Berdasarkan data Rumah123, tahun 2025 justru disebut sebagai fase konsolidasi pasar. Pergerakan pasar cenderung tenang, harga relatif stabil, dan suku bunga mulai berada di level yang lebih ramah bagi konsumen. Namun di sisi lain, ketersediaan stok hunian semakin terbatas.
Tercatat, supply rumah sekunder mengalami penurunan sebesar 9,1 persen secara tahunan (year on year/YoY). Kondisi ini membuat pembeli dituntut lebih cermat dalam menentukan pilihan properti.
“Ini bukan pasar untuk pembelian yang impulsif. Ini adalah pasar bagi mereka yang benar-benar memahami apa yang mereka butuhkan,” tulis laporan Rumah123, dikutip Kamis, 21 Januari 2026.
Rumah tapak jadi pilihan hunian jangka panjang
Data Rumah123 juga menunjukkan adanya perubahan pola pikir pencari hunian. Masyarakat kini semakin mampu membedakan antara properti sebagai tempat tinggal dan properti sebagai instrumen finansial.Dalam tren tersebut, rumah tapak semakin diposisikan sebagai hunian untuk menetap dalam jangka panjang. Sementara itu, apartemen lebih banyak diperlakukan sebagai hunian transisi atau aset investasi yang ditujukan untuk disewakan kembali.
Perubahan ini menandakan bahwa keputusan membeli properti tidak lagi sekadar didorong oleh selera atau tren semata.
“Keputusan memilih properti saat ini sudah menjadi bagian dari perencanaan hidup dan strategi keuangan jangka panjang,” jelas laporan tersebut.
Dengan kondisi pasar yang relatif stabil namun stok terbatas, calon pembeli dinilai perlu lebih matang dalam menyusun strategi, baik untuk kebutuhan hunian maupun investasi properti ke depan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News