remaja sering sulit menggambarkan perasaan mereka. Sehingga seringkali mengatakan hal pertama yang terlintas dalam pikiran. (Foto Ilustrasi: Pixabay/Pexels)
remaja sering sulit menggambarkan perasaan mereka. Sehingga seringkali mengatakan hal pertama yang terlintas dalam pikiran. (Foto Ilustrasi: Pixabay/Pexels)

Kiat Mengelola Emosi Kuat pada Remaja

Rona psikologi remaja
Anda Nurlaila • 19 Mei 2019 12:36
Jakarta: Saat memasuki masa remaja, banyak perubahan terjadi pada anak, baik fisik maupun emosi. Remaja sering mengalami perubahan suasana hati dan kerap melontarkan kalimat yang mengejutkan dan menyakitkan orang tua.
 
Pertama kali anak remaja merespons orang tua dengan ucapan "Aku benci Ayah/Ibu!" atau "Tinggalkan aku sendiri!" mungkin menyakitkan orang tua. Sebab Anda tidak menyangka anak dapat mengucap hal tersebut.
 
Psikolog pediatrik, Cathy Mavrolas, mengatakan remaja sering sulit menggambarkan perasaan mereka. Sehingga seringkali mengatakan hal pertama yang terlintas dalam pikiran.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Remaja juga bisa menyalahgunakan istilah, atau mengulangi frasa yang pernah mereka dengar di tempat lain," jelasnya seperti dikutip Parents.
 
Ada beberapa kalimat emosi negatif yang sering dipakai remaja:
 
"Aku membencimu!"
 
Artinya: Anak tidak benar-benar benci. Dia mencoba mengatakan "Saya kesal, saya marah, atau saya sesuatu," jelas Mavrolas. Sesuatu itu mungkin tidak berhubungan dengan Anda. Tapi anak akan mengarahkan perasaannya pada target yang aman, yakni orang tuanya.
 
Yang harus orang tua lakukan: Bantu anak menemukan kata mengekspresikan pikirannya, sehingga ia tidak menggunakan kata benci. Setelah memberinya waktu untuk tenang, jelaskan bahwa kata "benci" menyakiti perasaan orang.
 
"Itu tidak adil!"
 
Artinya: Anak merasa tertipu. Karena di usianya, ia ingin semua setara dan cenderung memasukkan semua hal menjadi ''adil" dan "tidak adil".  Jika dia berpikir Anda melarangnya memainkan permainan yang terlarang baginya, anak berpikir diperlakukan buruk.
 
Yang harus dilakukan: Tahan keinginan untuk mengatakan, "Hidup ini tidak adil." Mavrolas menyarankan untuk mengakui perkataan anak, lalu berpegang teguh pada aturan Anda. Contoh, "Ibu/ayah mengerti itu mungkin terasa tidak adil, tetapi kita punya aturan berbeda tentang siapa yang boleh memainkan permainan itu."
 

"Tidak ada yang menyukaiku."
 
Artinya: Dia mungkin dikucilkan atau tidak diikutsertakan dalam suatu kegiatan atau terlibat masalah dengan temannya. Merasa diterima sangat penting bagi usia remaja. Sehingga saat anak merasa terisisih, ia berpikir seluruh dunia menentangnya.
 
Yang harus dilakukan: Tanyakan apa yang terjadi di sekolah dan membuatnya sedih. Saat anak bercerita, dukung dan berikan simpati.  Katakan," Pasti menyebalkan temanmu tidak mau mengajakmu hari ini." Beri anak waktu untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Jika kesulitan berteman atau sering mengatakan tidak ada yang menyukainya bicarakan dengan gurunya agar Anda lebih memahami situasi yang dialami anak.
 
"Tinggalkan aku sendiri!"
 
Artinya: Anak mungkin tidak ingin Anda mengamatinya saat melakukan sesuatu. Atau dia merasa orang tua menganggu waktu bermainnya dengan menyuruhnya membersihkan kamar.
 
Yang harus dilakukan: Wajar anak menginginkan ruang gerak lebih banyak. Orang tua hanya perlu mengajarkan anak cara yang lebih sopan untuk memintanya. Mavrolas menjelaskan, sebaiknya orang tua mengatakan pada anak bahwa tidak baik menggunakan kata-kata seperti "Pergi", "Tinggalkan aku sendiri". 
 
Sebaliknya ajar anak untuk mengatakan "Aku butuh waktu sendirian," atau "Bolehkah aku bermain 10 menit lagi sebelum mengerjakan PR". Saat anak meminta waktu atau privasi dengan cara yang lebih ramah, sedapat mungkin hormati permintaannya.   
 
"Aku benci diriku."
 
Artinya: Ini bukan pertanda ia rendah diri. Ucapan ini berarti anak kesal dengan dirinya sendiri karena suatu alasan. Anak mungkin sedih karena temannya dapat melakukan sesuatu yang belum dia kuasai.
 
Yang harus dilakukan: Jangan membesar-besarkan jika masalah itu tidak sering terjadi. Orang tua dapat mengatakan, "Kamu terdengar sangat frustrasi. Apa yang terjadi hari ini?". Jika tidak mendapat respons, beri anak ruang karena semua orang pernah kecewa dengan dirinya sendiri.
 
Anda juga dapat memberitahunya orang yang berbeda dapat melakukan hal berbeda dengan lebih baik. Minta anak mengingat hal-hal yang berhasil dia lakukan dengan baik. Lalu minta dia mengganti ucapan "Aku benci diriku sendiri" menjadi "Aku marah pada diriku karena...". Cara ini mengajarkan anak merasakan frustasinya dan bersiap menghadapi tantangan selanjutnya.
 
Manfaat Industri Kesehatan Digital di Era Milenial

 

(FIR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif