Kisah hidup pria asal Surabaya, Indonesia Sugeng Rido Nanang Hudi Nusantara yang sukses menjadi pilot di Etihad Airways di Abu Dhabi. (Foto: Dok. Nanang Rido)
Kisah hidup pria asal Surabaya, Indonesia Sugeng Rido Nanang Hudi Nusantara yang sukses menjadi pilot di Etihad Airways di Abu Dhabi. (Foto: Dok. Nanang Rido)

Jalan Langit Surabaya-Abu Dhabi

Rona kisah
Kumara Anggita • 25 Januari 2019 17:45
Jakarta: "Good morning ladies and gentleman. I am captain Nanang Rido. Flying times eight hours and 40 minutes non-stop service now to Jakarta, our hometown from Abu Dhabi. Sky condition upon arrival should be relatively clear. There's a broken cloud but excellent visibility. On behalf of the entire Etihad crew, welcome," sapa Nanang Rido, lelaki asal Surabaya di kabin kokpit Etihad Airways.
 
Sebuah perusahaan penerbangan bergengsi di Abu Dhabi yang didirikan oleh Yang Mulia Sheikh Khalifa bin Zayed bin Sultan Al Nahyan, pimpinan Kerajaan UAE di Abu Dhabi sejak kurang lebih 15 tahun yang lalu.
 
Seraya semua kru siap, ia menambahkan, "Etihad for runway three to ride clear to take off. Ok gentlemen, take off." Pengumuman panjang itu hampir setiap hari dilakukan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Duduk dalam kabin yang kecil dengan ratusan tombol yang kompleks, ia siap menjalankan tugasnya sebagai pilot. Mengantarkan ratusan orang melintasi langit menuju ke berbagai belahan dunia.
 

(Etihad Airways, tempat Rido berkantor setiap hari. Foto: Dok. Nanang Rido)
 

Dari keluarga yang sederhana


Dari mana kita lahir tak pernah bisa meminta. Namun kehidupan harus disikapi dengan perjuangan, walau dari awal yang sangat sederhana.
 
Siapa yang bisa menyangka, awal kehidupan yang sederhana di Kota Surabaya, tidak menghentikan pemilik nama panjang Sugeng Rido Nanang Hudi Nusantara (Pilot Etihad Airways asal Indonesia) untuk mencapai cita-citanya menjadi seorang pilot.
 
Dari usia muda, Rido sudah merancang jalannya sedemikian rupa agar bisa menjadi bagian dari tiga maskapai internasional (Etihad Airways, Emirates Airlines, atau Qatar Airways). Baginya, tak ada yang tidak bisa dilakukan. Asal kuat berkemauan.
 
Bapak dari tiga anak ini telah mengelilingi dunia, berteman dengan orang dari seluruh penjuru negara, melihat fenomena alam yang tidak biasa. Sesuatu yang diinginkan banyak orang. Namun, untuk sampai di sana, ia melewati banyak hal.
 
Kepercayaan, pengorbanan, ketekunan, kesabaran menjadi teman baik dalam perjalanannya merintis karier impian. Sambil menyusuri jalanan, Rido dengan pembawaan yang santai dan senyumnya yang ramah, menceritakan perjalanan kehidupannya.
 

(Baca juga: Kisah Jatuh Bangun 'Kartini' Penerbang)
 


(Rido bersama dengan kru Etihad Airways yang berasal dari berbagai belahan dunia. Foto: Dok. Nanang Rido)
 

Sosok yang visual


Rido datang dari keluarga yang sederhana dan tidak pernah mau menyusahkan orang tuanya. Yang jelas di benaknya, dia mau memiliki masa depan yang cerah dengan menyesuaikan dengan keadaan.
 
Sebelum bercita-cita menjadi pilot di maskapai besar, ia ingin menjadi AKABRI atau pilot di Curug. Oleh karena itu, dia selalu menjaga tubuhnya serta akademiknya.
 
Walaupun semua usaha telah dilakukan, Rido tetap memiliki plan B jika tidak diterima di AKABRI atau tidak bisa menjadi pilot. Dia berencana untuk berkuliah seperti teman-temannya lainnya di kampus atau institusi pemerintah yang gratis.
 
“Seandainya saya tidak diterima, saya persiapkan diri di sekolah-sekolah gratis seperti Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN), Telkom, Institut Teknologi Bandung (ITB)," ucap pilot yang belum lama menerima penghargaan "Completing 10 years of Dedicated Service" pada 14 September 2018 lalu dari Etihad Airways.
 
Hal ini dipikirkannya karena dia peduli dengan kondisi keluarganya yang sederhana. Rido tidak mau menyulitkan keluarga.
 
(Salah satu pemandangan harmonis dari keluarga sederhana Nanang Rido. "Mbah kiri, bapak kanan," tulisnya dalam caption foto di Facebooknya. Foto: Dok. Nanang Rido)
 
“Saya kan dari keluarga sederhana, tidak mungkin kuliah. Paling kuliah sambil kerja karena kan duitnya tidak ada, adik saya juga tiga-tiganya kuliah di Universitas Indonesia (UI) cari dana sendiri. Pokoknya saya mau sekolah gratis dari pemerintah,” tuturnya.
 
Untungnya, kehidupan yang baik berpihak padanya. Rido dengan segala kerja keras dan doanya, mendapat kesempatan untuk belajar di sekolah penerbangan.
 

Memulai menjadi pilot


Di balik profesi “pilot” yang terdengar begitu menarik, ternyata ada banyak persyaratan dan tuntutan yang diberikan oleh pihak penerbangan.
 
Persayaratan dimulai dari badan sehat luar dalam, mata tidak boleh rabun, gigi yang sempurna hingga kemampuan akademik yang baik. Ia telah mempersiapkannya dari awal dengan selalu menjaga tubuhnya dengan berolahraga dan makan makanan yang sehat.
 
Rido juga menjaga nilainya agar tetap bagus sesuai dengan standar yang diberikan, khususnya untuk pelajaran Ilmu Pengetahun Alam, dan Bahasa inggris.
 
Semua persyaratan telah dipegang. Alhasil, dia mampu mengalahkan ribuan pendaftar lain yang mengincar kursi yang sama.
 

(Foto kenangan Rido saat zaman dulu mengawali karier sebagai pilot. Foto: Dok. Nanang Rido)
 
“Dari seribuan pendaftar melalui berbagai tes, yang diterima empat dan dites bakat terbang, yang lulus hanya saya sendiri,” ujar Rido pada Medcom.id, di Jakarta, Jumat, 25 Januari 2019.
 
Rido kemudian dibawa ke Curug untuk menggali ilmu di sekolah pilot selama tiga tahun. Setelah lulus, dia mendapat ijazah Comercial Pilot License (CPL), kemudian ditempatkan di maskapai Garuda.
 
Rido bekerja di maskapai Garuda selama 17 tahun. Pada awalnya semua berjalan dengan baik-baik saja. Namun, tahun 1998, ekonomi Indonesia dalam keadaan begitu buruk, di waktu itulah ia harus berpikir keras untuk mempertahankan kariernya.
 
“Ekonomi sangat sulit di Indonesia tahun 98, ambruk tuh, banyak pilot Curug yang tidak dapat pekerjaan, saya di Garuda masa depan mandek. Kenaikan pangkat juga sangat lambat,” kenang Rido mengingat masa itu.
 
Ia kemudian pindah ke Malaysia dan bergabung dengan maskapai AirAsia. Setelah Beberapa tahun bekerja di sana, nasib baik datang padanya.
 
“AirAsia waktu itu membutuhkan saya menjadi kapten Airbus 320, tapi masuknya awal jadi kapten Boeing 737 dulu. Sebentar saya jadi kapten Airbus 320. setelah saya tiga setengah tahun di AirAsia, saya bertemu dengan teman-teman saya,” tuturnya.
 
Melalui teman-temannya, dia mendapat informasi seputar tiga airplane besar Timur Tengah itu.
 
Dia pula mendapat tutor agar bisa mendapatkan posisi di airplane tersebut. Dengan kepercayaan, ketekunan, kesabaran yang dimilikinya, dia mampu melewati segala rintangan yang tidak disangkanya bisa dilewati.
 
“Tesnya sangat susah. Yang paling berat tes psikologi dan tes bahasa inggris, level 4 ke atas. Jadi banyak yang tidak lulus. Saya lulus di Etihad Airways,” tuturnya.
 
Kini ia telah bekerja di luar Indonesia selama 14 tahun. Empat tahun dimulainya di Malaysia, dan 10 tahun di Abu Dhabi untuk Etihad Airways.


Level stres seorang pilot


Semua memang ada harganya. Menjadi pilot tidak hanya sulit di awal masuknya. Setiap kali penerbangan stress level yang dimiliki seorang pilot begitu besar. Mereka harus memiliki tubuh dan mental yang selalu kuat.

Ia terus dievaluasi, jam tidurnya tidak sama seperti orang lain, dan harus tabah melihat cuaca dan kondisi pesawat yang tidak baik. Hal-hal tersebut bisa membuat para pilot mengalami stres.
 
“Kami terus belajar. Setiap enam bulan kita dites terbang, kesehatan, knowledge. Kita penuh dengan tes, harus sering baca buku, schedule kita berat, terbang tengah malam, dini hari," ujar penyuka teh asli Indonesia ini.
 
"Orang lain lagi tidur kita berangkat. Persiapannya itu sebelum terbang orang enggak tahu. Tantangannya kayak cuaca yang sangat buruk atau masalah dengan pesawat sendiri. Dan kita harus siap menghadapi itu. Kita juga harus bisa mengatasi itu,” tutur pribadi yang ramah dan murah senyum ini.
 
Dalam keadaan tertekan, ia mengakalinya dengan berolahraga dan berkumpul dengan keluarga tercinta. Segala stres seakan hilang tiap kali bertemu dengan anaknya.
 
Lapangan olahraga dipenuhi tawa dan juga keringat kala Rido bermain basket atau tenis. Ia bersama istri dan anak-anaknya larut dalam kebahagiaan sederhana sesaat.
 
“Saya maniak olahraga, ya basket, tenis, badminton. Kita nyocokin hobi aja, kebetulan istri juga suka olahraga, anak juga gila olahraga,” akunya lagi. Jadi, baginya mengeluarkan stres dengan berolahraga bisa jadi salah satu andalan dalam menghadapai aneka rasa dari pekerjaan.
 

Keindahan dunia yang tak terlupakan


Duduk di antara langit dan awan adalah kantornya. Pemandangan gunung-gunung tinggi menyebar tak menentu membentuk pola tak terjelaskan. Pemandangan tak pernah sama.
 
Satu kali hamparan putih yang diselimuti oleh salju berada di depan matanya. Ia tidak bisa membedakan apakah ini adalah mimpi atau realitas sesaat.
 
Ternyata, Rido berada di atas Iran pada waktu itu. Hal serupa juga biasa dia temukan di daerah Turki. Baginya dua tempat itu memiliki dataran tinggi terindah yang pernah dia lihat. Keajaiban Tuhan yang jauh dari atas tanah.
 
“Seperti mimpi di dalam dunia kala melihat gunung-gunung yang tinggi itu. Menurut saya, salah satu yang paling indah adalah dua itu (Turki dan Iran) selain Kathmandu dan Himalaya,” tuturnya.
 
Bulan dan bintang pun seringkali menjadi teman dalam perjalanan Rido.
 
Dia berada begitu dekat dengan bulan saat bulan purnama. Sebuah keindahan yang membuat Rido terdiam. Seraya merasuk dari mata hingga ke bagian dalam tubuhnya. Terbius.
 
Kejadian unik dan indah pun pernah ia lalui. “Seperti kalau bulan purnama, bulannya sangat dekat dengan kita, jadi bulannya besar banget, apalagi kalau dia baru keluar dari (arah) barat atau selatan. Seakan-akan dia adalah matahari yang keluar dari barat,” papar lelaki yang rendah hati ini.
 
Begitu juga dengan fenomena bintang jatuh. Tetiba bintang melewatinya dengan sinar yang menghipnotisnya.
 
Shooting star, kita bisa lihat dua hingga tiga sekaligus atau satu tapi panjangan banget, indah banget, kadang terasa sangat dekat dengan pesawat kita,” kenangnya lagi.
 

(Nanang dan keluarga menghabiskan waktu bersama. Foto: Dok. Nanang Rido)
 

Makanan Indonesia, membawa kenangan pada masa kecil

 

Rido selalu membawa salah satu merek teh kemasan asal Indonesia kemanapun dia berada. Rasa pahit, manis, dingin menyatu di mulut Rido dalam sebuah teh asal Indonesia.
 
Kalau yang ini ia tak pernah mau dan bisa move on. Kenikmatan rasa khas Indonesia. Mengingatkan memori indah saat masa kecilnya.
 
Tujuannya untuk membawa suasana Indonesia yang menyenangkan ke realitasnya. Mungkin terdengar aneh bahkan lucu. Namun ia selalu memuja Indonesia.
 
“Saya selalu bawa teh ini ke mana-mana, ke seluruh dunia. Kebetulan di Amerika, Abu Dhabi, Dubai, Doha ada juga,” tukasnya sambil tertawa.
 
Teh ini selalu ada di kantongnya. Tiap kali teman-temannya minum alkohol, Rido tanpa malu-malu mengeluarkan teh ini dan menambahkannya dengan es, seakan sama seperti minuman keras lainnya.
 
“Lingkungan saya kan orang Western, rata-rata habis terbang minum beer, Champagne, atau Corona. Saya minum apa?" sejurus jitu sambil tersenyum.
 
"Saya kan enggak minum (minuman keras/alkohol), saya keluarin deh (minuman itu) dari saku saya, taruh di meja. Yang lain minum beer, saya minum ini. Saya minta es saya masukin gelas, kan sama warnanya kaya warna beer," tawanya pecah.
 
"Jadi seakan-anak saya minum yang sama,” sambung tawanya lagi.
 

(Salah satu putra Rido yang mengikuti jejaknya sebagai pilot. Foto: Dok. Nanang Rido)
 

Anak mengikuti jejak sang ayah


Walaupun profesi pilot tidaklah mudah, dua anak Rido tetap mengikuti jejak Ayahnya. “Anak pertama saya sekarang di Airbus 330 White Body di AirAsia X yang base-nya di Bali. Umurnya 23 tahun,” papar Rido.
 
Pada awalnya, pilot bukanlah cita-cita yang ingin dikejar oleh anak pertamanya. Namun bagi anaknya, profesi pilot nyaman dan menjanjikan. Oleh karena itu, jika modal sudah terkumpul, anaknya baru kembali mengejar cita-citanya sebagai bussines man.
 
Ditambah, anak pertamanya mendapat kesempatan disekolahkan oleh AirAsia, sehingga dia bisa langsung bekerja.
 
“Anak saya pertama tidak bercita-cita sebagai pilot tapi bussines man mau kuliah di Canada atau Amerika," ujar penyuka berbagai masakan tradisional Indonesia ini.
 
"Suatu hari saya terbang bersama orang Amerika. Mereka sudah S2 S3 tidak dapat job karena pada tahun 2008-an, secara umum sedang global economy crisis,” tuturnya.
 
“Jadi pilot dulu nanti kalau sudah punya uang baru running bussines online,” sambung Rido.
 
Sementara itu, anak terakhir Rido dari awal memang sudah mengincar menjadi pilot. Saat ini, dia sedang sekolah pilot di Amerika.
 

Ingin menjadi pengajar


Setelah menjadi pilot, Rido berencana untuk mengajar generasi-generasi muda di sekolah penerbangan. Hal ini ia lakukan agar terhindar dari post power syndrome.
 
“Saya sekarang sudah mulai mengajar di sekolah penerbangan. Nanti, saya coba umur 60 separuh ngajar separuh terbang,” planning Nanang.
 
Baginya, mengajar tidak mengenal umur. Selain itu, dia pula dapat terus bermanfaat bagi lingkungannya.
 
Rido ingin di masa tuanya, dia tetap bisa aktif melakukan hal-hal positif, termasuk menjalin silaturahmi dengan kerabat-kerabatnya.
 


(Rido selalu enjoy dalam bekerja dengan pilot asal negara mana pun. Foto: Dok. Nanang Rido)
 

Tips meraih cita-cita di negeri orang


Di luar sana, banyak orang dari berbagai kalangan dengan kualitas yang luar biasa. Rido kemudian berefleksi dengan situasi ini.
 
Belajar lebih banyak dibanding yang lain, ucapnya dengan tenang. “Jika mereka belajar dua jam saya empat jam. Jadi persiapan kita harus lebih bagus dari kompetitor,” tuturnya.
 
Namun, di balik usaha dengan tangan sendiri, ia percaya bahwa semua yang terjadi pada manusia terjadi karena takdir Tuhan.
 
Dia selalu mengajarkan anak-anaknya untuk tetap membantu sesama dalam hal apapun termasuk di bidang karier.
 
“Hidup itu bersaing, tapi jangan takut akan rezeki Tuhan, kalau kita punya tips (bocoran) kita bagi ke orang lain. Karena rezeki ada yang mengatur,” tuturnya.
 
“Ketika di Etihad, saya dapat bocoran dari teman saya. Belajar ini dan itu sehingga saya bisa mempersiapkan diri dari yang lain. Coba kalau saya enggak tahu info tersebut. Karena kita menolong orang lain, orang lain menolong kita. Jangan takut untuk kehilangan,” tutup Rido.
 


 

(TIN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi