Ilustrasi-Pexels
Ilustrasi-Pexels

Mengenal Gangguan Depresi Persisten

Rona depresi
Sunnaholomi Halakrispen • 06 Februari 2020 09:16
Jakarta: Ketika Anda memikirkan gangguan mood, kemungkinan besar yang terlintas dalam pikiran adalah depresi dan gangguan bipolar. Depresi dan gangguan bipolar dapat melumpuhkan emosional, membuat orang tersebut sulit untuk menjalani kehidupan sepenuhnya.
 
Dilansir dari WebMD, Persistent Depressive Disorder (PDD) atau gangguan depresi persisten merupakan bentuk depresi yang tidak terlalu parah. Meskipun kurang ekstrim, PDD menyebabkan kemurungan kronis atau jangka panjang yang berkisar pada tingkat keparahan.
 
PDD dapat terjadi sendiri atau dengan gangguan kejiwaan atau suasana hati lainnya. Seperti halnya depresi, PDD lebih sering terjadi pada wanita daripada pria.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Gangguan suasana hati ini cenderung muncul lebih awal daripada depresi berat, meskipun dapat mulai kapan saja dari masa kanak-kanak hingga kemudian dalam kehidupan dewasa.
 
Penyebabnya tidak dipahami dengan baik. Kombinasi beberapa faktor kemungkinan berkonspirasi untuk menciptakan gangguan mood ini. Faktor-faktor tersebut di antaranya, faktor genetika, abnormalitas dalam fungsi sirkuit otak melibatkan proses emosional, stres kronis atau penyakit medis, ataupun isolasi.
 
Selain itu, bisa juga disebabkan oleh masalah yang buruk disesuaikan dengan tekanan hidup. Faktor-faktor tersebut dapat saling mendukung satu sama lain. Gangguan mood kronis dapat membuat Anda peka terhadap stres, lebih lanjut menambah risiko Anda untuk depresi.
 
Gejala gangguan depresi persisten ialah mood rendah kronis, perasaan putus asa atau tidak berdaya, sulit tidur atau kantuk di siang hari, nafsu makan yang buruk atau makan terlalu banyak. Kemudian, konsentrasi yang buruk, kelelahan atau energi rendah.
 
Gejala lainnya, tingkat percaya diri yang rendah, kesulitan berkonsentrasi atau membuat keputusan. Diagnosis PDD pada orang dewasa membutuhkan setidaknya dua tahun riwayat suasana hati yang tertekan hampir sepanjang hari. Setidaknya, mengacu kepada dua gejala yang telah disebutkan.
 
Meskipun beberapa gejala mungkin tumpang tindih, Anda mungkin kurang cenderung mengalami perubahan berat badan atau tidur dengan PDD dibandingkan dengan depresi. Anda mungkin juga cenderung menarik diri lebih banyak serta memiliki perasaan pesimisme dan ketidakcukupan yang lebih kuat dibandingkan dengan depresi berat.
 

(FIR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif