Risha yang dibangun untuk korban bencana di NTT. Foto: Kementerian PUPR
Risha yang dibangun untuk korban bencana di NTT. Foto: Kementerian PUPR

Rumah Tahan Gempa Enggak Harus Mahal

Rizkie Fauzian • 29 November 2022 23:47
Yogyakarta: Pemerintah diminta memastikan setiap bangunan, termasuk rumah tinggal warga memiliki konstruksi yang tahan guncangan gempa. Rumah tahan gempa tidak harus mahal, tapi konstruksi yang harus benar sehingga konstruksi bangunannya akan baik.
 
"Itu petunjuk teknisnya sudah banyak sesuai yang diterbitkan Kementerian PUPR," ujar Dekan Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta Danang Sri Hadmoko di halaman Gedung Pusat UGM, Yogyakarta, Selasa, 29 November 2022.
 
Menurut Danang, pemerintah sejatinya telah memasukkan standar bangunan yang aman, termasuk dari guncangan gempa dalam izin mendirikan bangunan (IMB), yang kini berubah menjadi persetujuan bangunan gedung (PBG).

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Namun demikian, berbeda dengan bangunan milik pemerintah, pengurusan IMB untuk rumah tinggal warga kebanyakan tidak diikuti dengan audit, sehingga struktur bangunan yang dipersyaratkan berpeluang tidak dipatuhi.
 
"Enggak ada supervisi dan auditnya," kata peneliti Pusat Studi Bencana UGM ini.
 
Menurutnya, penertiban terkait standar pembangunan rumah warga yang aman perlu menjadi perhatian pemerintah mengingat Indonesia terletak di kawasan Cincin Api Pasifik, sehingga rawan terjadi gempa.
 
Baca juga: Mengenal Risha, Rumah Tahan Gempa yang Bakal Dibangun di Cianjur

Saat terjadi gempa, potensi kerusakan tidak hanya melanda rumah di kawasan yang dilalui sesar aktif, tetapi bergantung pada kualitas bangunan serta material batuan di sekitarnya.
 
"Contohnya, gempa di Yogyakarta (2006) itu kan gempanya di Sesar Opak ya, tapi banyak rumah-rumah di daerah Sleman yang roboh juga," ujar dia.
 
Belajar dari peristiwa gempa bermagnitudo 5,6 yang menghancurkan puluhan ribu rumah di Cianjur, Jawa Barat, menurut dia, sudah saatnya masyarakat sadar pentingnya membangun rumah tahan gempa kendati sedikit mengeluarkan biaya tambahan, karena menyangkut keselamatan nyawa.
 
"Lebih murah mana ketika kita bangunnya betul-betul murah, tetapi ketika roboh kita bangun lagi," kata dia.
 
Selain memastikan standar bangunan, mandor beserta tukang bangunan di berbagai daerah juga perlu mendapat pelatihan dan disertifikasi.
 
"Sertifikasi untuk tukang, mandor-mandor itu perlu dilakukan pelatihan, contohnya adalah terkait sambungan-sambungan besi, ukuran besi dan lainnya, itu perlu sekali," ujar Danang.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news medcom.id.


 
(KIE)




LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif