FITNESS & HEALTH
Rajin Diet tapi Berat Badan Tetap Naik? Bisa Jadi Penyebabnya Kurang Tidur
Fatha Annisa
Senin 27 Juli 2026 / 18:15
- Kurang tidur ternyata tidak hanya membuat tubuh lelah, tetapi juga dapat memicu kenaikan berat badan.
- Kondisi ini juga meningkatkan risiko gangguan metabolisme.
- Selain itu, kurang tidur kronis dapat memengaruhi massa otot hingga hormon reproduksi
Jakarta: Tidur merupakan salah satu pilar utama kesehatan. Ada banyak dampak negatif bagi tubuh ketika seseorang kurang tidur, satu di antaranya adalah kenaikan berat badan.
Banyak orang mengandalkan secangkir kopi atau membasuh wajah agar tetap segar setelah kurang tidur, bahkan mencoba "membayar utang tidur" dengan tidur hingga siang di akhir pekan. Namun, tahukah Sobat Medcom bahwa kurang tidur atau tidur yang tidak berkualitas ternyata bisa membuat berat badan naik lebih mudah?
Peningkatan tersebut lantas membuat tubuh lebih mudah menyimpan lemak, terutama di area perut, serta meningkatkan kadar gula darah.
"Pada saat yang sama, hormon yang mengatur nafsu makan juga menjadi tidak seimbang," jelasnya, dikutip dari Hindustan Times, Senin, 27 Juli 2026.
Lebih lanjut, kadar ghrelin, hormon yang memicu rasa lapar, turut meningkat. Sebaliknya, kadar leptin, hormon yang memberi sinyal kenyang, justru menurun. Akibatnya, seseorang akan bangun lebih lapar, merasa kenyang lebih lambat, dan cenderung menginginkan makanan tinggi gula, karbohidrat olahan, serta kalori.
"Kadar insulin yang tinggi menjadi dasar munculnya kenaikan berat badan, penyakit hati berlemak, hingga diabetes tipe 2. Inilah bagian yang sering tidak disadari banyak orang," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa insulin merupakan faktor utama yang menghubungkan kurang tidur dengan berbagai penyakit akibat gaya hidup.
Tubuh juga memerlukan tidur nyenyak untuk mempertahankan massa otot. Ketika massa otot berkurang, kemampuan tubuh menyerap dan menggunakan glukosa dari aliran darah juga ikut menurun. Akibatnya, kadar gula darah lebih mudah meningkat.
Singh menegaskan bahwa tidur tidak bisa digantikan oleh pola makan sehat maupun olahraga. Meski sudah menjaga pola makan dan rutin berolahraga, hasil yang diharapkan bagi kesehatan tetap sulit tercapai jika kualitas dan durasi tidur terus diabaikan.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(PRI)
Banyak orang mengandalkan secangkir kopi atau membasuh wajah agar tetap segar setelah kurang tidur, bahkan mencoba "membayar utang tidur" dengan tidur hingga siang di akhir pekan. Namun, tahukah Sobat Medcom bahwa kurang tidur atau tidur yang tidak berkualitas ternyata bisa membuat berat badan naik lebih mudah?
Kurang Tidur Sebabkan Kenaikan Berat Badan?
Dr. Gagandeep Singh, pendiri Redial Clinic di India, menekankan bahwa kurang tidur bukan hanya masalah gaya hidup, melainkan juga masalah metabolisme. Kondisi tersebut meningkatkan kadar kortisol, yaitu hormon stres.| Baca juga: Kasur AI Resmi Hadir di Indonesia, Benarkah Bisa Bikin Tidur Lebih Berkualitas? |
Peningkatan tersebut lantas membuat tubuh lebih mudah menyimpan lemak, terutama di area perut, serta meningkatkan kadar gula darah.
"Pada saat yang sama, hormon yang mengatur nafsu makan juga menjadi tidak seimbang," jelasnya, dikutip dari Hindustan Times, Senin, 27 Juli 2026.
Lebih lanjut, kadar ghrelin, hormon yang memicu rasa lapar, turut meningkat. Sebaliknya, kadar leptin, hormon yang memberi sinyal kenyang, justru menurun. Akibatnya, seseorang akan bangun lebih lapar, merasa kenyang lebih lambat, dan cenderung menginginkan makanan tinggi gula, karbohidrat olahan, serta kalori.
| Baca juga: Gak Mau Insomnia? Ini Jam 'Cut-off' Buat Ngopi Biar Tetap Bisa Tidur! |
Meningkatkan Risiko Berbagai Penyakit
Kurang tidur juga meningkatkan risiko gangguan metabolisme lainnya, seperti menurunkan sensitivitas insulin sehingga pankreas harus memproduksi lebih banyak insulin untuk menjaga kadar gula darah tetap stabil."Kadar insulin yang tinggi menjadi dasar munculnya kenaikan berat badan, penyakit hati berlemak, hingga diabetes tipe 2. Inilah bagian yang sering tidak disadari banyak orang," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa insulin merupakan faktor utama yang menghubungkan kurang tidur dengan berbagai penyakit akibat gaya hidup.
| Baca juga: Debat Sengit: Pakai Bra vs Gak Pakai Bra Pas Tidur, Mana yang Lebih Sehat? |
Berdampak pada Otot dan Hormon Reproduksi
Selain itu, kurang tidur kronis memengaruhi hampir seluruh sistem tubuh, termasuk kesehatan reproduksi. Kondisi ini dapat mengganggu keseimbangan hormon reproduksi sehingga wanita lebih berisiko mengalami siklus menstruasi yang tidak teratur, sementara pria dapat mengalami penurunan kadar testosteron dan energi.Tubuh juga memerlukan tidur nyenyak untuk mempertahankan massa otot. Ketika massa otot berkurang, kemampuan tubuh menyerap dan menggunakan glukosa dari aliran darah juga ikut menurun. Akibatnya, kadar gula darah lebih mudah meningkat.
Singh menegaskan bahwa tidur tidak bisa digantikan oleh pola makan sehat maupun olahraga. Meski sudah menjaga pola makan dan rutin berolahraga, hasil yang diharapkan bagi kesehatan tetap sulit tercapai jika kualitas dan durasi tidur terus diabaikan.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(PRI)