Fenomena decoupling antara BI Rate dan SBDK
Berdasarkan penelusuran historis terhadap rata-rata Suku Bunga Dasar Kredit (SBDK) lima bank dengan pertumbuhan KPR terbesar, yaitu BCA, BRI, Mandiri, BTN, dan BNI, ditemukan adanya fenomena decoupling atau pergerakan yang berlawanan antara BI Rate dan SBDK.Fenomena tersebut terlihat pada akhir 2024 ketika Bank Indonesia mulai menurunkan BI Rate secara bertahap. Di saat yang sama, SBDK perbankan justru meningkat dari 8,52 persen menjadi 9,27 persen.
| Baca juga: BI Rate Naik, Bagaimana Prospek Pasar Properti? |
Konsumen cenderung menunda keputusan pembelian
VP of Marketing Rumah123 Firman Pamungkas mengatakan kenaikan bunga biasanya tidak langsung membuat masyarakat membatalkan rencana membeli rumah."Ketika suku bunga meningkat, konsumen umumnya tidak langsung membatalkan rencana membeli rumah. Yang lebih sering terjadi adalah mereka memperpanjang fase pertimbangan, melakukan lebih banyak simulasi pembiayaan, dan menjadi lebih selektif dalam menentukan harga rumah yang sesuai dengan kemampuan cicilan mereka," ujar Firman.
Rumah123 juga mencatat kunjungan ke halaman simulasi KPR sempat turun hingga 30 persen pada Oktober 2024 saat SBDK mulai meningkat. Hal ini menunjukkan bahwa perubahan bunga lebih banyak memengaruhi perilaku dan kehati-hatian calon pembeli dibandingkan menghilangkan minat untuk memiliki rumah.
Berdasarkan pola historis, Rumah123 memperkirakan dampak kenaikan BI Rate terhadap penyaluran KPR baru akan terasa sekitar enam bulan setelah kebijakan diterapkan.
Dengan demikian, pengaruh kenaikan BI Rate Mei 2026 diperkirakan baru terlihat pada kuartal IV 2026 hingga kuartal I 2027. Meski demikian, pasar pembiayaan perumahan masih berpotensi tumbuh karena kebutuhan hunian masyarakat tetap tinggi.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda