NEWS
Data Center Dongkrak Permintaan Lahan Industri Greater Jakarta
Rizkie Fauzian
Kamis 20 Agustus 2026 / 19:24
- Pasar industri Greater Jakarta tetap resilien pada paruh pertama 2026 dengan total serapan lahan mencapai sekitar 127,5 hektare.
- Data center menjadi sektor paling aktif menyerap lahan, terutama di koridor Timur Greater Jakarta, diikuti F&B, manufaktur, otomotif, dan chemical.
- Cilegon mulai mencatat perkembangan sebagai klaster industri EV, didukung basis industri berat, pelabuhan, logistik, dan infrastruktur energi.
Jakarta: Pasar properti industri di Greater Jakarta tetap menunjukkan ketahanan pada paruh pertama 2026 meski serapan lahan sedikit terkoreksi dibandingkan dua tahun terakhir. Permintaan lahan industri kembali ditopang sektor data center, disusul sejumlah sektor unggulan seperti manufaktur, makanan dan minuman (F&B), serta industri terkait kendaraan listrik (EV-related).
Senior Research Advisor Research Knight Frank Indonesia Syarifah Syaukat mengatakan di tengah dinamika serapan lahan yang terjadi, pasokan stok di awal tahun ini terpantau bertambah, dari koridor Timur.
"Bahkan, potensi pasokan baru cukup besar, diprediksi akan hadir tidak hanya dari wilayah Greater Jakarta, tetapi juga meluas hingga ke Subang, bahkan beberapa area di Jawa Tengah," kata Syarifah dalam paparan, Kamis, 20 Agustus 2026.
Menurutnya, submarket industri yang ada di wilayah Greater Jakarta merupakan aglomerasi kawasan yang prima untuk pengembangan industri, tidak hanya berbasis padat karya, tetapi juga padat teknologi, terbukti dengan dominasi serapan lahan untuk sektor data center dan EV-related, yang tidak hanya tumbuh sebagai ekosistem di koridor Timur, tetapi juga mulai masuk ke koridor Barat.
"Kondisi tersebut membuat daya saing Greater Jakarta semakin matang sebagai ekosistem industri multi-nodal yang dapat menjadi alternatif lokasi investasi bagi investor regional maupun global," jelas dia.
Di tengah dinamika serapan lahan, pasokan kawasan industri pada awal 2026 juga bertambah, terutama dari koridor Timur. Potensi pasokan baru diperkirakan tidak hanya berasal dari kawasan Greater Jakarta, tetapi juga meluas hingga Subang dan sejumlah wilayah di Jawa Tengah.
Pada paruh pertama 2026, serapan lahan industri tercatat mendominasi sejumlah submarket utama, yaitu Bekasi, Karawang, dan Cilegon.
Bekasi dan Karawang masih menjadi lokasi potensial bagi ekspansi sektor data center. Sementara itu, Cilegon mencatat perkembangan menarik karena serapan lahannya tidak hanya berasal dari sektor chemical, tetapi mulai diramaikan industri terkait kendaraan listrik.
Cilegon dinilai memiliki peluang untuk berkembang sebagai klaster industri EV, khususnya kendaraan listrik komersial. Wilayah tersebut didukung basis industri berat, ekosistem pelabuhan dan logistik, serta infrastruktur energi.
Selain itu, Cilegon berpotensi menjadi alternatif perluasan klaster EV supply yang saat ini masih terkonsentrasi di Jawa Barat, khususnya koridor Timur Greater Jakarta.
Sektor data center yang sejak 2022 menjadi salah satu occupier paling aktif dalam menyerap lahan kembali melakukan akuisisi lahan di koridor Timur setelah sempat mengalami penahanan ekspansi pada akhir 2025.
Sementara itu, sektor EV-related juga masih aktif melakukan ekspansi meskipun tidak lagi menjadi occupier dengan serapan lahan tertinggi.
Aktivitas investor di koridor Timur Jakarta juga terus meningkat untuk memenuhi permintaan pasar, tidak hanya terhadap lahan industri, tetapi juga ruang pergudangan modern.
Pergudangan modern tersebut diminati occupier dari berbagai sektor, termasuk logistik, e-commerce, dan elektronik.
Berdasarkan kilasan pasar kawasan industri Jabodetabek dan sekitarnya periode 1H26 dari Knight Frank Indonesia, total stok kawasan industri di Greater Jakarta kembali bertambah dari koridor Timur dan kini mencapai sekitar 16.020 hektare.
Rerata harga lahan juga mengalami kenaikan di sejumlah submarket akibat tingginya permintaan, terutama di koridor Timur. Sementara itu, total serapan lahan sepanjang 1H26 tercatat sekitar 127,5 hektare.
Bekasi, Karawang, dan Purwakarta menjadi wilayah dengan serapan lahan tertinggi di koridor Timur. Dari koridor Barat, Cilegon juga mencatat serapan yang patut diperhitungkan pada awal 2026.
Dari sisi sektor, data center menjadi occupier paling aktif pada awal 2026. Sektor tersebut kemudian diikuti F&B, manufaktur, otomotif, dan chemical.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa kawasan industri Greater Jakarta tidak hanya menjadi lokasi bagi industri padat karya, tetapi semakin berkembang sebagai pusat industri berbasis teknologi dan ekosistem industri baru.
Dengan bertambahnya pasokan dan meluasnya pilihan lokasi ke sejumlah wilayah di luar Greater Jakarta, persaingan antarkawasan industri diperkirakan semakin kuat untuk menarik investasi baru.
(KIE)
Senior Research Advisor Research Knight Frank Indonesia Syarifah Syaukat mengatakan di tengah dinamika serapan lahan yang terjadi, pasokan stok di awal tahun ini terpantau bertambah, dari koridor Timur.
"Bahkan, potensi pasokan baru cukup besar, diprediksi akan hadir tidak hanya dari wilayah Greater Jakarta, tetapi juga meluas hingga ke Subang, bahkan beberapa area di Jawa Tengah," kata Syarifah dalam paparan, Kamis, 20 Agustus 2026.
Menurutnya, submarket industri yang ada di wilayah Greater Jakarta merupakan aglomerasi kawasan yang prima untuk pengembangan industri, tidak hanya berbasis padat karya, tetapi juga padat teknologi, terbukti dengan dominasi serapan lahan untuk sektor data center dan EV-related, yang tidak hanya tumbuh sebagai ekosistem di koridor Timur, tetapi juga mulai masuk ke koridor Barat.
"Kondisi tersebut membuat daya saing Greater Jakarta semakin matang sebagai ekosistem industri multi-nodal yang dapat menjadi alternatif lokasi investasi bagi investor regional maupun global," jelas dia.
Di tengah dinamika serapan lahan, pasokan kawasan industri pada awal 2026 juga bertambah, terutama dari koridor Timur. Potensi pasokan baru diperkirakan tidak hanya berasal dari kawasan Greater Jakarta, tetapi juga meluas hingga Subang dan sejumlah wilayah di Jawa Tengah.
| Baca juga: Pasar Industri Greater Jakarta Tetap Tangguh di Tengah Investasi Selektif |
Bekasi dan Karawang masih menjadi lokasi potensial bagi ekspansi sektor data center. Sementara itu, Cilegon mencatat perkembangan menarik karena serapan lahannya tidak hanya berasal dari sektor chemical, tetapi mulai diramaikan industri terkait kendaraan listrik.
Cilegon dinilai memiliki peluang untuk berkembang sebagai klaster industri EV, khususnya kendaraan listrik komersial. Wilayah tersebut didukung basis industri berat, ekosistem pelabuhan dan logistik, serta infrastruktur energi.
Selain itu, Cilegon berpotensi menjadi alternatif perluasan klaster EV supply yang saat ini masih terkonsentrasi di Jawa Barat, khususnya koridor Timur Greater Jakarta.
Sektor data center yang sejak 2022 menjadi salah satu occupier paling aktif dalam menyerap lahan kembali melakukan akuisisi lahan di koridor Timur setelah sempat mengalami penahanan ekspansi pada akhir 2025.
Sementara itu, sektor EV-related juga masih aktif melakukan ekspansi meskipun tidak lagi menjadi occupier dengan serapan lahan tertinggi.
Aktivitas investor di koridor Timur Jakarta juga terus meningkat untuk memenuhi permintaan pasar, tidak hanya terhadap lahan industri, tetapi juga ruang pergudangan modern.
Pergudangan modern tersebut diminati occupier dari berbagai sektor, termasuk logistik, e-commerce, dan elektronik.
Berdasarkan kilasan pasar kawasan industri Jabodetabek dan sekitarnya periode 1H26 dari Knight Frank Indonesia, total stok kawasan industri di Greater Jakarta kembali bertambah dari koridor Timur dan kini mencapai sekitar 16.020 hektare.
Rerata harga lahan juga mengalami kenaikan di sejumlah submarket akibat tingginya permintaan, terutama di koridor Timur. Sementara itu, total serapan lahan sepanjang 1H26 tercatat sekitar 127,5 hektare.
Bekasi, Karawang, dan Purwakarta menjadi wilayah dengan serapan lahan tertinggi di koridor Timur. Dari koridor Barat, Cilegon juga mencatat serapan yang patut diperhitungkan pada awal 2026.
Dari sisi sektor, data center menjadi occupier paling aktif pada awal 2026. Sektor tersebut kemudian diikuti F&B, manufaktur, otomotif, dan chemical.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa kawasan industri Greater Jakarta tidak hanya menjadi lokasi bagi industri padat karya, tetapi semakin berkembang sebagai pusat industri berbasis teknologi dan ekosistem industri baru.
Dengan bertambahnya pasokan dan meluasnya pilihan lokasi ke sejumlah wilayah di luar Greater Jakarta, persaingan antarkawasan industri diperkirakan semakin kuat untuk menarik investasi baru.
(KIE)