Perbedaan Baby Blues dan Depresi Postpartum
Perbedaan Baby Blues dan Depresi Postpartum (Foto: shutterstock)
Jakarta: Perasaan baby blues yang umumnya dialami ibu yang baru melahirkan dapat menyebabkan depresi postpartum (DPP). Keduanya adalah hal yang berbeda.

Baby blues adalah fenomena umum yang terjadi pada 50-80 persen wanita. Umumnya hal itu terjadi setelah mengalami hari ketiga hingga kelima postpartum, yang memuncak secara spontan hingga minggu kedua setelah melahirkan.

Sayangnya depresi postpartum dapat bertahan lebih lama dan memengaruhi kesejahteraan ibu dan anak.


Meskipun wajar terjadi, tak banyak yang memerhatikan hal gangguan tersebut sehingga tak ada penanganan yang tepat, bahkan tak diobati. Postpartum yang tak ditangani dapat berpengaruh negatif pada ikatan ibu dan anak. Bagaimana bisa demikian?

"Pada anak, depresi tersebut dapat meningkatkan risiko keterlambatan dalam perkembangan kognitif, emosional, dan sosial," ujar Akanksha Pandey psikolog klinis dari Fortis Hospital, India.

Ia melanjutkan, PDD dapat menyebabkan munculnya masalah perilaku seperti kesulitan tidur dan makan, tantrum, gangguan hiperaktif (ADHD) dan suka mencari perhatian pada anak. Hal ini terjadi karena terdapat penurunan interaksi antara ibu dan bayi yang merusak berbagai perkembangan tersebut.

Sekitar 20-25 persen wanita mengalami gejala baby blues berat dimana dapat berlangsung selama lebih dari dua minggu setelah melahirkan. Kondisi tersebut disebut depresi postpartum (DPP) dan bisa berkembang menjadi depresi mayor jika berlangsung lebih dari empat minggu.

Beberapa gejalanya adalah suasana hati depresi, sering menangis meratapi, merasa bersalah, lekas marah, tak mampu menguasai diri, pusing tak bisa, kurang bersemangat melakukan hobi, penurunan gairah seks, kesulitan tidur dan hilang nafsu makan.

Berbagai hal tersebut membuat ibu sulit berkonsentrasi pada dirinya sendiri dan si kecil sehingga memengaruhi keterikatan antara keduanya.

"Hal itu juga dapat membuat anak mengalami gejala awal gangguan depresi, termasuk memengaruhi ketergantungan anak pada ibu yang penting untuk perkembangan anak dan ikatan emosional yang dalam dengan ibunya."

Sementara, untuk ibu, hal tersebut menaikkan risiko komplikasi lanjutan, tendensi membahayakan diri sendiri, mudah marah pada anak, berkeinginan bunuh diri, dan gangguan fisik karena kurang tidur dan nafsu makan.

Inilah mengapa penting bagi pengasih untuk mengerti gejala depresi postpartum dan membantu ibu mendapatkan pengobatan yang tepat untuk meningkatkan ikatan ibu dan anak.

 



(ELG)

metro tv
  • Opsi Opsi
  • kick andy Kick Andy
  • economic challenges Economic Challenges
  • 360 360

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id