Anak korban perceraian lima kali lebih mungkin menderita gangguan emosional (Foto:Getty Images)
Anak korban perceraian lima kali lebih mungkin menderita gangguan emosional (Foto:Getty Images)

Anak Korban Perceraian, 5 Kali Lebih Mungkin Derita Gangguan Emosional

Rona keluarga
30 Maret 2015 11:21
medcom.id, Jakarta: Hancurnya sebuah pernikahan tak hanya meninggalkan luka pada pasangan suami istri, anak juga tak kalah menderita.
 
Sebuah penelitian menguak fakta bahwa anak-anak yang berasal dari orangtua yang bercerai, lima kali lebih mungkin menderita gangguan emosional daripada anak yang orangtuanya harmonis.
 
Penelitian ini juga menunjukkan bahwa anak-anak korban perceraian atau mereka yang dibesarkan oleh orangtua tunggal, lebih mungkin melakukan hal-hal buruk di sekolah, kesehatan yang buruk, dan tumbuh sebagai orang berperilaku buruk saat dewasa.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Laporan yang diterbitkan oleh Kantor Statistik Nasional juga melihat adanya gangguan emosi di mana anak broken home dapat menyebabkan penderitaan dan gangguan terhadap teman sepermainan di sekolah.
 
Hal ini juga terlihat pada gangguan yang mengakibatkan perilaku agresif, kekerasan, dan sikap anti-sosial.
 
Para peneliti memeriksa hampir 8.000 anak-anak berusia antara 5 hingga 16 tahun. Hasilnya, ditemukan hampir satu dari sepuluh anak menderita gangguan emosional.
 
Laporan itu mengatakan bahwa anak yang orangtuanya telah berpisah, empat setengah kali lebih mungkin untuk mengembangkan gangguan emosional daripada mereka yang orangtuanya masih tinggal bersama.
 
Mereka juga hampir tiga kali lebih mungkin menunjukkan gangguan perilaku. (Ningtriasih/Daily Mail)
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

(ROS)


social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif