FITNESS & HEALTH
Terlihat Baik-baik Saja, Padahal Kewalahan? Kenali 'Duck Syndrome' saat Perimenopause
A. Firdaus
Rabu 10 Juni 2026 / 12:26
- Kondisi ini banyak dialami perempuan berprestasi, yang memasuki masa perimenopause.
- Di balik penampilan yang terlihat kuat tersebut, tidak sedikit yang sebenarnya sedang berjuang menghadapi kelelahan fisik dan mental yang luar biasa.
- Salah satu tantangan terbesar adalah munculnya perasaan bahwa diri sendiri telah berubah.
Jakarta: Banyak perempuan yang selama ini dikenal tangguh, produktif, dan selalu mampu menyelesaikan berbagai tanggung jawab, sering kali tampak baik-baik saja di mata orang lain. Mereka tetap bekerja, mengurus keluarga, memenuhi berbagai tuntutan kehidupan, bahkan terlihat tenang dan terkendali.
Namun, di balik penampilan yang terlihat kuat tersebut, tidak sedikit yang sebenarnya sedang berjuang menghadapi kelelahan fisik dan mental yang luar biasa. Kondisi ini kerap muncul pada masa perimenopause, yaitu fase transisi sebelum menopause yang dapat memengaruhi kesehatan tubuh, emosi, hingga kemampuan berpikir.
Fenomena ini dikenal dengan istilah 'duck syndrome' atau sindrom bebek. Dilansir dari Psychology Today menurut Shonda Moralis MSW, LCSW, seorang psikoterapis, istilah tersebut menggambarkan seseorang yang terlihat tenang mengapung di permukaan air seperti seekor bebek, tetapi sebenarnya terus mengayuh dengan keras di bawah permukaan agar tetap bertahan. Kondisi ini banyak dialami perempuan berprestasi, yang memasuki masa perimenopause.
Perimenopause sering kali menghadirkan berbagai perubahan yang tidak mudah dikenali. Banyak perempuan mulai mengalami gangguan tidur, terbangun pada dini hari dengan pikiran yang terus bekerja, rasa cemas yang meningkat, hingga perasaan kewalahan menghadapi aktivitas sehari-hari.
Meski tubuh terasa lelah, tidur justru menjadi semakin sulit didapatkan. Akibatnya, keesokan harinya muncul kelelahan berkepanjangan, sulit berkonsentrasi, dan hilangnya semangat yang sebelumnya begitu kuat.
Tidak sedikit yang menganggap kondisi tersebut hanya sebagai burnout atau kelelahan biasa. Padahal, perubahan hormon selama perimenopause dapat memberikan dampak besar terhadap suasana hati, energi, daya ingat, hingga rasa percaya diri.
Hal yang sebelumnya terasa mudah dikerjakan, kini membutuhkan usaha lebih besar. Kebiasaan yang dulu efektif untuk menjaga produktivitas, terkadang tidak lagi memberikan hasil yang sama.
Salah satu tantangan terbesar adalah munculnya perasaan bahwa diri sendiri telah berubah. Banyak perempuan merasa tidak lagi seperti dirinya yang dulu. Mereka mulai mempertanyakan kemampuan diri, kehilangan motivasi, bahkan khawatir tidak mampu menjalani pekerjaan atau peran, yang selama ini dijalankan dengan baik. Padahal, pengalaman tersebut ternyata cukup umum terjadi selama masa perimenopause.
Di sisi lain, tekanan sosial sering membuat perempuan enggan membicarakan apa yang sedang dialami. Saat melihat rekan kerja, teman, atau orang lain yang tampak baik-baik saja, muncul anggapan bahwa hanya diri sendiri yang sedang kesulitan.
Padahal, ketika mulai terbuka dan berbagi cerita, banyak yang menyadari bahwa pengalaman serupa juga dirasakan oleh perempuan lain, dalam fase kehidupan yang sama.
Penelitian juga menunjukkan bahwa banyak perempuan pada masa perimenopause, mengalami perasaan "tidak seperti diri sendiri". Selain itu, gejala perimenopause diperkirakan memengaruhi sekitar 80 persen perempuan usia akhir 30-an, hingga awal 50-an dan dapat berdampak pada produktivitas kerja, maupun kualitas hidup secara keseluruhan.
Para ahli menilai langkah pertama, yang penting adalah mengenali dan memberi nama pada kondisi yang sedang dialami. Dengan memahami bahwa perubahan tersebut bisa berkaitan dengan perimenopause, perempuan dapat mencari informasi yang tepat, mendapatkan dukungan, serta mempertimbangkan penanganan yang sesuai, untuk meningkatkan kualitas hidup dan kesehatan secara menyeluruh.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(FIR)
Namun, di balik penampilan yang terlihat kuat tersebut, tidak sedikit yang sebenarnya sedang berjuang menghadapi kelelahan fisik dan mental yang luar biasa. Kondisi ini kerap muncul pada masa perimenopause, yaitu fase transisi sebelum menopause yang dapat memengaruhi kesehatan tubuh, emosi, hingga kemampuan berpikir.
Fenomena ini dikenal dengan istilah 'duck syndrome' atau sindrom bebek. Dilansir dari Psychology Today menurut Shonda Moralis MSW, LCSW, seorang psikoterapis, istilah tersebut menggambarkan seseorang yang terlihat tenang mengapung di permukaan air seperti seekor bebek, tetapi sebenarnya terus mengayuh dengan keras di bawah permukaan agar tetap bertahan. Kondisi ini banyak dialami perempuan berprestasi, yang memasuki masa perimenopause.
Perimenopause sering kali menghadirkan berbagai perubahan yang tidak mudah dikenali. Banyak perempuan mulai mengalami gangguan tidur, terbangun pada dini hari dengan pikiran yang terus bekerja, rasa cemas yang meningkat, hingga perasaan kewalahan menghadapi aktivitas sehari-hari.
Meski tubuh terasa lelah, tidur justru menjadi semakin sulit didapatkan. Akibatnya, keesokan harinya muncul kelelahan berkepanjangan, sulit berkonsentrasi, dan hilangnya semangat yang sebelumnya begitu kuat.
Tidak sedikit yang menganggap kondisi tersebut hanya sebagai burnout atau kelelahan biasa. Padahal, perubahan hormon selama perimenopause dapat memberikan dampak besar terhadap suasana hati, energi, daya ingat, hingga rasa percaya diri.
Hal yang sebelumnya terasa mudah dikerjakan, kini membutuhkan usaha lebih besar. Kebiasaan yang dulu efektif untuk menjaga produktivitas, terkadang tidak lagi memberikan hasil yang sama.
Salah satu tantangan terbesar adalah munculnya perasaan bahwa diri sendiri telah berubah. Banyak perempuan merasa tidak lagi seperti dirinya yang dulu. Mereka mulai mempertanyakan kemampuan diri, kehilangan motivasi, bahkan khawatir tidak mampu menjalani pekerjaan atau peran, yang selama ini dijalankan dengan baik. Padahal, pengalaman tersebut ternyata cukup umum terjadi selama masa perimenopause.
Di sisi lain, tekanan sosial sering membuat perempuan enggan membicarakan apa yang sedang dialami. Saat melihat rekan kerja, teman, atau orang lain yang tampak baik-baik saja, muncul anggapan bahwa hanya diri sendiri yang sedang kesulitan.
Padahal, ketika mulai terbuka dan berbagi cerita, banyak yang menyadari bahwa pengalaman serupa juga dirasakan oleh perempuan lain, dalam fase kehidupan yang sama.
Penelitian juga menunjukkan bahwa banyak perempuan pada masa perimenopause, mengalami perasaan "tidak seperti diri sendiri". Selain itu, gejala perimenopause diperkirakan memengaruhi sekitar 80 persen perempuan usia akhir 30-an, hingga awal 50-an dan dapat berdampak pada produktivitas kerja, maupun kualitas hidup secara keseluruhan.
Para ahli menilai langkah pertama, yang penting adalah mengenali dan memberi nama pada kondisi yang sedang dialami. Dengan memahami bahwa perubahan tersebut bisa berkaitan dengan perimenopause, perempuan dapat mencari informasi yang tepat, mendapatkan dukungan, serta mempertimbangkan penanganan yang sesuai, untuk meningkatkan kualitas hidup dan kesehatan secara menyeluruh.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FIR)