, sementara para suami menjawab bagaimana kemaskulinan yang mereka rasakan.
"Hasilnya, maskulinitas pria memberi manfaat pada wanita dalam konteks hubungan jangka panjang," simpulnya.
Wanita yang memiliki suami dengan perilaku maskulin lebih tinggi cenderung dapat memuaskan hubungan selama ovulasi.
Sementara wanita yang tidak dalam kelompok tersebut tak merasakan peningkatan kepuasan tersebut. Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa preferensi wanita lebih mengarah pada perilaku daripada tampang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News(TIN)
