Dalam laporan tersebut, pertumbuhan harga properti nasional tercatat bergerak lambat dan cenderung berfluktuasi di berbagai kota besar. Secara tahunan (year-on-year), pertumbuhan harga properti Indonesia pada periode Oktober–Desember 2025 berada di rentang -0,2 persen hingga 0,7 persen.
Titik terendah terjadi pada November 2025 dengan kontraksi sebesar -0,2 persen, sementara pertumbuhan tertinggi tercatat pada Desember 2025 sebesar 0,7 persen.
Jika dibandingkan dengan periode yang sama pada 2024, performa ini menunjukkan penurunan. Pada Kuartal IV 2024, pertumbuhan harga tahunan masih berada di kisaran 1,6 persen hingga 2,4 persen, dengan puncak pertumbuhan terjadi pada November 2024.
Penurunan ini mengindikasikan bahwa laju pertumbuhan harga properti di Kuartal IV 2025 memang lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya. Tren serupa juga terlihat jika dibandingkan dengan Kuartal III 2025, di mana pertumbuhan tahunan masih berada di kisaran 0,2 persen hingga 0,7 persen.
Sejumlah kota masih catat kenaikan stabil

Harga rumah seken melambat di 2025. Foto: Shutterstock
Meski pergerakan harga secara nasional cenderung melambat, beberapa kota tetap menunjukkan pertumbuhan yang relatif stabil sepanjang Kuartal IV 2025.
Di wilayah Jabodetabek, Bekasi menjadi salah satu kota dengan performa paling konsisten. Pertumbuhan harga tahunan di Bekasi berada di rentang 1,4 persen hingga 2,4 persen, dengan angka tertinggi tercatat pada Desember 2025.
Sementara itu, Tangerang juga mencatatkan pertumbuhan yang stabil meskipun lebih rendah, yakni di kisaran 0,2 persen hingga 1,0 persen selama periode tersebut.
Untuk wilayah Pulau Jawa lainnya, Yogyakarta mencatatkan rentang pertumbuhan cukup lebar, yakni 0,9 persen hingga 5,4 persen. Puncak pertumbuhan terjadi pada Oktober, sementara titik terendah berada pada November.
Di luar Pulau Jawa, Denpasar dan Medan menjadi dua kota besar yang masih mencatatkan kenaikan harga. Denpasar tumbuh di rentang 2,5 persen hingga 4,1 persen, sedangkan Medan berada di kisaran 0,9 persen hingga 3,1 persen. Kedua kota ini sama-sama mencatatkan pertumbuhan tertinggi pada Oktober dan terendah pada Desember.
Fluktuasi tajam terjadi di sejumlah kota besar

Harga rumah seken melambat di 2025. Foto: Shutterstock
Berbeda dengan kota-kota yang stabil, sejumlah wilayah justru mengalami fluktuasi harga yang cukup tajam selama Kuartal IV 2025.
Di area Jabodetabek, beberapa kota besar mencatatkan kontraksi harga, antara lain Jakarta bergerak di rentang -0,6 persen pada November hingga -0,1 persen pada Desember, Depok -0,9 persen pada November, sempat mencatat pertumbuhan positif 0,6 persen pada Oktober
Bogor berada di kisaran -2,4 persen pada November hingga -0,9 persen pada Desember. Di Pulau Jawa, fluktuasi juga terjadi di kota-kota besar lainnya.
Bandung mencatatkan pergerakan harga antara -0,8 persen pada Oktober hingga 0,8 persen pada Desember. Semarang berada di kisaran -1,0 persen pada November hingga 0,8 persen pada Oktober, sementara Surabaya mencatat rentang -1,1 persen pada November hingga 0,4 persen pada Desember.
Adapun Surakarta menjadi kota dengan penurunan harga terdalam, yakni berada di rentang -6,9 persen pada November hingga -0,6 persen pada Oktober.
Di luar Pulau Jawa, Makassar juga mencatat fluktuasi tajam. Setelah sempat tumbuh 3,5 persen pada Oktober, harga properti di kota ini anjlok ke -5,1 persen pada November.
Meskipun beberapa daerah seperti Bekasi dan Denpasar masih mencatatkan pertumbuhan positif, secara umum pasar properti nasional memasuki 2026 dengan tantangan berupa perlambatan harga dan fluktuasi di berbagai kota besar.
Kondisi ini mencerminkan sikap pasar yang lebih berhati-hati di tengah dinamika ekonomi dan perubahan daya beli masyarakat. (Syarifah Komalasari)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News