Peristiwa ini langsung menjadi viral dan memicu perdebatan luas mengenai standar kecantikan serta keaslian citra di media sosial. Kejadian bermula ketika sang kreator sedang melakukan siaran langsung sambil berinteraksi dengan penonton.
Namun pada suatu momen, filter yang biasa digunakan untuk menghaluskan kulit dan menghasilkan tampilan sempurna tiba-tiba tidak berfungsi selama beberapa detik. Selama jendela waktu singkat tersebut, wajah asli sang influencer yang menunjukkan tekstur kulit lebih natural.
Selain itu, gangguan teknis pada filter juga menampilkan ciri fisik yang tidak dimanipulasi tampil jelas di layar sebelum filter kembali aktif secara tidak stabil. Insiden ini mendapatkan respons cepat dari warganet dan komunitas online.
Banyak pengguna media sosial mengecam fenomena tersebut sebagai bentuk penipuan visual kepada pengikut yang selama ini terbiasa dengan versi tampilan yang telah dipoles. Kritik terutama menyasar ketergantungan budaya pada penampilan yang disempurnakan secara digital sehingga menciptakan standar kecantikan tidak realistis.
Namun di sisi lain, sejumlah netizen juga membela influencer tersebut, menyatakan bahwa penampilannya tetap menarik tanpa sentuhan filter dan menyerukan penghentian tekanan terhadap citra tubuh ideal tidak alami.
Peristiwa ini mencerminkan ketatnya tuntutan estetika di sejumlah platform media sosial populer di Asia Timur, di mana gambar dan video yang dipublikasikan sering kali disaring melalui efek visual untuk meminimalkan ketidaksempurnaan.
Momen ini juga mengundang diskusi lebih luas tentang tekanan psikologis yang dialami kreator konten dan pengikutnya dalam menjaga citra digital ideal, serta respons terhadap realitas fisik sering kali berbeda tajam dari harapan publik.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News