FITNESS & HEALTH

Bukan Cuma Hot Flush, Ini Gejala Perimenopause yang Sering Dialami Perempuan Indonesia

A. Firdaus
Selasa 08 September 2026 / 09:14
Ringkasnya gini..
  • Perimenopause tidak selalu ditandai hot flush.
  • 52 persen permpuan mengaku mengalami gangguan tidur.
  • Ada pula mood swing yang membuat suasana hati berubah cukup ekstrem.
Jakarta: Bicara soal menopause, banyak orang mungkin langsung teringat hot flush atau sensasi panas yang datang tiba-tiba. Padahal, memasuki fase perimenopause, perempuan bisa mengalami berbagai perubahan pada tubuh yang tidak selalu berkaitan dengan rasa panas.

Menopause coaching specialist dan ahli gizi bersertifikat MNU, Alvina Olivia, mengatakan perimenopause bahkan bisa dimulai jauh sebelum seorang perempuan benar-benar mengalami menopause.

"Perimenopause itu dimulai bisa 10 tahun sebelumnya. Semisal usia kita saat ini 49, berarti itu sudah dimulai pada usia 39. Kita akan merasa tubuh banyak berubah, kita tidak perlu terlalu tua untuk berada di fase perimenopause," kata Alvina melansir Antara.

Perempuan Indonesia Lebih Sering Mengeluh Pegal


Menurut Alvina, karakteristik keluhan perimenopause pada perempuan Indonesia cukup unik. Ia mengutip temuan studi Pan-Asia Menopause (PAM) yang melibatkan 1.028 perempuan pascamenopause dari 11 negara dan wilayah serta sembilan kelompok etnis.

Dari 18 gejala yang dicatat setiap hari dalam studi tersebut, hanya 5 persen perempuan Indonesia yang melaporkan mengalami hot flush.

Sebaliknya, keluhan yang jauh lebih banyak muncul adalah nyeri atau pegal pada tubuh dan persendian, yang dilaporkan oleh 93 persen responden.

Sementara itu, 52 persen permpuan mengaku mengalami gangguan tidur.

Masalahnya, keluhan seperti pegal, sulit tidur, atau badan terasa tidak enak sering kali dianggap sebagai hal biasa.

Ada yang menganggapnya sebagai efek bertambahnya usia, masuk angin sehingga perlu dikerok, atau sekadar kelelahan setelah menjalani aktivitas sehari-hari.

"Enggak ada yang mengajarkan kita (para wanita) kalau gejala itu bagian dari perjalanan menopause, enggak ada yang menyebut itu menopause," ujar Alvina.
 

Estrogen Mulai Berubah


Alvina menjelaskan, perimenopause sebenarnya merupakan transisi alami yang dialami perempuan menjelang menopause. Salah satu perubahan penting dalam fase ini berkaitan dengan hormon estrogen.

Estrogen tidak hanya berhubungan dengan siklus menstruasi. Hormon ini juga memiliki peran dalam menjaga berbagai fungsi tubuh, termasuk kesehatan tulang dan otot serta distribusi lemak.

Ketika kadar hormon mulai berubah, efeknya pun bisa dirasakan di berbagai bagian tubuh.

"Biasanya perempuan pada titik ini akan merasakan hidup menjadi lebih berat dan tidak merasa menjadi dirinya sendiri," tutur Alvina.

Ia mengibaratkan estrogen seperti peredam kejut atau shockbreaker pada kendaraan. Seiring bertambahnya usia, kemampuan tubuh dalam mempertahankan keseimbangan tersebut ikut berubah.

Salah satu jenis estrogen yang dominan adalah estradiol. Pada masa perimenopause, kadar estradiol dapat mengalami fluktuasi yang cukup besar.

Kadarnya bisa naik cukup tinggi, kemudian turun drastis, lalu kembali meningkat. Perubahan yang naik-turun inilah yang dapat membuat tubuh terasa berbeda dari biasanya.
 

Mulai dari Brain Fog hingga Mood Swing


Perubahan hormon selama perimenopause juga bisa muncul dalam bentuk gejala yang kadang tidak langsung dikaitkan dengan menopause.

Beberapa di antaranya adalah bertambahnya lemak di area perut, brain fog, hingga perubahan suasana hati.

Brain fog misalnya, bisa membuat seseorang mendadak lupa apa yang hendak dilakukan atau sulit berkonsentrasi.

Ada pula mood swing yang membuat suasana hati berubah cukup ekstrem.

Berbagai perubahan tersebut kemudian dapat membuat perempuan merasa tubuhnya tidak lagi seperti biasanya.
 

Jangan Anggap Semua karena Usia


Karena gejala perimenopause bisa berbeda pada setiap orang, Alvina menyarankan perempuan mulai mencatat berbagai perubahan yang dirasakan.

Catatan tersebut bisa membantu melihat pola gejala yang muncul, termasuk perubahan siklus menstruasi, kualitas tidur, kondisi tubuh, suasana hati, maupun kemampuan berkonsentrasi.

Jangan ragu pula untuk menceritakan perubahan yang dialami kepada orang-orang terdekat. Dukungan dari pasangan, keluarga, atau teman dapat membantu perempuan merasa lebih nyaman saat melewati fase transisi tersebut.

Yang tidak kalah penting, jangan mendiagnosis diri sendiri hanya berdasarkan satu atau dua gejala.

Jika merasa mengalami perubahan yang mengarah pada perimenopause, Alvina menyarankan untuk berkonsultasi dengan dokter yang memahami menopause.

Dokter dapat membantu mengevaluasi keluhan secara menyeluruh sehingga perempuan mendapatkan diagnosis dan penanganan yang sesuai dengan kondisinya.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(FIR)

MOST SEARCH