Jakarta: Bisnis properti mulai menggeliat bisa-bisa kembali 'tiarap' akibat pelemahan nilai rukar rupiah yang nyaris menyentuh Rp 15 ribu per USD. Dampaknya memang belum terasa dalam waktu dekat, melainkan beberapa bulan ke depan.
"Jika kondisi seperti ini bertahan 3-6 bulan, pasti berdampak terhadap harga material," ungkap CEO Indonesia Property Watch, Ali Tranghanda kepada Medcom.id.
Bahan bangunan yang rentan terdampak naiknya harga USD antara lain aluminium, kaca, besi, baja termasuk sanitair. Ini karena ada komponen bahan bakunya yang masih harus didatangkan dari luar negeri.
Sementara pemerintah sudah membatasi impor menyusul fluktuasi nilai rupiah. Namun dampak dari pembatasan ini lagi-lagi tidak terlalu signifikan dalam waktu dekat. Di samping komponen impor dalam proyek rumah relatif hanya 5 persen dari total biaya produksi.
baca juga: Rumah murah kalis pelemahan rupiah
"Semakin murah segmennya, biasanya content impor semakin kecil, artinya rumah-rumah murah masih aman," jelas Ali.
Pengembang rumah murah cenderung tidak terkena dampak pelemahan rupiah karena bahan bangunan yang digunakan berasal dari dalam negeri. Berbeda dengan rumah-rumah kelas menengah atas yang bahannya berasal dari impor.
"Berpengaruhnya hanya ke segmen tertentu seperti kelas menengah atas," ujar pengamat properti David Cornelis.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
FOLLOW US
Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan