Penyewa kini memprioritaskan gedung dengan sertifikasi hijau, efisiensi energi, kualitas udara dalam ruang (indoor air quality/IAQ) yang baik, serta integrasi teknologi gedung pintar. Tren flight to quality pun masih berlanjut, dengan pergerakan menuju gedung-gedung Premium dan Grade A.
Gedung perkantoran Grade A di kawasan CBD tercatat memiliki tingkat hunian tinggi, sekitar 80 persen, yang ditopang oleh permintaan stabil meskipun kondisi global masih diliputi ketidakpastian. Aktivitas serapan ruang terutama berasal dari relokasi, rightsizing, serta restrukturisasi sewa.
Selama lebih dari satu tahun terakhir, CBD Jakarta tidak memperoleh tambahan pasokan gedung perkantoran baru. Kondisi ini berdampak positif terhadap rerata tingkat hunian hingga akhir 2025.
Berdasarkan pembaruan Knight Frank Indonesia, dinamika pasar perkantoran CBD Jakarta mencatat beberapa indikator berikut:
- Pasokan ruang kantor tetap di kisaran 7.326.495 meter persegi.
- Tingkat hunian meningkat perlahan menjadi 79,3 persen.
- Serapan ruang sepanjang 2025 mencapai 223.737 meter persegi.
- Rata-rata harga sewa menguat sekitar 1 persen secara tahunan (yoy).
- Potensi penyewa berasal dari sektor pertambangan, teknologi informasi, perbankan, konstruksi, serta energi.
- Stok baru diperkirakan mulai kembali bertambah pada 2028.
“Diferensiasi aset berbasis kualitas, performa ESG, kapabilitas manajemen gedung, serta lingkungan dengan amenitas lengkap akan menjadi penentu utama daya saing gedung perkantoran,” ujar dia.
Sementara itu, Head of Strategic Consultancy Knight Frank Indonesia, Sindiani Adinata, menambahkan bahwa saat ini terjadi pergeseran menuju flight to green.
“Dengan rerata okupansi gedung bersertifikasi hijau yang terus membaik, diharapkan transisi menuju dominasi green office building di CBD Jakarta dapat semakin dipercepat,” kata Sindiani.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News