?Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group. MI/Ebet
?Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group. MI/Ebet (Abdul Kohar)

Abdul Kohar

Dewan Redaksi Media Group

Benteng Integritas

Abdul Kohar • 10 Agustus 2022 05:22
Suatu hari di tahun 1990-an, cendekiawan Nurcholish Madjid yang tengah mengendarai mobil bersama sopirnya diberhentikan seorang polisi lalu lintas di sebuah jalan raya di Jakarta. Cak Nur, panggilan akrabnya, pun meminta sopirnya menepikan mobil. Sang polisi lalu menjelaskan apa kesalahan sopir mobil yang dikendarai intelektual asal Jombang itu.
 
Tanpa banyak mendebat, Cak Nur pun mempersilakan pak polisi untuk mengeluarkan surat tilang. Sang polisi agak ragu. Tangannya gemetar. Berkali-kali ia mengusap peluh di mukanya. “Kenapa Pak? Tilang saja kami,” ucap Cak Nur memecah kebingungan sang polisi.
 
Dengan suara lirih dan gemetar, polisi itu kembali meyakinkan Cak Nur dengan bertanya, “Benar ditilang saja? Atau tidak i ngin menempuh cara lain? Nanti urusannya apa tidak ribet dan memakan waktu?”

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


 
Belum sempat Cak Nur menjawab, sang sopir menyergah polisi. “Maaf Pak. Apakah Bapak tidak tahu, siapa orang yang saya bawa ini? Beliau adalah tokoh nasional, seorang profesor dan sering ada di televisi. Beliau tidak mungkin mau ‘berdamai’ untuk pelanggaran yang dilakukan,” kata sang sopir. Lalu, sambil mengusap peluh dan kebingungan, sang polisi itu pun menuliskan surat tilang. Sambil memberikan surat tilang, ia mengatakan, “Maaf Pak. Sepanjang karier saya sebagai polisi selama belasan tahun, baru kali ini saya terpaksa mengajak ‘berdamai’ orang yang saya tilang. Saya terpaksa mengajukan ini karena anak saya sakit keras sudah beberapa hari ini. Saya benar-benar tak punya uang untuk membawa anak saya berobat. Kalau Bapak-Bapak tidak percaya, boleh saya antar Bapak ke rumah saya untuk melihat kondisi anak saya.”
 
Cak Nur setuju dengan ajakan itu. Mobil yang ia tumpangi pun melaju mengikuti sepeda motor sang polisi. Sesampai di rumah polisi itu, Cak Nur mendapati seorang anak tengah tergolek lemas. Badannya panas tinggi. Tanpa berpikir panjang, ia mengajak polisi dan anaknya menaiki mobilnya menuju rumah sakit. Cak Nur juga mengeluarkan beberapa lembar uang dari kantongnya untuk diberikan kepada sang polisi.
 
Cak Nur mengisahkan peristiwa itu kepada koleganya, cendekia wan Soetjipto Wirosardjono. Kepada Mas Tjip, sapaan akrab Soetjipto, Cak Nur mengatakan bahwa sebetulnya masih banyak polisi berintegritas. Seperti polisi yang menilangnya itu. Hanya, situasi yang sangat mengguncang kerap membuat benteng integritas jebol. Maka, tandas Cak Nur sebagaimana ditirukan Mas Tjip, sistem harus memastikan bahwa benteng integritas itu berlapis-lapis dan tidak bisa dijebol dengan alasan apa pun dan situasi bagaimanapun.
 
Integritas itu salah satu bentuk kualitas terpenting yang harus dimiliki seseorang, apalagi pemimpin. Integritas ialah suatu konsep yang berkaitan dengan perilaku, nilai, metode, sarana, prinsip, harapan, dan keterpaduan berbagai hasil. Orang yang memiliki integritas berarti memiliki kepribadian jujur dan kuat.
 
Kualitas, sifat, atau kondisi yang menunjukkan satu kesatuan yang utuh memiliki potensi dan kemampuan untuk memancarkan otoritas, kewibawaan, dan kejujuran juga hal-hal pokok dalam integritas. Kejujuran dalam hal ini bukan hanya omongan, pemanis retorika, tapi juga tindakan. Jika dimulai dengan kejujuran, kredibilitas, dan banyak akhlak mulia lainnya, karakter inilah yang sangat dibutuhkan di negeri ini, baik individu maupun institusi.
 
Karakter agung itu terus-menerus menjadi tantangan institusi Polri dari waktu ke waktu, zaman ke zaman. Saking ‘mahalnya’ integritas, sampai ada humor legendaris Gus Dur tentang polisi jujur. Kata Gus Dur, hanya ada tiga polisi jujur: polisi patung, polisi tidur, dan polisi Hoegeng (mantan Kalolri Hoegeng Imam Santoso).
 
November tahun lalu, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo pun mengomentari soal integritas dan kejujuran polisi. Kata dia, “Munculnya humor tentang cuma ada 3 polisi jujur di Indonesia, yaitu patung polisi, polisi tidur, dan Jenderal Hoegeng seakan telah melegitimasi bahwa sangat sulit mencari polisi jujur dan berintegritas di negeri kita. Ini tantangan besar bagi kami untuk mengubah citra Polri di mata masyarakat. Kendati demikian, saya optimistis dapat mewujudkan hal tersebut karena saat ini masih banyak personel Polri yang memiliki sikap teladan dan benar-benar menjalankan tugasnya sebagai pengayom rakyat.”
 
Kasus tewasnya Brigadir Nofriansyah Yoshua Hutabarat di rumah dinas mantan Kadiv Propam Polri Irjen Ferdy Sambo akan menjadi pembuktian, apakah ‘proyek’ menegakkan integritas institusi Polri sebagaimana disampaikan Kapolri itu sudah dekat atau sebatas tekad. Perintah Presiden Jokowi yang mengulangulang agar penyelidikan dan penyidikan kasus kematian Brigadir J berlangsung transparan dan menguak kebenaran bukti bahwa ada yang merisaukan Kepala Negara terkait integritas dan citra Polri.
 
Kini, tidak ada pilihan lain bagi para pimpinan Polri selain allout menyelesaikan semua ‘kepingan puzzle’ kasus kematian Brigadir Yoshua. Sebab, bermain-main dengan kasus tersebut akan kian menjauhkan institusi dari kekukuhan benteng integritas. Pun pintu transparansi sudah dibuka dengan penetapan tersangka terhadap Irjen Ferdy Sambo serta pernyataan lugas dari Kapolri bahwa tidak ada tembak-menembak dalam kematian Yoshua. Yang ada ialah penembakan terhadap Brigadir Yoshua.
 
Kini, Polri sudah mulai melapisi benteng integriras itu agar kukuh. Sebab, kalau benteng tidak kukuh, sebagaimana diingatkan Cak Nur, integritas akan jebol dan roboh. Lalu, banyak orang akan terus melanggengkan humor pedas tentang tiga polisi jujur. Tentu, bukan itu yang kita mau.

 

Pilar polri polisi Kasus Brigadir J Irjen Sambo Ferdy Sambo Tersangka Kapolri Listyo Sigit Prabowo

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif