Ilustrasi kenaikan suku bunga. Foto: Shutterstock
Ilustrasi kenaikan suku bunga. Foto: Shutterstock

Kenaikan BI Rate Belum Tentu Langsung Dongkrak Bunga KPR

Rizkie Fauzian • 15 Juni 2026 16:06
Ringkasnya gini..
  • Rumah123 menemukan fenomena decoupling antara BI Rate dan SBDK perbankan sehingga pergerakannya tidak selalu searah.
  • Kenaikan BI Rate menjadi 5,25 persen belum tentu langsung diikuti lonjakan bunga KPR oleh perbankan.
  • Dampak kebijakan suku bunga terhadap penyaluran KPR diperkirakan baru terasa pada kuartal IV 2026 hingga kuartal I 2027.
Jakarta: Keputusan Bank Indonesia menaikkan BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen pada Mei 2026 memunculkan kekhawatiran akan naiknya biaya Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Namun, analisis Rumah123 menunjukkan bahwa hubungan antara suku bunga acuan dan bunga kredit perbankan tidak lagi selalu bergerak searah.

Fenomena decoupling antara BI Rate dan SBDK

Berdasarkan penelusuran historis terhadap rata-rata Suku Bunga Dasar Kredit (SBDK) lima bank dengan pertumbuhan KPR terbesar, yaitu BCA, BRI, Mandiri, BTN, dan BNI, ditemukan adanya fenomena decoupling atau pergerakan yang berlawanan antara BI Rate dan SBDK.
 
Fenomena tersebut terlihat pada akhir 2024 ketika Bank Indonesia mulai menurunkan BI Rate secara bertahap. Di saat yang sama, SBDK perbankan justru meningkat dari 8,52 persen menjadi 9,27 persen.
Baca juga: BI Rate Naik, Bagaimana Prospek Pasar Properti?
Kondisi ini menunjukkan bahwa bank tidak hanya mempertimbangkan BI Rate dalam menentukan bunga kredit. Faktor lain seperti biaya dana, target margin, likuiditas, dan tingkat persaingan pasar KPR turut memengaruhi kebijakan suku bunga masing-masing bank.

Konsumen cenderung menunda keputusan pembelian

VP of Marketing Rumah123 Firman Pamungkas mengatakan kenaikan bunga biasanya tidak langsung membuat masyarakat membatalkan rencana membeli rumah.
 
"Ketika suku bunga meningkat, konsumen umumnya tidak langsung membatalkan rencana membeli rumah. Yang lebih sering terjadi adalah mereka memperpanjang fase pertimbangan, melakukan lebih banyak simulasi pembiayaan, dan menjadi lebih selektif dalam menentukan harga rumah yang sesuai dengan kemampuan cicilan mereka," ujar Firman.

Rumah123 juga mencatat kunjungan ke halaman simulasi KPR sempat turun hingga 30 persen pada Oktober 2024 saat SBDK mulai meningkat. Hal ini menunjukkan bahwa perubahan bunga lebih banyak memengaruhi perilaku dan kehati-hatian calon pembeli dibandingkan menghilangkan minat untuk memiliki rumah.
 
Berdasarkan pola historis, Rumah123 memperkirakan dampak kenaikan BI Rate terhadap penyaluran KPR baru akan terasa sekitar enam bulan setelah kebijakan diterapkan.
 
Dengan demikian, pengaruh kenaikan BI Rate Mei 2026 diperkirakan baru terlihat pada kuartal IV 2026 hingga kuartal I 2027. Meski demikian, pasar pembiayaan perumahan masih berpotensi tumbuh karena kebutuhan hunian masyarakat tetap tinggi.
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(KIE)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan