NEWS
Harga Rumah Seken Tertahan, Makassar dan Denpasar Justru Melonjak
Rizkie Fauzian
Kamis 27 Agustus 2026 / 18:40
- Harga rumah sekunder nasional hanya tumbuh 0,9 persen secara tahunan hingga Juli 2026.
- Pertumbuhan tersebut berada di bawah inflasi nasional yang mencapai 2,9 persen.
- Makassar mencatat kenaikan harga rumah sekunder tertinggi sebesar 10 persen, disusul Denpasar 6,3 persen.
Jakarta: Harga rumah sekunder di Indonesia masih mengalami pertumbuhan terbatas hingga Juli 2026. Resale Price Index (RPI) Rumah123 tumbuh 0,9 persen secara tahunan, lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang mencapai 2,9 persen.
Kondisi tersebut menunjukkan harga rumah sekunder secara riil mengalami pelemahan setelah memperhitungkan inflasi. Pergerakan harga juga berbeda di setiap kota, dengan sejumlah wilayah mencatat kenaikan jauh di atas rata-rata nasional.
Temuan tersebut tercatat dalam Flash Report Agustus 2026 by Rumah123. Tren harga rumah sekunder yang tumbuh di bawah inflasi telah berlangsung selama 16 bulan berturut-turut sejak April 2025.
Harga rumah seken tumbuh 0,9 persen, masih di bawah inflasi. Foto: Freepik
Selisih antara pertumbuhan harga rumah dan inflasi mencapai sekitar dua poin persentase. Artinya, meskipun harga rumah sekunder secara nominal masih meningkat, kenaikannya belum mampu mengimbangi kenaikan harga barang dan jasa secara umum.
Kondisi tersebut dapat menjadi peluang bagi calon pembeli karena kenaikan harga rumah relatif lebih terbatas dibandingkan tekanan inflasi.
Di sisi pembiayaan, suku bunga acuan Bank Indonesia berada di level 4,75 persen, turun 150 basis poin sejak September 2024. Sementara estimasi Suku Bunga Dasar Kredit (SBDK) untuk KPR/KPA berada di kisaran 8,92 persen.
Makassar mencatat pertumbuhan harga rumah sekunder tertinggi sebesar 10 persen secara tahunan, disusul Denpasar 6,3 persen dan Bogor 3,7 persen.
Di kawasan Jabodetabek, Bogor mencatat kenaikan 3,7 persen, sementara Bekasi dan Depok masing-masing tumbuh 2,3 persen. Harga rumah sekunder di Tangerang naik 1,1 persen, sedangkan Jakarta tumbuh 0,4 persen.
"Angka nasional memang menunjukkan pertumbuhan yang terbatas, tapi ketika dilihat per kota, perbedaannya cukup signifikan. Ini yang membuat pencari rumah perlu melihat pasar secara lebih spesifik," ujar Marisa Jaya, Head of Market Research Rumah123.
Dari pasar internasional, kebijakan Second-Home Visa dan Golden Visa turut mendorong minat investor, khususnya dari Eropa, Australia, dan kawasan Asia Pasifik.
Sementara dari pasar domestik, Bali masih menjadi salah satu tujuan investasi properti dan second home bagi masyarakat kelas menengah atas.
Kombinasi permintaan yang tetap kuat dan keterbatasan lahan membuat harga rumah di Denpasar tumbuh lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional.
Pada segmen 61-90 meter persegi, Yogyakarta mencatat pertumbuhan 28,4 persen, dengan median harga Rp1,1 miliar.
Sementara rumah dengan luas 91-150 meter persegi di Makassar mencatat pertumbuhan 12,3 persen, dengan median harga Rp1,6 miliar.
Kenaikan pada segmen rumah berukuran lebih kecil menjadi perhatian karena kategori tersebut banyak dicari pembeli rumah pertama.
Data tersebut menunjukkan pertumbuhan harga rumah tidak bisa dilihat hanya berdasarkan angka nasional. Lokasi dan luas bangunan tetap menjadi faktor penting dalam menentukan pergerakan harga properti.
(KIE)
Kondisi tersebut menunjukkan harga rumah sekunder secara riil mengalami pelemahan setelah memperhitungkan inflasi. Pergerakan harga juga berbeda di setiap kota, dengan sejumlah wilayah mencatat kenaikan jauh di atas rata-rata nasional.
Temuan tersebut tercatat dalam Flash Report Agustus 2026 by Rumah123. Tren harga rumah sekunder yang tumbuh di bawah inflasi telah berlangsung selama 16 bulan berturut-turut sejak April 2025.
Harga rumah sekunder tumbuh di bawah inflasi

Harga rumah seken tumbuh 0,9 persen, masih di bawah inflasi. Foto: Freepik
Selisih antara pertumbuhan harga rumah dan inflasi mencapai sekitar dua poin persentase. Artinya, meskipun harga rumah sekunder secara nominal masih meningkat, kenaikannya belum mampu mengimbangi kenaikan harga barang dan jasa secara umum.
Kondisi tersebut dapat menjadi peluang bagi calon pembeli karena kenaikan harga rumah relatif lebih terbatas dibandingkan tekanan inflasi.
Di sisi pembiayaan, suku bunga acuan Bank Indonesia berada di level 4,75 persen, turun 150 basis poin sejak September 2024. Sementara estimasi Suku Bunga Dasar Kredit (SBDK) untuk KPR/KPA berada di kisaran 8,92 persen.
Makassar catat kenaikan harga tertinggi
Meskipun pertumbuhan nasional terbatas, sejumlah kota menunjukkan kenaikan harga yang cukup tinggi.Makassar mencatat pertumbuhan harga rumah sekunder tertinggi sebesar 10 persen secara tahunan, disusul Denpasar 6,3 persen dan Bogor 3,7 persen.
Di kawasan Jabodetabek, Bogor mencatat kenaikan 3,7 persen, sementara Bekasi dan Depok masing-masing tumbuh 2,3 persen. Harga rumah sekunder di Tangerang naik 1,1 persen, sedangkan Jakarta tumbuh 0,4 persen.
Surabaya mencatat kontraksi harga sebesar 0,5 persen
Secara keseluruhan, 10 dari 13 kota yang masuk dalam indeks Rumah123 mencatat kenaikan harga tahunan."Angka nasional memang menunjukkan pertumbuhan yang terbatas, tapi ketika dilihat per kota, perbedaannya cukup signifikan. Ini yang membuat pencari rumah perlu melihat pasar secara lebih spesifik," ujar Marisa Jaya, Head of Market Research Rumah123.
Denpasar ditopang permintaan investasi
Denpasar menjadi salah satu pasar dengan kenaikan harga cukup tinggi. Pertumbuhan sebesar 6,3 persen didukung permintaan dari investor asing maupun domestik.Dari pasar internasional, kebijakan Second-Home Visa dan Golden Visa turut mendorong minat investor, khususnya dari Eropa, Australia, dan kawasan Asia Pasifik.
Sementara dari pasar domestik, Bali masih menjadi salah satu tujuan investasi properti dan second home bagi masyarakat kelas menengah atas.
Kombinasi permintaan yang tetap kuat dan keterbatasan lahan membuat harga rumah di Denpasar tumbuh lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional.
Rumah berukuran kecil mengalami kenaikan tinggi
Pergerakan harga juga berbeda berdasarkan luas bangunan. Untuk rumah dengan luas bangunan hingga 60 meter persegi, Jakarta Selatan mencatat pertumbuhan median harga tertinggi sebesar 29,4 persen YoY, dengan median harga Rp1,1 miliar.Pada segmen 61-90 meter persegi, Yogyakarta mencatat pertumbuhan 28,4 persen, dengan median harga Rp1,1 miliar.
Sementara rumah dengan luas 91-150 meter persegi di Makassar mencatat pertumbuhan 12,3 persen, dengan median harga Rp1,6 miliar.
Kenaikan pada segmen rumah berukuran lebih kecil menjadi perhatian karena kategori tersebut banyak dicari pembeli rumah pertama.
Data tersebut menunjukkan pertumbuhan harga rumah tidak bisa dilihat hanya berdasarkan angka nasional. Lokasi dan luas bangunan tetap menjadi faktor penting dalam menentukan pergerakan harga properti.
(KIE)