Kenaikan BI Rate belum memberikan dampak signifikan terhadap fundamental sektor properti. Foto: Freepik
Kenaikan BI Rate belum memberikan dampak signifikan terhadap fundamental sektor properti. Foto: Freepik

BI Rate Naik, Bagaimana Prospek Pasar Properti?

Rizkie Fauzian • 11 Juni 2026 15:56
Ringkasnya gini..
  • Colliers menilai kenaikan BI Rate menjadi 5,50 persen belum mengubah fundamental pasar properti.
  • Properti masih dianggap sebagai instrumen investasi yang relatif aman di tengah ketidakpastian ekonomi.
  • Daya beli masyarakat dan keterjangkauan harga rumah menjadi faktor utama yang menentukan pertumbuhan pasar properti tahun ini.
Jakarta: Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen diperkirakan belum memberikan dampak signifikan terhadap fundamental sektor properti.
 
Namun, kondisi tersebut berpotensi memperlambat laju pemulihan pasar, terutama jika disertai kenaikan biaya hidup dan melemahnya daya beli masyarakat.
 
Head of Research Colliers Indonesia, Ferry Salanto, mengatakan bahwa dari perspektif sektor properti, kenaikan suku bunga memang bukan kabar yang ideal karena meningkatkan biaya pendanaan bagi pengembang maupun konsumen. Meski demikian, kenaikan sebesar 25 basis poin masih tergolong moderat.

"Belum cukup besar untuk mengubah fundamental pasar properti maupun mengganggu ekosistem investasi properti secara signifikan," ujar Ferry dalam keterangannya, Kamis (11/6/2026).
 
Menurutnya, faktor yang perlu diwaspadai bukan hanya kenaikan BI Rate, melainkan kombinasi berbagai tekanan ekonomi seperti kenaikan biaya hidup, harga energi, hingga potensi pelemahan daya beli masyarakat.

Properti masih jadi instrumen investasi menarik

Ferry menilai investasi properti masih relatif aman di tengah ketidakpastian ekonomi. Sebagai aset riil, properti dinilai mampu menjaga nilai kekayaan dalam jangka panjang dibandingkan instrumen lain yang lebih volatil.
 
Ia menjelaskan bahwa kondisi sektor properti Indonesia saat ini juga lebih sehat dibandingkan beberapa periode sebelumnya. Tingkat utang pengembang relatif terkendali, pasokan properti lebih rasional, dan likuiditas perbankan masih cukup baik untuk mendukung pembiayaan.
 
Meski begitu, kenaikan suku bunga membuat instrumen seperti deposito dan obligasi menjadi lebih menarik karena menawarkan imbal hasil yang kompetitif dengan risiko lebih rendah.
 
"Sebagian investor akan menjadi lebih selektif dan cenderung menunda investasi properti yang bersifat spekulatif," katanya.

Daya beli jadi penentu utama

Colliers memperkirakan prospek pasar properti sepanjang 2026 masih positif, meski pertumbuhannya diprediksi lebih moderat. Produk yang memiliki harga terjangkau, lokasi strategis, dan skema pembayaran fleksibel diperkirakan tetap menjadi pilihan utama konsumen.
 
Menurut Ferry, faktor penentu pasar saat ini bukan lagi sekadar tingkat suku bunga, melainkan daya beli masyarakat dan keterjangkauan harga rumah.
 
Dalam beberapa tahun terakhir, harga rumah di berbagai wilayah meningkat lebih cepat dibandingkan pertumbuhan pendapatan masyarakat. Kondisi tersebut membuat ruang masyarakat untuk menyerap tambahan beban cicilan semakin terbatas.
 
Jika kenaikan suku bunga disertai kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan biaya hidup, sebagian calon pembeli berpotensi menunda keputusan membeli rumah.
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(KIE)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan