Tema Khusus Rona

Jacobus Dwihartanto, Mendirikan Yayasan Sebagai Bentuk Kasihnya Kepada Sang Anak

Raka Lestari 23 Oktober 2018 10:43 WIB
keluarga kisah
Jacobus Dwihartanto, Mendirikan Yayasan Sebagai Bentuk Kasihnya Kepada Sang Anak
Mengalami cobaan yang cukup berat, yaitu harus kehilangan putri tercinta yang masih berusia 15 tahun membuat Tanto mendapatkan pelajaran dari apa yang ia hadapi. (Foto: Dok. Medcom.id/Raka Lestari)
Jakarta: Benar kata pepatah, kasih sayang orang tua itu sepanjang jalan. Karena cinta orang tua pada anak tiada akan ada habisnya. Begitu juga dengan Jacobus Dwihartanto, pria berusia 58 tahun yang harus kehilangan putri satu-satunya ini juga tetap memberikan cintanya walau sang putri telah tiada.

Diawali pada Juni 2011 lalu keseimbangan badan dan kesehatan Priscilla mulai terganggu. Dokter memvonis bahwa Priscilla menderita penyakit kanker otak dan hanya dalam waktu 17 bulan, Priscilla yang terkenal pintar dan pandai bergaul itu harus dipanggil Tuhan, tepatnya pada 30 Oktober 2012. 

Meskipun nyawanya sudah tidak ada, namun kasih sayang untuk Priscilla tetap diberikan oleh Tanto dengan mendirikan Yayasan Maria Priscilla Foundation yang memfokuskan pelayanan di bidang pendidikan dan kesehatan. 


Gejala Awal 

Pada suatu hari, Tanto mengajak Pris, panggilan akrab Priscilla berkeliling komplek untuk bermain sepeda. Tidak seperti biasanya, Priscilla berkali-kali jatuh ketika mengayuh sepedanya tersebut. Hal ini membuat Tanto merasa khawatir ada sesuatu yang terjadi pada putri kesayangannya tersebut. Hingga pada Juni 2011 Priscilla melakukan pemeriksaan MRI (Magnetic Resonance Imaging). 

Pemeriksaan MRI tersebut menunjukkan bahwa pada otak Priscilla terdapat benjolan yang menyebabkan penurunan kesimbangan tangan dan kaki Pris, atau disebut dengan tumor otak. Hal ini terasa bagai petir di siang bolong bagi Tanto dan istri, Caroline. 

Ia tidak menyangka bahwa putri kesayangannya tersebut harus mendapatkan penyakit yang cukup berat untuk anak seusianya, yaitu 14 tahun pada saat itu. Ia merasa bingung menceritakan kondisi Priscilla langsung kepada sang putri.

"Saya dan istri sudah sejak awal berjanji dan mengajarkan untuk jujur sama Priscilla dan kita tahu bahwa ada dua pilihan. Pilhan saya waktu itu adalah bahwa saya bercerita apa adanya mengenai penyakit dia dan proses yang akan dia lalui atau kita bohongin," ucap Tanto. "Saya diskusi dengan istri saya selama satu hari sampai akhirnya kita harus cerita apa adanya karena dia yang harus berjuang."

"Pris kamu mengidap tumor di otak belakang kamu, terus kemudian papi sama mami akan terus urus kamu sampai kemanapun juga. Kamu akan mengalami pengobatan yang papi juga enggak tahu apakah itu seminggu, dua minggu, tiga minggu tapi papi mami janji papi mami selalu ada sama kamu." Itulah kata-kata yang Tanto ucapkan kepada putri kecilnya untuk memberitahukan kondisi Priscilla. 

"Waktu itu kita menjelaskan sama Priscilla dan Priscilla pada saat itu terdiam, tidak banyak ngomong. Baru kemudian belakangan saya tahu bahwa ketika saya mengatakan hal itu kepada Priscilla, dia menuliskan di dalam blog pribadinya bahwa ia menjerit dan bertanya-tanya mengapa ia harus sampai menderita sakit seperti itu padahal ia merasa hidupnya sudah sempurna, sudah enak sekali."

Pada akhirnya Priscilla menjalani operasi pengangkatan tumor otak tersebut di Singapura dan hasil laboratorium menyatakan Priscilla mengalami tumor otak Glioblastoma Multiforme (GBM) yang merupakan tumor ganas. Sebagai penderita GBM, Priscilla harus menjalani 33 kali radiasi dalam waktu 6 minggu serta kemoterapi berdosis tinggi secara bersamaan. 

"Untuk pengobatan Priscilla saya pilih di Singapura karena metodologinya lebih simpel dan lebih bisa diikuti secara secara nalar. Penjelasannya pun rasional kenapa harus begini, kenapa harus begitu dijelaskan," ujar Tanto. 

Namun ia menambahkan bukan berarti dokter di Singapura lebih baik daripada di Indonesia. "Dokter kanker di Indonesia ada, apa di Singapura lebih hebat? Tidak ada yang hebat. Pada saat itu saya hanya mau cari bahwa apapun yang diterapkan, tidak coba-coba, apapun yang diterapkan sesuai dengan rasional saya karena saya yang paling bertanggung jawab terhadap penyakit anak saya, dan harus disembuhkan apapun juga harus saya lakukan."

(Baca juga: Fakta dan Gejala Kanker Otak)

Sempat Tak Terima dengan Keadaan

Setelah mengetahui vonis lengkap putrinya tersebut, Tanto merasa sangat sedih, bahkan marah. "Ya manusiawi, saya merasa marah, kesal, kemudian bertanya-tanya apa salah saya? Apa dosa saya? Sampai harus menerima cobaan yang berat ini," tuturnya. "Anak yang tidak berdosa, kepalanya dibuka tutup, seandainya saja bisa diganti dengan kepala saya. Istri saya pun sama, marah. Bahkan tidak ke gereja dua tahun."

Namun menurut Tanto merasa marah dan kesal pada keadaan pun tidak ada gunanya. "Pertanyaan saya satu saja, mau marah, mau mukul, mau ngomel, ke siapa? Tuhan kan tidak bisa kita sentuh langsung. Akhirnya apa? Kita berdoa agar bisa berdamai dengan keadaan karena perdamaian itulah yang membuat kita hidup bahagia." 

"Ketika mendapat diagnosis seperti itu, saya merasa gelap dunia ini, bingung, segala macam, semuanya tapi saya tetap harus berjuang demi anak saya. Itulah yang membuat saya keep on fighting dan selain itu Priscilla memang sangat tergantung kepada saya dari kecil. Mau ke mana-mana pasti dia tanya papinya, mau makan di restoran juga dia selalu tunggu papinya," kenang Tanto. 

Banyak yang mengatakan bahwa penyebab kanker salah satunya adalah gaya hidup yang tidak sehat. Namun itu semua tidak berlaku bagi Priscilla. 

"Priscilla tuh sekolah di Santa Ursula, strength, ketat, dan waktu SD sampai SMP itu belum kenal dugem. Jadi kalau bicara gaya hidup dia sehat, berenang seminggu tiga kali. Untuk makanan, maminya yang jagain."

Tanto menganggap bahwa itu semua adalah takdir dari Tuhan yang memang harus ia jalani. "Kalau bicara takdir, susah ngomong karena enggak ada yang tahu takdirnya sampai seberapa. Jadi saya lebih memilih untuk tidak ke situ tapi saya lebih memilih untuk berterima kasih kepada Tuhan dikasih 15 tahun saya hidup dengan dia, saya bahagia sekali."

"Jadi saya lebih memilih untuk mensyukuri 15 tahun saya kenal dia dan berterima kasih saya dipilih oleh Tuhan untuk hidup sama dia selam 15 tahun."

Mengikhlaskan Kepergian Sang Putri

Tanto dan sang istri berusaha sekuat tenaga untuk memberikan apapun yang dibutuhkan dalam menjalani pengobatan kanker otak yang dialami Prisicilla tanpa mengenal lelah. Meskipun harus bolak-balik Jakarta dan meninggalkan pekerjaan mereka di Jakarta, bagi mereka kesembuhan Priscilla merupakan hal utama yang harus menjadi prioritas mereka berdua. 

Selama 17 bulan, berbagai pengobatan harus dijalani Priscilla sampai pada akhirnya di akhir September 2012 kondisi Priscilla sudah vegetatif. Artinya respons yang diberikan tubuhnya hampir tidak terlihat dan harus dipindahkan ke unit Palliative Care di National University Hospital (NUH) Singapura, yakni bagian perawatan di rumah sakit tersebut yang dikhususkan bagi orang-orang sakit yang sudah tidak memiliki harapan lagi. 

"Jadi pada saat itu, dia sedang berada di ruang Palliative Care, saya membisikkan ke telinga dia bahwa saya sudah ikhlas jika memang dia harus pergi. Dilematis sebenarnya buat saya pada saat itu, melihat anak saya menderita, terbaring dan tidak bisa ngapa-ngapain atau saya relakan dia ke surga."

"Pris bilang sama Tuhan kalau bisa sembuh, tolong sembuhkan sekarang tetapi kalau tidak bisa maka saya akan terima. Di surga mungkin kamu bisa berlari, berenang, tenis, voli bersama malaikat-malaikat di sana," kata-kata tersebut Tanto bisikkan langsung ketika kondisi putrinya sangat menyukai berbagai macam olahraga mulai dari berenang, voli, dan tenis yang memang sudah dalam keadaan koma selama beberapa hari. "Saya mengatakan itu hari Minggu, kemudian hari Selasanya Priscilla meninggal," ucap Tanto. 

Tidak hanya Tanto dan istri yang merasa kehilangan, namun teman-teman Priscilla pun merasa kehilangan. "Ketika Priscilla meninggal, semua teman-temannya menangis. Teman-teman dia baik itu SMP atupun SMA semuanya datang ke rumah, pergi ke kuburannya pun semua bareng-bareng. Ada sekitar 800 orang waktu itu datang ke rumah, kita sewakan bis untuk berangkat ke kuburan dan mereka semua ikut ke kuburan. Itu hiburan buat saya."

Kehilangan yang Sangat Besar

Kehilangan Priscilla, putri satu-satunya yang ia miliki tidaklah mudah. Apalagi, Tanto dan istri harus menunggu sampai 3 tahun lamanya sejak menikah untuk bisa mendapatkan Priscilla yang lahir pada 14 Mei 1997. 

"Dua tahun saya dan istri saya tidak bisa bersahabat dengan siapapun juga. Saya berdua istri saya mengurung diri, tidak melakukan kegiatan apa-apa, kita down selama dua tahun-setelah kepergian Priscilla. Kita baru aktif lagi tuh di tahun 2014 karena kita berpikir bahwa kita tidak bisa seperti ini terus dan kita harus terima semua ini."

"Percuma kita menyesali, kita marah juga, tidak ada jawaban. Selain itu membuat kita enggak enak juga, kenapa kita harus mengurung diri di rumah sementara masih banyak orang perlu kita. Itulah yang mendorong saya berdua Caroline untuk keluar dari semua ini, untuk berbuat lebih banyak lagi, dan itu mungkin menjadi hiburan buat kita dan ternyata memang benar bahwa itu menjadi hiburan buat kita," ucap Tanto. 

Hal itu pula yang membuat Tanto dan sang istri, Caroline untuk membuat Yayasan Maria Priscilla Dwihartanto.

"Priscilla hidup 15 tahun, yang menurut saya pasti ada message-nya, ada sesuatu yang Tuhan kirim. Nah, dengan 15 tahun itu, timbullah inspirasi saya untuk membuat yayasan ini sehingga meskipun saya tidak punya anak, pengganti anak saya adalah yayasan ini. Yang akan menjadi pewaris saya, tempat pengabdian saya, menjadi legacy saya." 

Selain Yayasan Maria Priscilla Dwihartanto, Tanto juga saat ini sedang membangun Priscilla Medical Center (PMC) yang akan mulai beroperasi pada pertengahan 2019. 

PMC dibangun dengan harapan agar rumah sakit tersebut dapat ikut berperan aktif dalam upaya peningkatan pelayanan kesehatan bagi masyarakat khususnya di daerah Cilacap, Banyumas dan sekitarnya. 

Dengan motto "Merawat dengan Kasih Sayang" PMC bertekad untuk memberikan layanan kesehatan dengan standar internasional namun dengan tetap mengedepankan unsur-unsur kearifan lokal seperti keramahan, gotong royong dan kekeluargaan. 

Selain yayasan dan rumah sakit, Tanto juga membuat buku yang ditujukan untuk mengenang putrinya tersebut. Buku yang diberi judul "Priscilla, My Beautiful Fighter" tersebut sebagai janji Tanto kepada Priscilla untuk menceritakan kisah Priscilla itu untuk kepada orang banyak.

Seluruh royalti yang didapat dari penjualan buku tersebut juga akan disumbangkan melalui Yayasan Maria Priscilla Dwihartanto untuk bidang pendidikan dan kesehatan. 

Pelajaran yang Didapat atas Kepergian Sang Putri

Selama menemani putri tercinta mengalami pengobatan, ada banyak sekali yang Tanto dapatkan dari sosok Priscilla. "Priscilla itu sosok yang luar biasa. Luar biasanya itu meskipun dia sedang sakit, dia tetap aktif melakukan apa saja meskipun dari atas tempat tidur, seperti menulis blog, bermain twitter, kadang juga bercanda dengan saya."

Menurut Tanto, meskipun sedang sakit Priscilla tidak mau mendapatkan perlakuan yang istimewa bahkan dari sekolah tempatnya menempuh pendidikan. "Di sekolahnya dia sebenarnya tidak boleh pakai jaket ketika ulangan, tetapi karena dia sakit jadinya dia boleh pakai jaket. Namun meskipun diperbolehkan dia tetap tidak mau pakai jaket, dia tetep lepas, dia enggak mau diistimewakan. Tugas-tugas sekolah juga dia bisa mendapatkan keistimewaan karena sedang sakit tetapi dia tidak mau diistimewakan. Ulangan-ulangan yang harusnya boleh tidak dia ikuti, dia tetep mau ikutin semuanya. Jadi dia tidak mau dibedakan."

Selain itu, putrinya juga selalu menunjukkan rasa sabar dan tenang ketika sedang menjalani setiap pengobatan yang tidak mudah untuk anak seusianya tersebut, meskipun pernah satu kali Tanto melihat Priscilla merasa sedih. 

"Pernah sekali waktu ketika dia sudah mulai tidak bisa menelan. Ada makanan kesukaan dia tuh sop buntut, saya belikan dan saya suapin itu dia muntah karena sudah tidak bisa nelan kan. Dia kepingin, tapi tidak bisa karena tidak bisa menelan, kemudian minum juga selalu keluar dari hidung karena kankernya itu sudah mulai mengganggu kemampuan menelannya. Di situ dia kesal, saya peluk dia, saya cium dia, dia nangis." 

Mengalami cobaan yang cukup berat, yaitu harus kehilangan putri tercinta yang masih berusia 15 tahun membuat Tanto mendapatkan pelajaran dari apa yang ia hadapi.

"Yang terpenting adalah jangan pernah berputus asa, jangan pernah menyerah untuk orang yang paling kita cintai. Keep on fighting, iman, harapan, dan kasih peganglah itu enggak ada yang lain karena Tuhan itu baik." 






(TIN)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id