Sektor properti Indonesia membaik sepanjang 2025. Foto: Freepik
Sektor properti Indonesia membaik sepanjang 2025. Foto: Freepik

Pasar Properti Indonesia Menguat di Akhir 2025

Rizkie Fauzian • 12 Februari 2026 21:59
Ringkasnya gini..
  • Laporan JLL mencatat pasar properti Indonesia menguat pada akhir 2025, dengan tingkat okupansi perkantoran CBD Jakarta mencapai 72 persen, tertinggi sejak 2019.
  • Sektor ritel mencatat okupansi 86 persen, sementara pergudangan di Jabodetabek menembus 96 persen, didorong permintaan dari investor asing.
  • Meski sektor perumahan tapak relatif stabil, peluncuran kluster baru menurun, namun pasar properti Indonesia tetap dinilai menjanjikan untuk investasi jangka panjang.
Jakarta: Pasar properti Indonesia menunjukkan perkembangan positif pada akhir 2025, berdasarkan laporan terbaru JLL Indonesia. Pertumbuhan ini terjadi secara merata di berbagai sektor, mulai dari perkantoran, ritel, perumahan tapak, hingga pergudangan.

Perkantoran CBD mulai pulih

Head of Research JLL, James Taylor, mengatakan pasar perkantoran di kawasan pusat bisnis (CBD) Jakarta mulai memperlihatkan pemulihan signifikan. Tingkat okupansi tercatat mencapai 72 persen pada akhir 2025, menjadi yang tertinggi sejak 2019.
 
Pencapaian tersebut didorong oleh tambahan pasokan gedung baru di kawasan CBD serta perpindahan penyewa dari gedung non-CBD ke CBD demi memperoleh fasilitas premium dan konektivitas yang lebih baik.
 
“Secara umum, pasar perkantoran CBD menunjukkan perkembangan positif. Di CBD kita berbicara tentang pemulihan, sementara di luar CBD kita melihat stabilisasi. Permintaan pada kuartal keempat masih positif,” ujar James, Kamis, 12 Februari 2026.

Kenaikan permintaan turut mendorong peningkatan harga sewa kantor grade A. Head of Office Leasing Advisory JLL, Rosari Chia, menyebutkan harga sewa kantor grade A naik 0,87 persen secara kuartalan, dengan pertumbuhan tahunan mencapai 3,7 persen.

Ritel menguat, okupansi capai 86 Persen

Penguatan juga terjadi di sektor ritel. Pada penghujung 2025, hadir pusat perbelanjaan baru seluas 25.000 meter persegi di Jakarta Utara yang turut mendorong peningkatan permintaan ruang sewa.
 
Tingkat okupansi pusat perbelanjaan kini mencapai 86 persen. Penyewa masih didominasi merek internasional, khususnya dari Tiongkok, yang menyasar sektor makanan dan minuman (F&B), fesyen, serta gaya hidup.
 
Rosari menambahkan, konsep pusat perbelanjaan pada 2026 diperkirakan akan semakin mengakomodasi tren olahraga, seiring meningkatnya popularitas padel dan gaya hidup aktif.
 
“Shopping experience harus menjawab seluruh demand dari berbagai generasi. Tren global terus berkembang, termasuk di bidang olahraga. Ini menjadi salah satu demand yang terus tumbuh,” ujarnya.

Perumahan tapak stabil, permintaan terkoreksi

Sementara itu, sektor perumahan tapak menunjukkan kondisi yang relatif stabil. Senior Director Strategic Consulting JLL, Milda Abidin, menjelaskan terdapat keseimbangan antara pasokan dan permintaan di pasar.
 
Optimisme pengembang masih terlihat, salah satunya melalui kolaborasi pengembang lokal dan asing dalam pengembangan township seluas 150 hektare di Bogor.
 
Dukungan pemerintah melalui insentif pajak turut membantu menjaga daya beli masyarakat, terutama di segmen menengah ke bawah.
 
Namun demikian, permintaan tercatat menurun hampir setengah dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan ini dipengaruhi oleh berkurangnya peluncuran kluster baru yang mengalami penyesuaian hingga 53 persen.

Pergudangan tumbuh, investor asing melirik

Di sektor logistik dan industri, Country Head and Head of Logistics & Industrial JLL, Farazia Basarah, menyampaikan bahwa pergudangan di Jabodetabek mencatat penyerapan hampir 490.000 meter persegi sepanjang 2025, melampaui capaian 2023.
 
Tingkat hunian gudang meningkat dari 90 persen di awal tahun menjadi 96 persen pada akhir 2025. Permintaan didominasi investasi asal Tiongkok, terutama di sektor manufaktur, elektronik, otomotif, serta makanan dan minuman.
 
Senior Director Capital Markets JLL, Herully Suherman, menambahkan bahwa stabilitas politik dan optimisme ekonomi membuat Indonesia semakin dilirik investor properti.
 
Meski investor cenderung lebih berhati-hati akibat dinamika geopolitik global, pasar properti Indonesia dinilai tetap menawarkan peluang investasi jangka panjang yang menjanjikan (Syarifah Komalasari)
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(KIE)




TERKAIT

BERITA LAINNYA