Dewan Redaksi Media Group Jaka Budi Santosa/Media Indonesia/Ebet
Dewan Redaksi Media Group Jaka Budi Santosa/Media Indonesia/Ebet (Jaka Budi Santosa)

Jaka Budi Santosa

Jaka Budi Santosa

Puasa tanpa Razia

Pilar ramadan puasa Podium Ramadan 2022 Puasa 2022
Jaka Budi Santosa • 05 April 2022 05:48
RASANYA kita patut merunduk lebih dalam menyambut Ramadan kali ini. Bulan puasa yang membahagiakan terasa lebih bahagia karena banyak hal yang membuatnya lebih bahagia.
 
Ramadan ialah bulan yang membahagiakan disabdakan langsung oleh Nabi Muhammad SAW. Seperti diriwayatkan Muslim, beliau berkata, “Orang yang berpuasa meraih dua kegembiraan, kegembiraan ketika berbuka puasa/berhari raya dan kegembiraan ketika bertemu Tuhannya.”
 
Karena itu lah, Ramadan ialah bulan yang selalu dinanti. Rindu umat Islam tak terperi untuk bertemu dengannya lagi dan lagi. Meski semua bulan sama, cinta umat Islam kepada bulan puasa lebih dari yang lain.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


 
Ramadan bulan yang sarat nikmat. Di bulan ini, Alquran diturunkan. Di bulan ini, pahala dilipatgandakan. Di bulan ini pula rahmat, keberkahan, dan ampunan Allah SWT, Tuhan Yang Maha Pemurah, dihamparkan. Baca:Warga Ibu Kota Dilarang Keras Sahur on The Road
 
Ramadan ialah sumber mata air kegembiraan dan kenikmatan. Kegembiraan, juga kenikmatan, kiranya berlipat di Ramadan ini.
 
Kita lebih bergembira karena Ramadan tahun ini bisa dirayakan seperti biasanya. Pandemi covid-19 dalam dua tahun terakhir menyandera semua segi kehidupan, tak terkecuali ibadah Ramadan. Akibat keganasan virus korona, Ramadan 1441 Hijriah atau 2020 Masehi dan 1442 Hijriah/2021 Masehi mesti dijalani dengan banyak rambu-rambu.
 
Selama dua tahun itu, salat tarawih berjemaah di masjid dibatasi, bahkan dilarang. Salat tarawih berjemaah di masjid memang mendatangkan pahala berlipat. Akan tetapi, demi mencegah mudarat menyebarnya korona, ia ditiadakan. Pun ibadah-ibadah lain di tempat-tempat ibadah.
 
Akibat amuk covid-19, mudik juga dilarang. Mudik memang amat berfaedah untuk menjalin silaturahim dan mendistribusikan rezeki. Namun, karena berpotensi memperparah musibah pandemi, pemerintah tak mengizinkannya.
 
Kini, tarawih berjemaah di masjid dan mudik diperbolehkan lagi. Tentu saja juga salat Idul Fitri nanti. Itulah kebahagiaan tiada tara. Kebahagiaan karena kita kembali berkesempatan menjemput lebih banyak pahala, juga karena kita kembali bisa melakukan injeksi sosial.

Rasanya kita patut bersujud lebih lama untuk mensyukuri nikmat-Nya. Nikmat bahwa kemenangan dalam perang panjang melawan covid-19 telah menjelang. Nikmat bahwa oleh karena itu, kita bisa lagi menjalankan puasa secara lebih bahagia.
 
Kebahagiaan semakin lengkap karena puasa kali ini tak lagi diwarnai razia. Setidaknya sampai dua hari (menurut pemerintah) atau tiga hari pertama puasa (menurut Muhammadiyah), tak terdengar kabar sweeping warung-warung makan.
 
Kenapa kabar itu membahagiakan? Karena razia warung makan di saat Ramadan ialah sesuatu yang menyedihkan. Menyedihkan karena jelas membuat mereka yang dirazia bersedih lantaran tak bisa mendapatkan rezeki. Lebih dari itu, tidak ada dasar apa pun untuk memaksa warung makan tutup di waktu siang selama Ramadan.
 
Dulu, kita menyaksikan banyak kisah pilu ketika warung-warung makan di-sweeping karena buka siang hari di bulan puasa. Pelakunya bisa dari ormas, bisa pula aparat. Yang paling heboh ialah tatkala Satpol PP Kota Serang merazia warung dan menyita dagangan Saeni pada 2016. Emak-emak berusia 53 tahun itu menangis dan memohon jualannya tak diangkut. Namun, telinga aparat terlalu rapat untuk mendengar isaknya.
 
Ada dalih, melarang warung makan buka siang hari untuk menghormati orang yang berpuasa. Kata mereka, itulah bentuk toleransi. Pertanyaannya, penting dan perlukah penghormatan seperti itu?
 
Tenggang rasa semestinya datang dari hati. Bukan dipaksa atau karena terpaksa. Menghormati orang berpuasa karena dipaksa atau terpaksa tiada guna. Ia toleransi semu dan kita tentu tidak menginginkan itu.
 
Banyak yang berpendapat melarang warung makan buka siang hari di bulan puasa ialah bentuk lemahnya iman. Saya sepakat. Masa sih kita tergoda untuk makan hanya karena melihat orang makan di warung makan? Masa sih keteguhan kita untuk menahan lapar dan haus setipis tirai yang menutupi warung makan?
 
Ada pula yang berpendapat, melarang dan merazia warung makan di siang hari saat Ramadan sama saja tak malu pada orang miskin. Saya juga sepakat itu.
 
Seperti Gus Miftah bilang, orang miskin rutin menahan lapar, bahkan tidak jarang tak makan, tapi mereka tak pernah mengusik warung makan. Mereka woles saja. "Dia lewat restoran sepanjang tahun, dia tidak pernah emosi. Kita hanya sebulan menahan itu (makan) kenapa kita emosi, kita harus malu.”
 
Puasa ialah ibadah yang membahagiakan, tidak hanya bagi diri sendiri, tetapi juga buat orang lain. Percuma kita bergembira menjalankan puasa, tetapi ada yang lara di luar sana.
 
Penegasan Majelis Ulama Indonesia bahwa warung makan tak perlu tutup di siang hari selama Ramadan layak kita apresiasi. Larangan MUI kepada masyarakat agar tak melakukan razia patut kita dukung. Untuk MUI daerah atau pemda yang masih mengharamkan warung makan buka siang hari, semoga segera mendapat pencerahan.
 
Puasa masih panjang. Mudah-mudahan kebahagiaan kian kentara, semakin paripurna. Selamat berpuasa.

 
  • Halaman :
  • 1
  • 2
Read All

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif