Sangat sedikit orang yang mengetahui bahwa tangisan adalah ekspresi rasa sakit. (Ilustrasi/Pexels)
Sangat sedikit orang yang mengetahui bahwa tangisan adalah ekspresi rasa sakit. (Ilustrasi/Pexels)

Emosi di Balik Amarah Orang Dewasa

Rona psikologi
Anda Nurlaila • 09 Januari 2020 11:04
Jakarta: Anak-anak mengekpresikan luka emosional akibat penolakan, kritikan atau disalahpahami orang lain dengan menangis atau marah. Orang dewasa juga mengalami hal yang sama.  
 
Tapi sangat sedikit orang yang mengetahui bahwa tangisan adalah ekspresi rasa sakit. Kemarahan adalah reaksi terhadap ancaman, penghinaan, atau ketidakadilan yang dirasakan sekaligus upaya putus asa menutupi rasa sakit.
 
Seperti dimuat dalam Psychology Today, terapis Leon F Seltzer mengatakan anak-anak belum memiliki kemampuan memadai mengatasi rasa sakit psikologis yang mereka alami secara efektif. Selain kapasitas pemahaman emosi terbatas, anak juga sulit mengungkapnya. Mereka terdorong untuk mengeluarkannya dalam bentuk tangisan, merengek, menjerit dan berteriak.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Namun, orang dewasa biasanya belajar menahan diri agar tidak menunjukkan emosi. Saat merasa terancam secara emosi terutama oleh seseorang yang dekat seperti pasangan, seseorang akan berperilaku, seperti anak namun dengan cara lebih canggih.
 
Hampir tidak berbeda dengan anak, orang dewasa akan menarik diri, membela diri, merajuk dan menyalahkan dan marah dengan meninggikan suara.
 
"Tanpa disadari, kebanyakan dari kita menemukan pertahanan paling kuat adalah pelanggaran. Konsekuensinya, ketika kita merasa ditolak atau dituduh, kita cenderung menghindari ketakutan, rasa tidak aman, dan keraguan diri yang tersembunyi dengan mengembalikannya pada lawan bicara," kata Seltzer.  Itulah alasannya banyak orang dewasa yang marah ketika pasangan mulai membuat kita mempertanyakan diri kita sendiri.
 
Jadi, saat mengalami rasa sakit emosional,  reaksi diri sendiri seringkali mendorong kita merespons orang lain yang menyakiti dengan cara yang merusak hubungan. Singkatnya, reaksi yang muncul saat ini hanyalah kebutuhan untuk menyakiti orang lain.
 
Saat ini kebanyakan orang tidak mampu melihat pemahaman dari sudut pandang orang lain. "Kita menganggap mereka sengaja bermaksud menyakiti. Jadi saat terluka, upaya yang dilakukan adalah melawan untuk melindungi diri dari rasa sakit tambahan yang mungkin mereka timbulkan. Tidak ada penyesalan persis seperti yang dilakukan anak saat marah," kata Seltzer.
 
Saat seorang merasa diserang secara verbal atau fisik, ia mengalami tekanan emosi akibat perasaan terabaikan, diremehkan, tidak dipercaya, bersalah, ditolak, atau tidak dicintai. Namun dari semua reaksi tersebut, emosi terdalam terkait kelangsungan hidup adalah perasaan tidak berdaya. Karena ketika seseorang mengatakan atau melakukan sesuatu yang menyakiti perasaan kita, akan membangkitkan ketakutan kuno akan ketidakberdayaan dan keputusasaan.
 
Solusi 
 
Kemarahan defensif, baik pada anak atau orang dewasa memang membantu membuat Anda merasa memegang kendali. Tapi ini tidak mengurangi konflik dan justru memperparahnya.
 
Ada solusi yang dapat Anda lakukan untuk mengungkapkan perasaan saat merasa sakit emosional. Yang pertama adalah kesadaran bahwa amarah adalah cara melindungi diri dari kerentanan akan emosi seperti ketakutan, kesedihan dan ketidakberdayaan.
 
Intinya, masalah yang menyakitkan dan kecemasan akan memunculkan kemarahan. Kecuali jika Anda dapat secara akurat mengidentifikasi dan mengatasinya, provokasi perasaan dapat memaksa Anda kembali marah dan menjadikannya kebiasaan. Penyelesaiannya adalah berbagi dengan orang yang melukai perasaan Anda sehingga memicu kemarahan tersebut.
 
Jelaskan bahwa tindakan dan kata-kata mereka membangkitkan rasa tidak aman lama di dalam diri Anda. Alasan mengakui hal ini bisa sangat sulit karena Anda harus mengakui kerentanan Anda dalam hubungan. Namun karena pengakuan cenderung meningkatkan kerentanan, diperlukan ego yang sangat kuat untuk melakukannya.
 
Di sisi lain, jika Anda adalah penerima letusan emosi, pendekatan Anda akan sama sulitnya. Ungkapkan kerentanan Anda dan mengaku "salah" bahwa mempermalukan atau menyalahkan mereka juga menyakiti Anda.
 
Jika Anda cukup empatik dan peduli bahwa Anda menyakiti mereka, kasih sayang tulus dalam menjadi kekuatan penyembuh. Bila dilakukan secara konsisten, Anda dan pasangan dapat menyembuhkan luka emosional dari masa lalu.
 

 

(YDH)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif