Ilustrasi--Pexels
Ilustrasi--Pexels

Dampak Buruk Trauma pada Anak

Rona psikologi anak psikologi
Sunnaholomi Halakrispen • 13 Agustus 2019 17:09
Pertengkaran orangtua bisa menjadi salah satu penyebab trauma pada anak. Terlebih, ketika anak mengalami kekerasan secara langsung dari orang tuanya.
 

Jakarta: Trauma bisa terjadi kapan pun dan di mana saja. Bahkan tanpa diduga, kejadian sederhana bisa menjadi trauma dan membekas hingga waktu yang lama.
 
Peristiwa tak terduga saat di masa kecil misalnya, terbenam dalam benak hingga dewasa. Tak menutup kemungkinan, setiap orang berpotensi memiliki trauma. Bisa terjadi dengan sangat intens atau trauma ringan.
 
"Penanganan individu beda kasus beda pendekatan. Tapi secara umum bisa dengan psikoterapi yang sangat variatif tergantung kasusnya," ujar Roslina Verauli, M.Psi, Psi. selaku Psikolog Anak RS Pondok Indah - Pondok Indah kepada Medcom.id di Jakarta.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Terlebih dahulu harus dipahami apa saja yang bisa memicu trauma itu datang. Trauma pada anak, salah satunya bisa terjadi akibat melihat orang tua bertengkar. Terlebih, ketika anak mengalami kekerasan secara langsung dari orang tuanya
 
"Anaknya dipukul, dihukum sampai meninggalkan bekas luka, atau dia melihat kedua orang tuanya baku hantam dengan sangat mengerikan. Ini pun akan serta merta menjadi trauma pada anak," tuturnya.
 
Berbeda juga jika anak mengalami trauma terhadap bullying atau penindasan. Pahami dahulu bagaimana bullying terjadi pada si buah hati, dan separah apa.
 
Bullying sendiri merupakan perlakuan yang diterima secara terus-menerus. Akibatnya, kesejahteraan emosional anak terasa terhambat, lantaran ada perlakuan yang mendominasi darinya.
 
"Jadi pelakunya lebih kuat, populer, atau dominan, kemudian berlakunya terus-menerus, sehingga anak secara emosional terpengaruh menjadi sangat takut, cemas, mengganggu fokusnya," imbuh dia.
 
Risiko terparahnya, anak mengalami stres atau tertekan, depresi, hingga bisa mengunci diri. Bisa juga bertolak belakang dari itu, yakni anak menjadi pendiam, terlalu aktif, atau bahkan menjadi terlalu agresif.
 
Namun, Anda tidak bisa serta merta mengeneralisasi anak terkait trauma. Sebab, beda profil kepribadian pada anak akan berbeda juga dampak yang dialaminya. Sebagian anak bisa cukup tangguh sehingga tidak mengalami trauma mendalam ketika menyaksikan perkelahian.
 
"Ada yang sampai trauma mendalam. Seberapa intens pertengkaran yang dia lihat, seberapa besar dampaknya, seberapa sering terjadi, terselesaikan atau tidak, itu penting," paparnya.
 

 

(YDH)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif