Laporan tersebut menunjukkan bahwa kenaikan harga terjadi baik secara bulanan (month-on-month) maupun tahunan (year-on-year), meski di sisi lain suplai rumah sekunder justru mengalami penurunan.
Surakarta catat kenaikan harga bulanan tertinggi
Berdasarkan laporan periode Desember 2025, secara nasional harga rumah sekunder tercatat naik 0,2 persen dibandingkan bulan sebelumnya.Namun, jika dilihat per kota, Surakarta muncul sebagai wilayah dengan kenaikan harga rumah sekunder tertinggi di Indonesia. Kota ini mencatat lonjakan harga sebesar 3,8 persen secara month-on-month.
Setelah Surakarta, kenaikan harga bulanan tertinggi berikutnya terjadi di Makassar naik 1,7 persen, Yogyakarta naik 1,3 persen
Secara keseluruhan, 8 dari 13 kota yang dipantau dalam indeks Rumah123 mencatatkan kenaikan harga rumah sekunder secara bulanan.
Di Pulau Jawa, kota-kota lain yang mengalami kenaikan meliputi Depok: naik 1,3 persen, Bekasi naik 0,4 persen, Surabaya naik 0,4 persen, Bandung naik 0,2 persen, Semarang naik 0,2 persen
Denpasar dan Bekasi unggul dalam kenaikan tahunan
Jika ditinjau secara year-on-year, indeks harga rumah sekunder pada Desember 2025 tercatat 0,7 persen lebih tinggi dibandingkan Desember 2024. Sebanyak 9 dari 13 kota mencatatkan kenaikan harga tahunan.Denpasar menjadi kota dengan pertumbuhan harga tahunan tertinggi, yakni 2,5 persen. Posisi ini diikuti oleh Bekasi naik 2,4 persen, Makassar naik 2,3 persen. Sementara itu, kota lain yang juga mengalami kenaikan harga tahunan antara lain Yogyakarta 1,7 persen, Medan 1,1 persen, Bandung 0,8 persen, Surabaya 0,4 persen, Tangerang 0,4 persen, Depok 0,1 persen
Pergerakan harga rumah sekunder di Jabodetabek
Di kawasan Jabodetabek, dinamika harga rumah sekunder menunjukkan variasi antarwilayah. Pada Desember 2025, Depok dan Bekasi menjadi kota dengan kenaikan bulanan tertinggi, masing-masing 1,3 persen dan 0,4 persen.Jika dilihat secara tahunan, Bekasi tetap menjadi wilayah paling unggul di Jabodetabek dengan kenaikan harga 2,4 persen year-on-year, melampaui Tangerang (0,4 persen) dan Depok (0,1 persen).
Untuk wilayah luar Pulau Jawa, Makassar mencatatkan performa positif dengan kenaikan harga 1,7 persen secara bulanan dan 2,3 persen secara tahunan.
Sementara itu, Denpasar meskipun tidak mencatatkan lonjakan signifikan secara bulanan, tetap menjadi kota dengan pertumbuhan harga tahunan tertinggi secara nasional. Medan juga menunjukkan pertumbuhan yang relatif stabil dengan kenaikan 1,1 persen year-on-year.
Suplai rumah sekunder menyusut
Di tengah kenaikan harga, suplai rumah sekunder justru menunjukkan tren penurunan. Berdasarkan Indeks Suplai Rumah Sekunder Rumah123, volume suplai turun 1,0 persen secara month-on-month dan anjlok 9,1 persen secara year-on-year.Dari sisi permintaan, Tangerang masih menjadi wilayah paling diminati pencari properti dengan pangsa pasar 13,9 persen, disusul Jakarta Selatan (11,4 persen) dan Jakarta Barat (9,7 persen).
Meski demikian, sejumlah wilayah populer justru mengalami penurunan minat secara bulanan, seperti Jakarta Barat turun 1,2 persen, Jakarta Selatan turun 0,8 persen, dan Tangerang turun 0,4 persen
Sebaliknya, Tangerang Selatan dan Depok mencatatkan kenaikan popularitas masing-masing 0,2 persen dan 0,1 persen. Di luar Pulau Jawa, Batam juga mengalami kenaikan minat pencari properti sebesar 0,2 persen month-on-month. (Syarifah Komalasari)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News