Ada empat langkah untuk membantu orang tua menenangkan anak mereka setelah melihat kemarahan orang tuanya. (Foto: Jordan Witt/Unsplash.com)
Ada empat langkah untuk membantu orang tua menenangkan anak mereka setelah melihat kemarahan orang tuanya. (Foto: Jordan Witt/Unsplash.com)

Empat Cara Menenangkan Anak Setelah Dimarahi Orang Tua

Rona keluarga psikologi anak
Torie Natalova • 12 November 2018 17:02
Jakarta: Sebagai orang tua, Anda seharusnya tidak boleh bersikap temperamen atau mudah marah. Tapi, kebanyakan orang tua kesulitan menahan amarah dan bersikap untuk selalu tenang.
 
Kurang tidur, belum ada pengalaman mengurus anak sebelumnya, tekanan sosial dari orang lain, semua hal itu bisa jadi mengganggu upaya orang tua untuk tetap tenang menghadapi anak.
 
Penelitian menunjukkan, jika hal ini sering terjadi di awal kehidupan anak, stres akibat terkena amarah orang tua dapat menciptakan pola perilaku yang memengaruhi sosialisasi di masa depan mereka, manajemen emosional dan harga diri.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Terapis keluarga Shanna Donhauser mengatakan, anak-anak terus belajar dari lingkungan mereka, terutama hubungan utama mereka yaitu orang tua.
 
Konflik dan kemarahan tidak dapat dihindiari, tapi memperbaikinya dapat memperkuat hubungan dan membangun landasan kepercayaan, kenyamanan dan keamanan.
 
Menurutnya, ada empat langkah untuk membantu orang tua menenangkan anak mereka setelah melihat kemarahan orang tuanya.
 
Empat Cara Menenangkan Anak Setelah Dimarahi Orang Tua
(Kurang tidur, belum ada pengalaman mengurus anak sebelumnya, tekanan sosial dari orang lain, semua hal itu bisa jadi mengganggu upaya orang tua untuk tetap tenang menghadapi anak. Foto: Derek Thomson/Unsplash.com)
 
(Baca juga: Tips Menjadi Orangtua yang Lebih Sabar di 2018)
 
1. Tenang
Orang tua perlu mengatur emosi mereka sendiri sebelum mengatasi apa yang terjadi.
 
2. Renungkan apa yang telah dilihat dan dialami anak
Kemarahan orang tua bisa jadi sangat menakutkan dan mungkin mengancam bagi seorang anak. Orang tua harus membayangkannya dari sudut pandang anak.
 
3. Jelaskan apa yang terjadi dan bagaimana anak mengalaminya
Bersikaplah ekplisit dengan emosi dan minta bantuan anak untuk menemukan cara menghindarinya.
 
4. Terhubung
Tidak mengarang atau menutup-nutupi apa yang terjadi, sehingga ini akan menciptakan koneksi orang tua anak yang 'normal'.
 

 

(TIN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi