Permintaan ruang kantor berangsur pulih di 2026. Foto: Freepik
Permintaan ruang kantor berangsur pulih di 2026. Foto: Freepik

Pasar Perkantoran 2026 Tunjukkan Sinyal Pemulihan

Rizkie Fauzian • 22 Januari 2026 18:28
Jakarta: Pasar properti nasional menunjukkan tanda-tanda penguatan secara bertahap memasuki 2026, setelah sepanjang 2025 bertahan di tengah iklim ekonomi dan investasi yang masih cenderung berhati-hati.
 
Di sejumlah kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Bali, pengembang maupun penyewa memilih untuk tidak melakukan ekspansi agresif. Strategi yang diambil lebih berfokus pada efisiensi operasional, fleksibilitas ruang, serta pemilihan lokasi yang benar-benar strategis.
 
Meski demikian, sektor perkantoran, ritel, dan perhotelan relatif stabil berkat pasokan yang tetap terkendali. Sementara itu, pasar industri dan residensial terus mencatat pertumbuhan seiring meningkatnya aktivitas manufaktur, geliat pariwisata, serta perkembangan kawasan perkotaan baru.

Colliers menilai, sepanjang 2025 pelaku pasar masih dihadapkan pada anggaran yang ketat, perubahan perilaku konsumen dan penyewa, serta ketidakpastian global yang mendorong pola belanja dan ekspansi menjadi lebih konservatif. Namun, kondisi tersebut mulai berangsur membaik.
 
Memasuki 2026, prospek pasar properti diperkirakan bergerak ke arah yang lebih positif. Dengan pasokan yang tetap terjaga dan permintaan yang perlahan pulih, properti yang berlokasi strategis serta dikelola secara profesional diprediksi akan mencatatkan tingkat permintaan yang lebih tinggi, sekaligus menciptakan kondisi pasar yang lebih seimbang.

Perkantoran Jakarta: pemulihan berjalan bertahap

Pasar perkantoran Jakarta sepanjang 2025 menunjukkan arah pemulihan yang semakin jelas, meski masih berlangsung secara bertahap. Aktivitas sewa didominasi oleh perpanjangan kontrak, namun pada semester kedua 2025 mulai terlihat peningkatan minat relokasi dan ekspansi.
 
Perkembangan ini mencerminkan membaiknya sentimen bisnis, kembalinya arus investasi secara perlahan, serta optimisme pelaku usaha terhadap prospek pasar pada 2026. Aktivitas sewa relatif stabil, meskipun penyewa tetap bersikap selektif di tengah banyaknya pilihan ruang kantor yang tersedia.
 
Efisiensi biaya menjadi pertimbangan utama, khususnya dalam membandingkan tarif sewa dan paket insentif. Penyewa cenderung memprioritaskan gedung yang mampu menawarkan keseimbangan antara lokasi strategis, kualitas bangunan, serta biaya hunian yang kompetitif.
 
Di tengah proses pemulihan ini, pemilik gedung diharapkan tetap disiplin menjaga kualitas aset melalui pemeliharaan dan renovasi, sembari menunggu momentum pasar yang lebih kuat. Dalam jangka pendek, kondisi pasar masih memberikan posisi tawar yang lebih besar bagi calon penyewa dan investor untuk memperoleh gedung dengan lokasi prima, kualitas bangunan baik, dukungan teknologi, serta pengelolaan yang profesional.

Pasokan terbatas jadi penopang

Berbeda dengan Jakarta, pasar perkantoran Surabaya diperkirakan tidak akan menerima tambahan pasokan baru hingga 2028. Keterbatasan pasokan ini diharapkan dapat meredakan tekanan persaingan dan membantu gedung-gedung eksisting untuk lebih fokus meningkatkan tingkat hunian.
 
Secara umum, penyewa di Surabaya masih mengambil keputusan secara hati-hati. Faktor fleksibilitas, biaya yang kompetitif, serta ketersediaan ruang kantor siap pakai menjadi pertimbangan utama. Dalam kondisi ini, kemampuan beradaptasi menjadi kunci bagi pemilik gedung dan investor.
 
Strategi seperti penyediaan unit dengan ukuran fleksibel, penyesuaian struktur sewa, serta respons yang cepat terhadap kebutuhan penyewa dinilai lebih efektif dibandingkan sekadar melakukan penyesuaian tarif sewa.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(KIE)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan