BTN menjadi penyalur KPR FLPP tertinggi. Foto: Shutterstock
BTN menjadi penyalur KPR FLPP tertinggi. Foto: Shutterstock

Berkontribusi 53%, BTN Jadi Penyalur KPR FLPP Tertinggi

Ade Hapsari Lestarini • 24 November 2022 20:02
Jakarta: PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) menjadi penyalur Kredit Pemilikan Rumah (KPR) Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) tertinggi. Adapun kontribusi perseroan mencapai lebih dari 53 persen.
 
"BTN menjadi penyalur KPR FLPP tertinggi dengan kontribusi lebih dari 53 persen. Sedangkan posisi kedua tertinggi ditempati BTN Syariah dengan kontribusi sebesar 11,85 persen," ungkap Komisioner Badan Pengelola Tabungan Perumahan Rakyat (BP Tapera) Adi Setianto, Kamis, 24 November 2022.
 
Adi menambahkan, jika kedua data tersebut digabungkan, maka pangsa pasar BTN di penyaluran FLPP mencapai lebih dari 65 persen. Adapun realisasi penyaluran KPR FLPP hingga 18 November 2022 telah mencapai Rp21,27 triliun atau sebanyak 191.197 unit.
 
Baca juga: BP Tapera Salurkan Dana FLPP Rp21,137 Triliun hingga November 2022 

Sementara itu, realisasi pembiayaan Tapera mencapai Rp636,7 miliar atau sebanyak 4.256 unit. Dari jumlah tersebut, BTN menjadi penopang utama dengan menyalurkan pembiayaan Tapera sebanyak 3.093 unit rumah, atau lebih dari 72 persen.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kami berharap bank lain ikut meningkatkan lagi kontribusi dan perannya dalam penyaluran program KPR untuk rakyat, baik dalam bentuk penyaluran dana Tapera ataupun FLPP. Tanpa partisipasi aktif perbankan, kita akan sulit menekan angka backlog perumahan sebagaimana amanat pemerintah," katanya.

Kurangi backlog perumahan

Adi mengungkapkan, salah satu yang akan menjadi fokus BP Tapera untuk mengurangi backlog perumahan yakni dengan menyalurkan pembiayaan perumahan ke pekerja sektor informal.
 
Namun, ada beberapa tantangan yang menjadi pekerjaan rumah dalam menangani pekerja informal di antaranya, pekerja informal tidak memiliki catatan keuangan yang lengkap dan sulit diverifikasi.
 
Kemudian pekerja informal juga memiliki keterbatasan kapasitas menabung karena penghasilan yang diperoleh umumnya habis untuk kebutuhan sehari-hari serta pekerja Informal belum sepenuhnya affordable terhadap program perumahan.
 
Tantangan berikutnya, lanjut dia, dari sisi produk belum ada program pembiayaan perumahan yang spesifik untuk pekerja informal. "Sedangkan tantangan dari sisi ekosistem pembiayaan perumahan belum tersedia data yang terintegrasi untuk segmen pekerja informal dan mayoritas segmen ini berada di pedesaan yang relatif sulit terjangkau," tegasnya.

 
(KIE)




LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif