Jaka Budi Santosa Dewan Redaksi Media Group.
Jaka Budi Santosa Dewan Redaksi Media Group. (Jaka Budi Santosa)

Jaka Budi Santosa

Jaka Budi Santosa

Menyelamatkan Kekitaan Kita

Pilar media sosial ujaran kebencian hoax kabar hoaks Ade Armando Babak Belur
Jaka Budi Santosa • 19 April 2022 05:51
TEPAT betul hasil survei yang menyebutkan Indonesia adalah negara yang paling tidak sopan di Asia Tenggara dalam penggunaan internet. Ketidaksopanan itu nyata dan sangat terasa.
 
Bahwa warganet Indonesia mendapat cap paling tidak sopan datang dari rilis Microsoft berdasarkan laporan Digital Civility Index pada 2020. Memang bukan baru. Survei dilakukan dalam kurun waktu April hingga Mei dengan mengamati sekitar 16 ribu responden di 32 wilayah.
 
Ada tiga faktor yang memengaruhi ketidaksopanan netizen di Indonesia. Penyebab paling tinggi ialah hoaks dan penipuan yang naik 13 poin ke angka 47 persen. Kemudian, ujaran kebencian yang naik 5 poin menjadi 27 persen.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


 
Dan, ketiga, diskriminasi sebesar 13 persen meski turun 2 poin ketimbang tahun sebelumnya. Hasil survei itu sudah berumur dua tahun. Tapi, ia masih manjur, sangat manjur, untuk menggambarkan perilaku warganet +62 sekarang. Hoaks, penipuan, dan ujaran kebencian masih menjadi menu wajib di internet. Lalu, diskriminasi menjadi sajian pelengkap. Ketidaksopanan itulah yang membuat dunia maya Indonesia penuh masalah.
 
Ia bak pisau bermata ganda. Tidak cuma sebagai sarana penyebaran konten-konten positif kaya manfaat, ia juga distributor konten-konten negatif sarat mudarat. Media sosial malah punya andil besar bagi terciptanya keretakan sosial.
 
Ia ikut melanggengkan permusuhan sesama anak bangsa negeri ini. Tidak ada lagi kata kita, yang ada saya dan anda. Tidak ada lagi kata kita, yang tersisa kami dan mereka. Dua kubu ibarat air dan minyak.
 
Selalu berjarak dan surplus semangat untuk menebalkan tembok penyekat. Kami yang benar, mereka yang salah, itulah prinsipnya. Miris. Sungguh miris.
 
Permusuhan bahkan tidak lagi sekadar di tataran naratif dan argumentantif, tetapi sudah menjelma ke kekerasan fisik. Pengeroyokan terhadap pegiat media sosial yang juga dosen UI, Ade Armando, di depan Gedung DPR Senayan, Senin, 14 April 2022, adalah petunjuk nyata bahwa kekerabatan sesama anak bangsa menghadapi ancaman luar biasa.
 
Teramat banyak pihak yang mengecam kekerasan itu. Saya juga. Kekerasan, apa pun alasannya, tak bisa dibenarkan. Demikian pula mereka yang merayakan kekerasan itu.
 
Apa pun dalihnya, bagaimana pun caranya, termasuk di media sosial. Bersukacita di atas penderitaan orang lain jelas bertentangan dengan prinsip kemanusiaan.
 
Tak cuma fisik, kekerasan verbal juga tak bisa diterima. Ia harus segera dihentikan. Teramat besar risiko bagi keutuhan bangsa jika ia terus dibiarkan menggerogoti tiang-tiang persatuan.
 
Bagi saya, tidak cukup untuk menyudahi permusuhan hanya dengan meningkatkan literasi digital. Literasi memang perlu, tetapi bukan penentu dalam situasi yang tidak menentu.
 
Tidak cukup mengakhiri permusuhan hanya dengan berharap peran tokoh-tokoh agama, tokoh-tokoh masyarakat, tokoh-tokoh bangsa. Kontribusi mereka memang penting, tetapi kita tak bisa menjadikannya sebagai sumber penyelesaian.
 
Tidak cukup pula mengakhiri perseteruan dengan membawanya ke ring seperti yang dikehendaki Denny Siregar. Melalui akun Twitter-nya, kawan Ade Armando itu menantang Novel Bamukmin adu jotos di ring tinju. Novel yang Wakil Sekjen Persaudaraan Alumni 212 pun meladeni.
 
Tinggal lokasi pertandingan yang belum mencapai titik temu. Denny minta di Bali sehabis lebaran, tepatnya 24 Mei. Novel maunya di Jakarta, waktunya lebih cepat lagi. Denny dan Novel memang bukan petinju profesional.
 
Petinju amatir juga bukan. Tetapi, jika jadi, duel keduanya di atas ring menarik juga ditunggu. Bahkan ada netizen yang sudah siap memberikan hadiah hingga Rp50 juta bagi sang pemenang. Namun, saya sama sekali tak percaya, adu tinju berbingkai sportivitas olahraga akan menyelesaikan perseteruan.
 
Jika jadi, hasilnya nanti tak akan punya arti. Saya yakin, hakulyakin, tetap saja provokasi dan dendam yang menjadi juaranya. Kubu pemenang akan meningkatkan kadar provokasi, yang kalah makin dalam memupuk dendam. Hemat saya, hanya negara yang bisa mendamaikan sesama anak bangsa.
 
Caranya? Bolehlah kita meminjam kata bijak Gus Dur bahwa perdamaian tanpa keadilan adalah ilusi. Boleh juga kita menengok jauh ke belakang apa kata Aristoteles bahwa tujuan bernegara untuk kesempurnaan warganya berdasarkan atas keadilan.
 
Keadilan, itulah kuncinya. Keadilan memerintah harus menjelma di dalam negara dan hukum berfungsi memberi kepada setiap manusia, apa sebenarnya yang berhak mereka terima.
 
Memperlakukan setiap warga negara sama di depan hukum adalah resep ampuh untuk menghilangkan sekat-sekat kebangsaan. Hukum mereka yang tidak sopan di internet, yang suka memprovokasi, yang gemar menebar ujaran kebencian, yang hobi diskriminasi, yang senang pada kekerasan.
 
Siapa pun dia, apa pun latar belakangnya. Jangan ada emban cinde emban siladan. Kiranya itulah yang bisa membuat para buzzer penghobi provokasi berpikir sejuta kali. Itulah yang dapat mengikis dendam dan sakit hati. Itulah obat mujarab untuk menyelamatkan kekitaan bangsa ini.
 

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif