Peserta menggambar mural bertema sosialisasi Pilkada Serentak 2020 di Nanggalo, Padang, Sumatera Barat, Sabtu, 29 Agustus 2020. Foto: Antara/Iggoy el Fitra
Peserta menggambar mural bertema sosialisasi Pilkada Serentak 2020 di Nanggalo, Padang, Sumatera Barat, Sabtu, 29 Agustus 2020. Foto: Antara/Iggoy el Fitra

Bawaslu: Pilkada Kalteng dan Depok Rawan Penyebaran Covid-19

Pilkada Virus Korona pilkada serentak Pemilu Serentak 2020
Anggi Tondi Martaon • 23 September 2020 03:20
Jakarta: Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) memetakan tingkat kerawanan penyebaran virus korona (covid-19) menjelang tahapan kampanye Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2020. Sembilan provinsi dan 50 kabupaten/kota masuk kategori kerawanan tinggi.
 
"Dari sembilan provinsi yang aspek rawan tinggi, tertinggi adalah Kalteng (Kalimantan Tengah) dengan nilai 95,56," kata anggota Bawaslu Mochammad Afifuddin saat menyampaikan Indeks Kerawanan Pilkada (IKP) 2020 melalui virtual, Selasa, 22 September 2020.
 
Provinsi rawan lain yakni Sumatra Barat (94,44 poin), Sulawesi Utara (90 poin), Sulawesi Tengah (84,44 poin), dan Bengkulu (83,33 poin). Selain itu, ada Kalimantan Selatan (83,33 poin), Kepulauan Riau (82,22 poin), Jambi (72,22 poin), dan Kalimantan Utara (61,11 poin).

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Bawaslu turut menjabarkan 10 besar kabupaten/kota dengan kerawanan tertinggi terkait pandemi covid-19. Wilayah ini meliputi Kota Depok, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kota Bukittinggi, Kabupaten Agam, Kota Manado, Kabupaten Bandung, Kabupaten Sintang, Kabupaten Sumbawa Barat, Kabupaten Bone Bolango, dan Kota Bandar Lampung.
 
Afif tak memerinci jelas poin kerawanan di tingkat kabupaten/kota. Namun, tingkat kerawanan diukur melalui sembilan indikator, di antaranya penyelenggara (Bawaslu dan Komisi Pemilihan Umum) terinfeksi virus korona; penyelenggara meninggal akibat virus korona; serta penyelenggara yang tidak melaksanakan protokol kesehatan dalam melaksanakan tugas.
 
Baca: Penerapan Protokol Kesehatan Pilkada Dijamin PKPU
 
Indikator lain yakni lonjakan temuan kasus positif covid-19; lonjakan kematian akibat covid-19; dan informasi pasien covid-19 yang tidak tertangani. Di samping itu, ada indikator penyelenggara mengundurkan diri terkait covid-19; warga, tokoh, atau organisasi masyarakat menolak penyelenggaraan pilkada di tengah pandemi; dan perubahan status atau zona wilayah.
 
"Ada yang (zona atau status wilayah) hitam, merah menuju hitam, hijau, kuning, oranye dan seterusnya," ujar dia.
 

(OGI)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif