MI/Rommy Pujianto.
MI/Rommy Pujianto. (Dedi Mahardi)

Dedi Mahardi

Inspirator, inovator, penuis

Buya Syafii Maarif: Agamawan, Ilmuwan, dan Negarawan

Pilar Tokoh Bangsa
Dedi Mahardi • 17 Agustus 2020 08:00
BUYA Ahmad Syafii Maarif, seperti yang dikatakan oleh mantan Menteri Kesehatan Profesor Farid Anfasa Moeloek, adalah agamawan dan ilmuwan sekaligus negarawan. Tiga predikat yang melekat pada diri seorang guru bangsa yang rendah hati dan bersahaja ini jarang dimiliki tokoh bangsa lainnya. Biasanya seseorang hanya mendapat predikat ilmuwan, agamawan atau negarawan, atau paling banter dua predikat seperti ilmuwan yang negarawan atau seorang agamawan yang negarawan.
 
Itulah yang disampaikan Farid saat menjadi pembicara dalam “Diskusi Kebangsaan tentang Pemikiran Buya Ahmad Syafii Maarif, di Jakarta, 14 Agustus 2000.
 
Tentunya bukan tanpa dasar, seorang mantan menteri berani menyandangkan tiga predikat besar tersebut kepada Buya. Pertama agamawan, di samping pernah menjadi sebagai Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Muhammadiyah, ormas kedua terbesar setelah NU di negeri ini (1999-2005), Buya juga sangat mengusai ilmu keagamaan. Bahkan, disertasinya pun dalam bidang pemikiran Islam.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


 
Buya juga sering menulis dan diundang dalam berbagai seminar nasional dan internasional yang membahas masalah Islam atau perkembangan Islam. Di samping tulisan artikel tentang Islam, Buya juga menulis beberapa buku tentang Islam, di antaranya buku Islam dan Pancasila sebagai Dasar Negara. Selanjutnya, Buya dikenal sebagaii ilmuwan karena menjadi guru besar di Universitas Negeri Yogyakarta dan Universitas Islam Negeri Yogyakarta sekaligus sering diundang menjadi dosen tamu di berbagai perguruan tinggi. Selain itu, tak sedikit penghargaan nasional dan internasional yang diterimanya berkat pemikiran dan karya-karyanya dalam bidang ilmu pengetahuan.


Buya adalah orang yang sudah selesai dengan dirinya, sudah tidak ada ambisi atau keinginan untuk kepentingan pribadi atau kepentingan keluarganya. Buya sangat menikmati hidup sederhana dan bersahaja, walaupun banyak tawaran untuk mendapat fasilitas mewah.


 
Buya juga layak mendapat predikat negarawan karena menguasai ilmu kenegaraan. Lebih dari itu, Buya bersikap dan bertindak sangat negarawan yang selalu mengutamakan kepentingan negara dan bangsa di atas kepentingan pribadi atau kelompoknya.
 
Tak peduli hinaan
 
Buya tidak peduli hinaan atau cercaan dari kelompok radikal atau kelompok intoleran terhadap sikap dan pembelaannya demi persatuan dan kesatuan bangsa. Bagi Buya, meneladani akhlak dan segala suri teladan Rasulullah Muhammad dengan sebenarnya lebih penting, walaupun harus menerima hinaan dari kelompok yang ingin memecah-belah persatuan dan kesatuan bangsa ini.
 
Buya adalah orang yang sudah selesai dengan dirinya, sudah tidak ada ambisi atau keinginan untuk kepentingan pribadi atau kepentingan keluarganya. Buya sangat menikmati hidup sederhana dan bersahaja, walaupun banyak tawaran untuk mendapat fasilitas mewah.
 
Contohnya saat diundang ke istana Presiden di Bogor, Buya naik kereta api listrik dari Manggarai ke Bogor walaupun Istana menawarkan jemputan. Orang kebanyakan yang terbiasa hidup susah atau biasa saja tentu sangat ingin mencoba menikmati kehidupan mewah atau mendapat perlakukan khusus, dengan berbagai alasan.
 
Tetapi Buya yang sejak kecil hidup sederhana, bahkan pernah hidup susah sehingga untuk membeli beras yang akan dimasak saja harus menunggu kiriman honor menulis memang berbeda. Orang kebanyakan biasanya ingin “membalas dendam” atas kesusahan hidup di masa lalu dengan berusaha hidup mewah dan berfoya-foya, tetapi tidak demikian dengan Buya.
 
Prinsip hidup Buya, mirip dengan prinsip hidup Bung Hatta seperti yang dapat kita baca pada buku otobiografi Bung Hatta yang ditulis oleh almarhum Deliar Noer. Bung Hatta yang hidup pas-pasan, bahkan untuk membayar tagihan listrik dan air saja kesulitan, menolak tawaran menjadi komisaris pada perusahaan asing dan perusahan dalam negeri yang bergaji besar.
 
Bahkan, seperti diceritakan seorang tokoh bangsa, saat menjadi presiden, Megawati bersama suaminya Taufik Kiemas (almarhum) pernah menawarkan jabatan menteri atau komisaris BUMN terbesar di negeri ini. Akan tetapi Buya secara halus menolaknya, karena baginya berkontribusi membangun dan memperbaiki bangsa ini jauh lebih penting dari pada posisi apapun.
 
Sebagai seorang ilmuwan dan sejarawan, Buya tentu sangat memahami perkembangan Islam dari masa ke masa maka. Oleh karenanya dia berusaha keras jangan sampai umat islam terjerembab ke lubang keterpurukan dan perang saudara.
 
Buya selalu ingin umat islam menjadi petarung yang memenangkan kompetisi dunia, sebagai pionir dan terkemuka dalam segala bidang kehidupan. Umat yang menonjol dalam segala bidang kehidupan sehingga bisa menjadi dermawan buat membangun Islam dan peradaban serta memajukan pendidikan umat dan bangsa.

Buya berharap, pengalaman pahit kerusuhan Ambon dan Poso yang dipicu oleh sentimen agama dan kelompok, tidak terjadi lagi di negeri ini.


Menurut Buya, sejarah ilmu pengetahun yang banyak berasal dari dunia Islam seperti aljabar dan ilmu kedokteran oleh ibnu Sina, harus mampu dibangkitkan kembali dan disesuaikan dengan kebutuhan kompetisi dunia saat ini. Umat Islam harus kreatif dan produktif seperti bangsa Jepang, Korea, dan Tiongkok yang merajai produksi barang-barang berteknologi tinggi. Buya berharap, umat islam mampu menjadi subjek atau pelaku dari pesatnya perkembangan teknologi dan inovasi dunia, tidak seperti sekarang ketika sebagian umat hanya menjadi objek atau pasar dari produksi bangsa lainnya.
 
Tokoh bangsa
 
Buya juga kerap muncul sebagai tokoh utama, bersama sejumlah tokoh bangsa lainnya dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. Karena itu, kelompok radikal atau garis keras sering menganggapnya sebagai sosok liberal yang tak patut dipanggil Buya.
 
Meskipun demikian, hal itu sama sekali tidak merisaukannya. Baginya, tidak dipanggil Buya pun tidak apa-apa. Baginya, yang lebih penting adalah negeri ini tidak terjerumus kepada perang saudara atau kerusuhan panjang seperti yang sekarang terjadi di beberapa negara Arab.
 
Buya berharap, pengalaman pahit kerusuhan Ambon dan Poso yang dipicu oleh sentimen agama dan kelompok, tidak terjadi lagi di negeri ini. Karena dalam agama Islam juga tidak ada perintah untuk memaksa kelompok lainnya agar mengikuti ajaran Islam, bahkan tidak ada sama sekali anjuran atau perintah untuk mendirikan Negara Islam.
 
“Begitu juga kelak di Padang masyar, tidak ada sama sekali pertanyaan kewarganegaraan. Apakah fulan warga negara Islam atau negara sekuler atau negara komunis? Hidup damai berdampingan dengan semua pemeluk agama dan golongan sehingga bisa beribadah dengan tenang tidak saling mengganggu serta bisa berbuat amal kebaikan jauh lebih penting,” ungkap Buya.
 
Profesor Ahmad Syafii Maarif, lahir di Sumpur Kudus, Sumatera Barat, tanggal 31 Mei 1935. Setelah menyelesaikan pendidikan S1 UNY pada 1968, Buya melanjutkan S2 di Ohio State University, AS (1980) yang dilanjutkan S-3 University of Chicago, AS (1983). Buya meraih gelar Ph.D dalam bidang pemikiran Islam dari University of Chicago, Chicago, dengan disertasi Islam as the Basic of state: A study of the Islamic Political ideas as Reflected in the Constituent Assembly Debates in Indonesia.
 
Buya pernah juga menjadi dosen tamu di Universitas Kebangsaan Malaysia dan McGill University, Kanada. Dalam bidang ormas keagamaan, dia menjadi Wakil Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah (1995-1999) sebelum menjadi Ketua Umum ormas tersebut (2000-2005). Walaupun banyak pihak memintanya untuk tetap memimpin Muhammadiyah, tetapi dengan alasan kaderisasi dia menolak dan memilih menjadi penasihat di ormas tersebut (2005-2010).
 
Beberapa penghargaan internasional pernah dianugerahkan kepadanya, seperti Ramon Magsasay Award dalam kategori Perdamaian dan pemahaman Internasional (2008), Habibie Award (2010), IBF Award kategori Tokoh Perbukuan Islam (2011), dan beberapa penghargaan bergensi lainnya. Dalam dunia Internasional, dia pernah menjabat Presiden World Conference on Religion for Peace (WCRP) yang berpusat di Amerika Serikat. []
 
*Segala gagasan dan opini yang ada dalam kanal ini adalah tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi Medcom.ID. Redaksi menerima kiriman opini dari Anda melalui [email protected]
 

 

 

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif