Pertama, jangan hanya fokus pada ritual, tetapi juga makna sesungguhnya, yaitu berkomunikasi dengan Tuhan.
"Terkadang anak hanya diajarkan untuk menghapal doa atau ritual beribadah sehingga esensi yang terpenting, yaitu berkomunikasi dengan Tuhan tak ditangkap oleh anak," ujarnya dalam edukasi kesehatan di Jakarta, Kamis (8/9/2016).
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
Kedua, pendekatan seputar agama juga memberi pengaruh pada anak. Beberapa orang tua mengajarkan agama dengan menakuti anak-anak. Misalnya, siapa tak ibadah akan masuk neraka.
"Seharusnya anak beribadah karena mereka paham dengan agama mereka dan cinta pada Penciptanya, bukan karena takut," terangnya.
(Baca: Ini yang Dirasakan Anak saat Orang Tua Bercerai)
Jika pun berhasil, metode tersebut biasanya tak akan berlanjut hingga dewasa.
Terakhir, berdiskusilah dengan anak. Masih banyak orang tua mengabaikan pertanyaan anak, karena beranggapan melakukan ibadah menjadi hal yang tak perlu lagi dipertanyakan.
Najeela sendiri menyayangkan banyak orang tua di Indonesia yang tidak senang anaknya memiliki sifat kritis, terutama jika banyak bertanya tentang agama.
"Padahal anak zaman sekarang kan kritis, banyak pertanyaan. Kalau dilarang bertanya, bagaimana bisa menumbuhkan minat mereka pada agama?" kata dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News(DEV)
