FITNESS & HEALTH
Abu Vulkanik Anak Krakatau Beterbangan, Ini Pakaian yang Bisa Lindungi Kulit
A. Firdaus
Selasa 08 September 2026 / 08:29
- Abu vulkanik Gunung Anak Krakatau juga bisa mengiritasi kulit.
- Perlindungan tidak berhenti pada pakaian.
- Abu vulkanik yang menempel pada kulit sebaiknya tidak dibersihkan dengan cara menggosoknya secara keras.
Jakarta: Abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau tak hanya perlu diwaspadai karena bisa mengganggu pernapasan. Kulit juga perlu mendapat perlindungan, terutama ketika masyarakat harus beraktivitas atau membersihkan area yang dipenuhi abu.
Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Dr. Arini Astasari Widodo, SM, SpDVE menyarankan masyarakat mengenakan pakaian yang dapat meminimalkan bagian kulit yang terbuka selama terjadi penyebaran abu vulkanik.
"Gunakan pakaian yang dapat meminimalkan permukaan kulit yang terbuka, seperti baju lengan panjang, celana panjang, sepatu tertutup," kata Dr. Arini melansir Antara.
Menurut Dr. Arini, pakaian tertutup menjadi semakin penting ketika masyarakat harus membersihkan area yang banyak tertutup abu vulkanik. Penggunaan baju lengan panjang dan celana panjang juga sejalan dengan rekomendasi United States Geological Survey (USGS) untuk mengurangi paparan abu pada kulit.
Perlindungan tidak berhenti pada pakaian. Saat harus keluar rumah ketika abu masih beterbangan, masyarakat juga disarankan menggunakan masker dengan filtrasi yang baik dan pelindung mata.
Topi dan sarung tangan juga dapat digunakan sebagai perlindungan tambahan.
"Jika harus berada di luar ketika abu masih berada di udara, gunakan masker yang memiliki filtrasi baik dan pelindung mata. Sebisa mungkin kurangi aktivitas di luar ruangan ketika hujan abu sedang cukup berat," ujar Dr. Arini, anggota Perhimpunan Dokter Spesialis Dermatologi, Venereologi, dan Estetika Indonesia (Perdoski).
Jika kondisi memungkinkan, masyarakat sebaiknya tetap berada di dalam ruangan saat abu vulkanik sedang cukup tebal. Jangan lupa menutup pintu dan jendela untuk mengurangi abu masuk ke dalam rumah.
Lantas, bagaimana dengan sunscreen? Menurut Dr. Arini, penggunaan tabir surya tetap diperlukan meskipun langit tertutup awan atau abu vulkanik.
Sebab, kondisi tersebut tidak berarti paparan radiasi ultraviolet (UV) sepenuhnya menghilang.
Sunscreen sebaiknya diaplikasikan pada kulit yang sudah bersih dan kering sebelum keluar rumah. Berikan waktu agar produk membentuk lapisan dengan baik di permukaan kulit.
Untuk perlindungan sehari-hari, Dr. Arini menyarankan sunscreen broad-spectrum dengan minimal SPF 30. Pilih tekstur yang nyaman dan tidak terlalu lengket agar lebih mudah digunakan.
Namun, ada satu hal yang perlu diperhatikan saat melakukan re-apply sunscreen.
"Yang penting, jangan mengoleskan ulang sunscreen dengan cara menggosoknya di atas kulit yang sudah dipenuhi abu, karena abu dapat ikut bergesekan dengan kulit," jelasnya.
Jika kulit sudah banyak terkena abu, sebaiknya bilas atau bersihkan secara lembut terlebih dahulu, kemudian keringkan. Setelah itu, sunscreen bisa kembali diaplikasikan.
Dalam kondisi hujan abu yang cukup tebal, pakaian tertutup, topi, dan mengurangi aktivitas di luar ruangan justru menjadi perlindungan yang lebih penting daripada terus menambahkan lapisan sunscreen.
Abu vulkanik yang menempel pada kulit sebaiknya tidak dibersihkan dengan cara menggosoknya secara keras. Dr. Arini menyarankan masyarakat meminimalkan paparan dan membersihkan kulit dengan lembut.
Bila abu sedang cukup banyak, sebisa mungkin tetap berada di dalam ruangan dan tutup pintu serta jendela.
Perhatian ekstra juga perlu diberikan kepada anak-anak, lansia, serta orang yang memiliki eksim atau kulit sangat sensitif.
Setelah terpapar abu vulkanik, segera bersihkan kulit secara lembut. Jika kemudian muncul kemerahan berat, pembengkakan, rasa terbakar yang kuat, luka atau lepuh, maupun keluhan yang tidak membaik setelah dibersihkan, sebaiknya segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.
"Dan tentunya kesehatan kulit hanya salah satu aspek. Abu vulkanik juga dapat mengiritasi mata dan saluran pernapasan, sehingga masyarakat sebaiknya tetap mengikuti informasi dan arahan resmi pemerintah," pungkas Dr. Arini.
Intinya, Lindungi Kulit dari Abu Vulkanik dengan Cara Ini
- Kenakan baju lengan panjang dan celana panjang.
- Gunakan sepatu tertutup.
- Pertimbangkan sarung tangan dan topi saat berada di luar.
- Gunakan masker dengan filtrasi yang baik.
- Pakai pelindung mata.
- Kurangi aktivitas di luar saat hujan abu cukup tebal.
- Bersihkan abu dari kulit dengan lembut, tanpa menggosok keras.
- Tetap gunakan sunscreen broad-spectrum minimal SPF 30.
- Jika ingin re-apply sunscreen, bersihkan abu dari kulit terlebih dahulu.
- Segera ke fasilitas kesehatan jika muncul iritasi atau luka yang berat.
(FIR)
Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Dr. Arini Astasari Widodo, SM, SpDVE menyarankan masyarakat mengenakan pakaian yang dapat meminimalkan bagian kulit yang terbuka selama terjadi penyebaran abu vulkanik.
"Gunakan pakaian yang dapat meminimalkan permukaan kulit yang terbuka, seperti baju lengan panjang, celana panjang, sepatu tertutup," kata Dr. Arini melansir Antara.
Menurut Dr. Arini, pakaian tertutup menjadi semakin penting ketika masyarakat harus membersihkan area yang banyak tertutup abu vulkanik. Penggunaan baju lengan panjang dan celana panjang juga sejalan dengan rekomendasi United States Geological Survey (USGS) untuk mengurangi paparan abu pada kulit.
Jangan Lupakan Mata dan Pernapasan
Perlindungan tidak berhenti pada pakaian. Saat harus keluar rumah ketika abu masih beterbangan, masyarakat juga disarankan menggunakan masker dengan filtrasi yang baik dan pelindung mata.
Topi dan sarung tangan juga dapat digunakan sebagai perlindungan tambahan.
"Jika harus berada di luar ketika abu masih berada di udara, gunakan masker yang memiliki filtrasi baik dan pelindung mata. Sebisa mungkin kurangi aktivitas di luar ruangan ketika hujan abu sedang cukup berat," ujar Dr. Arini, anggota Perhimpunan Dokter Spesialis Dermatologi, Venereologi, dan Estetika Indonesia (Perdoski).
Jika kondisi memungkinkan, masyarakat sebaiknya tetap berada di dalam ruangan saat abu vulkanik sedang cukup tebal. Jangan lupa menutup pintu dan jendela untuk mengurangi abu masuk ke dalam rumah.
Tetap Pakai Sunscreen
Lantas, bagaimana dengan sunscreen? Menurut Dr. Arini, penggunaan tabir surya tetap diperlukan meskipun langit tertutup awan atau abu vulkanik.
Sebab, kondisi tersebut tidak berarti paparan radiasi ultraviolet (UV) sepenuhnya menghilang.
Sunscreen sebaiknya diaplikasikan pada kulit yang sudah bersih dan kering sebelum keluar rumah. Berikan waktu agar produk membentuk lapisan dengan baik di permukaan kulit.
Untuk perlindungan sehari-hari, Dr. Arini menyarankan sunscreen broad-spectrum dengan minimal SPF 30. Pilih tekstur yang nyaman dan tidak terlalu lengket agar lebih mudah digunakan.
Namun, ada satu hal yang perlu diperhatikan saat melakukan re-apply sunscreen.
"Yang penting, jangan mengoleskan ulang sunscreen dengan cara menggosoknya di atas kulit yang sudah dipenuhi abu, karena abu dapat ikut bergesekan dengan kulit," jelasnya.
Jika kulit sudah banyak terkena abu, sebaiknya bilas atau bersihkan secara lembut terlebih dahulu, kemudian keringkan. Setelah itu, sunscreen bisa kembali diaplikasikan.
Dalam kondisi hujan abu yang cukup tebal, pakaian tertutup, topi, dan mengurangi aktivitas di luar ruangan justru menjadi perlindungan yang lebih penting daripada terus menambahkan lapisan sunscreen.
Jangan Menggosok Kulit yang Terkena Abu
Abu vulkanik yang menempel pada kulit sebaiknya tidak dibersihkan dengan cara menggosoknya secara keras. Dr. Arini menyarankan masyarakat meminimalkan paparan dan membersihkan kulit dengan lembut.
Bila abu sedang cukup banyak, sebisa mungkin tetap berada di dalam ruangan dan tutup pintu serta jendela.
Perhatian ekstra juga perlu diberikan kepada anak-anak, lansia, serta orang yang memiliki eksim atau kulit sangat sensitif.
Setelah terpapar abu vulkanik, segera bersihkan kulit secara lembut. Jika kemudian muncul kemerahan berat, pembengkakan, rasa terbakar yang kuat, luka atau lepuh, maupun keluhan yang tidak membaik setelah dibersihkan, sebaiknya segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.
"Dan tentunya kesehatan kulit hanya salah satu aspek. Abu vulkanik juga dapat mengiritasi mata dan saluran pernapasan, sehingga masyarakat sebaiknya tetap mengikuti informasi dan arahan resmi pemerintah," pungkas Dr. Arini.
Intinya, Lindungi Kulit dari Abu Vulkanik dengan Cara Ini
- Kenakan baju lengan panjang dan celana panjang.
- Gunakan sepatu tertutup.
- Pertimbangkan sarung tangan dan topi saat berada di luar.
- Gunakan masker dengan filtrasi yang baik.
- Pakai pelindung mata.
- Kurangi aktivitas di luar saat hujan abu cukup tebal.
- Bersihkan abu dari kulit dengan lembut, tanpa menggosok keras.
- Tetap gunakan sunscreen broad-spectrum minimal SPF 30.
- Jika ingin re-apply sunscreen, bersihkan abu dari kulit terlebih dahulu.
- Segera ke fasilitas kesehatan jika muncul iritasi atau luka yang berat.
(FIR)