Jaka Budi Santosa Dewan Redaksi Media Group/MI/Ebet
Jaka Budi Santosa Dewan Redaksi Media Group/MI/Ebet (Jaka Budi Santosa)

Jaka Budi Santosa

Jaka Budi Santosa

Guru Besar Miskin Nalar

Pilar media sosial ujaran kebencian Guru Besar Ade Armando Ade Armando Babak Belur
Jaka Budi Santosa • 22 April 2022 05:29
NAMA Karna Wijaya mendadak menjadi buah bibir hari-hari ini. Namun, dia mendapatkan atensi bukan karena prestasi, melainkan lantaran kontroversi.
 
Dia dianggap melakukan ujaran kebencian lewat medsos. Karna disorot setelah mengunggah status di Facebook untuk mengomentari pengeroyokan terhadap Ade Armando.
 
Dia menulis, ‘Yang nemu celananya, jangan lupa dikembalikan, ya, mau dipakai ngajar’. Tak hanya dianiaya, Ade memang sempat ditelanjangi pengeroyok. Karna juga mengunggah rangkaian foto Ade dan teman-temannya dengan tulisan ‘Satu persatu dicicil massa’.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


 
Di foto Ade ada tanda silang merah. Guntur Romli yang masuk kolase kemudian melaporkannya ke polisi terkait dengan dugaan penghasutan atau pengancaman. Soal ujaran kebencian di medsos, negeri ini jagonya. Banyak, teramat banyak, ia diproduksi warganet. Namun, Karna bukan warganet biasa. Dia akademisi tingkat tinggi. Dia profesor. Guru besar. Di salah satu universitas ternama lagi.
 
Sebagai profesor, guru besar, Karna pasti pintar. Dia dosen tetap di jurusan kimia FMIPA UGM. Dia lulus S-1 di ‘Kampus Biru’, menyabet gelar S-2 di Waseda University, Jepang, dan membawa pulang gelar doktor dari Technische Universitat Carolo Wilhelmina, Braunschweig, Jerman.
 
Karena itu, amat sulit untuk memahami kenapa Karna mengunggah narasi beraroma ujaran kebencian. Tidak paham juga kenapa dia yang kemudian minta maaf beralasan bahwa unggahannya hanya bercanda, guyon, gojekan.
 
Banyak yang marah, tidak sedikit yang geram. Karna bukan satu-satunya profesor yang berlaku seperti itu. Sebelumnya ada Yusuf Leonard Henuk. Yusuf merupakan guru besar di Departemen Ilmu Peternakan Universitas Sumatra Utara, Medan. Dia lulusan sarjana Universitas Nusa Cendana, S-2 di University of New England, dan S-3 di University of Queensland, Australia.
 
Sebagaimana Karna, seperti halnya guru besar pada umumnya, Yusuf pasti pintar. Sayangnya, di media sosial, kepintaran itu seolah memudar. Tak cuma sekali dua kali, dia berulang kali mencuatkan kontroversi.
 
Berseri. Berjilid-jilid. Suatu hari, Yusuf menyerang SBY dengan cicitan bernada penghinaan. Dia mengingatkan SBY yang meminta pemerintah hati-hati agar tak salah hitung soal vaksin covid-19 tahu diri karena sudah mantan jangan sok mengajari Jokowi.
 
Dia bahkan menjuluki SBY bapak mangkrak Indonesia. Dia juga menyebut SBY dan putranya, AHY, bodoh.
 
Di lain waktu, Yusuf berkicau tentang mantan Komisioner Komnas HAM Natalius Pigai. Kicauannya berbau rasialis. Yusuf pernah pula menulis status agar diberi kesempatan untuk melawan para bandit yang dipimpin bupati Taput, Tapanuli Utara. Soal ini, dia terbukti melakukan pencemaran nama baik dan divonis 3 bulan penjara percobaan 6 bulan.
 
Yusuf tetap saja ngegas. Terkini, dia menuding Rektor Universitas Ibnu Chaldun Musni Umar sebagai profesor gadungan. Profesor palsu. Dia dilaporkan ke polisi, tapi balik lapor. Dua profesor saling lapor.
 
Bolehkah seorang profesor bermain medsos? Tidak ada orang, juga tak ada aturan yang melarang.
 
Bolehkah seorang guru besar menarasikan ujaran kebencian? Jangankan guru besar, guru kecil pun dilarang.
 
Otak encer bisa membeku jika seseorang teracuni sisi buruk politik. Otak besar bisa mengecil jika seseorang mabuk agama atau keyakinan. Sekelas profesor pun bisa kehilangan nalar karenanya.
 
Aroma politik kiranya sulit kita jauhkan dari sepak terjang Prof Yusuf. Dari sejumlah unggahannya, dia cenderung berkonfrontasi dengan orang-orang yang berseberangan dengan Jokowi, yang suka mengkritik Jokowi.
 
Dia pendukung Jokowi. Dia bahkan pernah mengirimkan surat lamaran kepada Jokowi agar diangkat menjadi menteri.
 
Aroma politik sulit pula dilepaskan dari kasus Karna. Ade Armando merepresentasikan kubu Jokowi. Mereka yang merayakan dia dianiaya kebanyakan yang berseberangan dengan Jokowi.
 
Kasus Armando juga kental dengan urusan keyakinan. Dia dikeroyok karena dianggap penista agama. Saya tidak tahu Prof Karna pendukung atau oposisi Jokowi.
 
Profesor, guru besar, ialah jabatan besar dengan tanggung jawab besar. Tak cuma di keilmuan, tapi juga tanggung jawab sosial. Tugas profesor, selain membimbing calon doktor, menulis buku dan karya ilmiah, perlu menyebarluaskan ide-ide untuk mencerahkan masyarakat. Bukan malah membuat suram masyarakat yang sudah hidup dalam suasana suram.
 
Profesor, guru besar, eloknya tak main politik. Kalau ingin berpolitik, tanggalkan dulu jabatan itu. Presiden Brasil 1995-2003 Fernando Henrique Cardoso punya pesan menarik soal ini.
 
Cardoso merupakan dosen sosiologi, profesor di Universitas Sao Paolo. Saat memilih politik, dia melepas statusnya, lalu kembali lagi seusai pensiun dari politik.
 
Kata dia, “Sebagai akademisi, Anda dilatih untuk mengatakan kebenaran, tetapi seorang politisi diajarkan mengatakan kebohongan, setidaknya mengamini kebohongan. Sebagai politisi, jika Anda mengatakan apa yang Anda inginkan, Anda tidak akan mendapatkan apa yang Anda inginkan.”
 
Politik, juga fanatisme agama yang kebablasan, tak baik buat akademisi, buat profesor. Ia dapat menyebabkan seorang guru besar kehilangan dan miskin nalar.
 

 

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif