Warga Aceh selama ini dikenal sebagai peminum kopi. MI/FERDIAN ANANDA M
Warga Aceh selama ini dikenal sebagai peminum kopi. MI/FERDIAN ANANDA M (Taufiqulhadi)

Taufiqulhadi

Kopi Wine dan Bir Pala di Kota Seribu Rasa Kopi

Pilar kopi
Taufiqulhadi • 01 Maret 2020 22:51
TATKALA saya sedang santai di sebuah kafe di bilangan Pangoe, Banda Aceh, seorang anak muda bercelemek mendatangi saya dan dengan ramah meminta saya untuk meminum satu sloki minuman asing, "bir pala". Saya menerima dan setelah mendekatkan minuman tersebut ke hidung untuk membaui aroma sejenak, langsung saya teguk "bir pala" itu.
 
“Bir pala” pun melewati tenggorokan dan menerobos dada dan langsung bersarang di perut saya. Sejenak saya merasakan sensasi yang berbeda: badan terasa lebih hangat di tengah gerimis senja. Saya meminta satu sloki lagi, bukan tester, tapi saya meminta dalam hubungan transaksi biasa.
 
Pemuda bercelemek ini, pemilik kedai sekaligus bertindak sebagai pramusaji, mengangguk dan menyajikan minuman yang diminta dalam teko kecil, plus sloki. Saya tawarkan kepada teman yang duduk di sebelah, dan teman dari Jakarta tersebut meminum lebih banyak daripada saya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


 

Adanya imbuhan "bir" terhadap minuman itu tentu saja ada kesengajaan dan sekaligus diharapkan ada nilai sensasi dalam upaya menggaet pelanggan. Dan, sesungguhnya, menjelang larut malam, para pengunjung pun kian banyak mengisi kafe tersebut.

Tidak memabukkan
Setelah meneguk dua sloki, badan pun terasa lebih hangat tapi bukan karena pengaruh alkohol. Saya menduga itu karena sifat ekstrak buah pala yang memang menimbulkan rasa hangat bagi tubuh kita. Lebih-lebih “bir pala” ini, selain menimbulkan efek hangat dan memang mengandung alkohol juga, tapi tidak menimbulkan pengaruh memabukkan.
 
Adanya kandungan alkohol itu karena pembuatannya melalui proses fermentasi. Sebagaimana proses pembuatan tape yang juga mengandung alkohol. Tapi ketajaman manis air tape berbeda dengan "bir pala". Jika air tape terlampau manis, "bir pala" yang saya teguk sedikit demi sedikit dalam sloki itu, manisnya ringan saja, dan itu pun telah ditutup dengan rasa dan aroma pala yang khas.
 
Setelah mengalami pengalaman mendadak dengan "bir pala", saya mencoba lebih jauh lagi soal berbagai minuman "temuan baru" di Aceh, dan akhirnya kami mendapatkan nama jenis minuman lain yang tak kalah "heboh"-nya: "kopi wine".
 
"Kopi wine" bisa kita temukan di beberapa tempat di Banda Aceh, yaitu sekitar Jl Ali Hasjmi, Blangpadang. Tapi saya memutuskan ke Jl Syiah Kuala di kafe "Donya Drop Daruet".
 
Pemiliknya adalah seorang mahasiswa yang sedang menyelesaikan tesisnya di Taiwan. Namanya Usuluddin (tidak ada hubungan apa pun dengan salah satu bidang studi di Universitas Isalam Negeri).
 
Kopi wine
 
"Donya Drop Daruet" ini juga cukup ramai pengunjungnya, dan Usuluddin ini bukan hanya penjual "kopi wine". Tapi anak muda ini juga seorang eksportir kopi pemula. Ia pengekspor kopi Gayo, dan sekaligus membuka kafe yang menyediakan semua jenis kopi Arabika Gayo. Misalnya: Gayo Arabica Luwak, Gayo Arabica Honey, Gayo Arabica Longberry, Gayo Arabica Wine, Gayo Arabica Peaberry, Gayo Arabica Natural, dan entah apa lagi.
 
Saya meminta “kopi wine” dan setelah itu baru campuran "kopi wine" dan kopi luwak. Pertama menyeruput "kopi wine", saya menduga penyajiannya dalam keadaan panas.
 
Tapi ketika menyentuh bibir, yang saya rasakan sebaliknya: dingin. Saya dekatkan kopi tersebut ke hidung, dan saya rasa ada aroma alkohol yang mengambang.
 
Dari mana alkohol ini? "Kopi wine" dibuat melalui proses fermentasi juga. Usuluddin menceritakan, pertama ia harus memilih biji kopi berwarna merah yang terbaik. Dengan kulit-kulitnya, biji kopi ini dibungkus dalam plastik pro green. Kemudian biji kopi dimasukkan ke dalam goni, dan disimpan di tempat dingin selama dua minggu.
 
Setelah mencapai masa tersebut, ia dibuka dan diproses mesin menjadi bubuk. Setelah itu baru disuguhkan menjadi "kopi wine".

Setelah menikmati "kopi wine", saya pindah ke "kopi wine" yang dicampur dengan kopi luwak. Minuman yang terakhir ini, telah berubah menjadi rasa kopi biasa tapi rasanya masih sangat nikmat.


Kopi nira

 
Menjelang kepulangan ke Jakarta, seorang teman yang menemani saya ke bandara, mengajukan pendapat untuk singgah di sebuah kafe di bilangan Berawe, namanya Moderner, jika tidak salah. "Kita coba minuman jenis baru, namanya "kopi nira"," ungkap teman tersebut, seraya menyebut sejenis minuman yang sangat menggugah hati saya.
 
Sesampai di kafe itu, kami segera memesan "kopi nira", dan pramusaji pun (yang bersetelan hitam-hitam dan necis} mengangguk dan langsung menghilang ke belakang. Tak lama, ia muncul lagi dengan dua gelas dalam tatakan. Cairan dalam gelas itu, hitam-putih.
 
Inilah, pikir saya, "kopi nira" yang cukup terkenal itu: yang hitam di bagian atas adalah kopi, yang putih di bagian bawah air nira. Jika diaduk, warnanya berubah menjadi kecoklatan. Saya tidak mengaduk, tapi langsung meminumnya.
 
Setelah menghabiskan separuh gelas, saya siap-siap menikmati sisa di bagian bawah yang putih. Jika yang hitam rasanya jelas, yaitu sejenis kopi arabika yang nikmat, yang putih adalah air nira yang biasa saya teguk kala kecil di kampung.
 
Air ini memang diambil dari pohon nira atau pohon ijuk yang kian langka. Hampir mirip dengan air (legen) yang diambil dari pohon kelapa. Air nira dan legen yang disimpan lebih dari empat hari akan berubah menjadi tuak.
 
Minuman sanger
 
"Apakah mungkin kopi dicampur dengan air nira yang berusia enam hari?" tanya saya kepada Donny, pramusaji yang necis tadi. Ia berpikir sejenak, kemudian tersenyum.
"Bisa saja," jawabnya.
 

"Kalau begitu, buatkan satu lagi yang niranya telah berusia enam hari," pinta saya. Ia tidak segera menjawab, dan juga tidak segera pergi.
 

"Kami tidak menyediakan di sini," akhirnya ia menjawab, sambil berbalik ke belakang. Tak lama ia muncul lagi dengan minuman "sanger". Sanger merupakan campuran kopi hitam, susu kental dan gula. Secara fisik, sanger memang mirip kopi susu atau coffee latte.
 
Menurut sebagian orang Aceh, kata sanger berasal dari kata "sama-sama ngerti". Konon, istilah ini muncul di masa krisis ekonomi (krismon) menjelang akhir 1990-an. Agar mahasiswa tetap bisa menikmati kopi susu yang terjangkau, sejumlah mahasiswa ini meminta peracik kopi untuk membuat kopi dicampur sedikit susu (yang harganya lumayan mahal) ditambah gula agar terasa manis.
 
Itulah sekadar catatan ringan akhir pekan setelah acara Kenduri Kebangsaan yang digelar di Sekolah Sukma Bangsa, di Bireun, Aceh pada 22 Februari lalu. Acara ini digelar guna membangun semangat ke-Indonesiaan serta memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa.[]
 
*Segala gagasan dan opini yang ada dalam kanal ini adalah tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi Medcom.ID. Redaksi menerima kiriman opini dari Anda melalui kolom@medcom.id

 

 

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif