Jemuran pakaian di balkon rumah susun tua di Hong Kong. Setiap unit rumah susun murah seperti ini dapat dihuni dua keluarga sekaligus. AFP Photo/Anthony Wallace
Jemuran pakaian di balkon rumah susun tua di Hong Kong. Setiap unit rumah susun murah seperti ini dapat dihuni dua keluarga sekaligus. AFP Photo/Anthony Wallace

Cage Home, Potret Suram Hunian di Hong Kong

Properti hong kong tiongkok china economy
Rizkie Fauzian • 18 Desember 2018 06:06
Hong Kong: Landscape kota ini merupakan contoh hutan beton dalam arti sesungguhnya. Di dalam ribuan pencakar langitnya berkantor perusahaan jasa keuangan multinasional dan perbelajaan mewah.
 
Di balik gemerlapnya Hong Kong, jutaan warga hidup dalam kemiskinan akibat tingginya biaya hidup dan properti. Tak sedikit warganya yang berkerja di sektor informal tinggal dalam cage home, hunian kumuh dalam unit-unit rumah susun tua.
 
Dengan penghasilan sekadarnya, tak heran banyak warga Hong Kong yang harus rela tinggal di hunian serupa kandang unggas sehingga tak layak disebut tempat tinggal. Cage home atau rumah berkerangkeng mulai banyak ditemui di Hong Kong pada 1950.

baca juga: Tol laut terpanjang dunia Hong Kong - Tiongkok


Awalnya hunian tersebut merupakan penampungan sementara bagi imigran dari Tiongkok daratan yang bekerja sebagai buruh proyek kontruksi. Bloomberg mencatat per 2017 cage home adalah tempat tinggal bagi mayoritas dari 14,7 persen warga miskin Hong Kong.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Meski bentuknya serupa kandang, namun harga sewanya tergolong tinggi. Sedemikian tinggi hingga satu cage home biasa dihuni 2-3 orang sekaligus. Mereka bergantian tidur di sana sesuai jadwal kerjanya masing-masing.
 
Cage Home, Potret Suram Hunian di Hong Kong
Seorang tuna wisma di Hong Kong melintas di depan dinding yang penuh dengan stiker pengumuman sewa properti. AFP Photo/Philip Fong
 
Bila di dalam setiap unit rusun tipe studio berisi 5-6 unit cage home, bisa dibayangkan betapa padat dan sumpek suasananya. Mereka berbagi toilet dan dapur yang kondisinya juga ala kadarnya.
 
Meski tidak layak huni, di dalam laporannya Bloomberg di dalam karena permintaan terhadap cage home tidak pernah sepi. Layaknya apartemen dan kondominium di Hong Kong, harga sewa Cage Home terus meningkat. Warga yang tidak mampu menjangkaunya, akhirnya 'bertampat tinggal' di lorong-lorong dan basement gedung.
 
Meski kriteria warga miskin di Hong Kong adalah berpendapatan hinggga Rp 7 juta per bulan yang artinya jauh di atas Indonesia, namun mereka harus berebut lahan yang sebenarnya tidak ada. Padatnya populasi membuat tempat tinggal layak huni adalah barang mewah di Hong Kong.
 

 

(LHE)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif