WHO: Virus korona
WHO: Virus korona (Saikhu Baghowi)

Saikhu Baghowi

Jurnalis Senior Metro TV

Belajar Tangani Covid 19: Antara Brazil dan Indonesia

Pilar virus corona
Saikhu Baghowi • 03 Mei 2020 05:15
DATA Worldometer menunjukkan Brazil akhirnya masuk 10 besar negara yang penduduknya terbanyak terjangkit positif virus korona. Sampai dengan Kamis, 1 Mei, data Worldometer menunjukkan Amerika Serikat masih bertengger di urutan teratas. Kemudian disusul negara negara lain seperti Spanyol, Italia, Inggris, Prancis, Jerman, Turki, Rusia, Iran, dan Brazil.
 
China yang sebelumnya menempati urutan pertama dengan jumlah penduduk penderita Covid 19, dalam sebulan terakhir, angka penduduk yang positif Covid 19 relatif stabil pada kisaran 82.874 orang. Negara-negara Eropa seperti Spanyol, Italia, Inggris, Jerman, Turki, hanya dalam hitungan hari akhirnya menyalip China. Terakhir, Brazil menggeser posisi China.
 
Sejak tanggal 25 Maret, kenaikan penderita positif korona di Brazil terus melonjak drastis. Pada tanggal 25 Maret, data Worldometer menunjukkan jumlah penduduk Brazil yang terinfeksi virus korona tercatat 2.554 orang. Hanya dalam waktu sebulan lebih 5 hari, jumlah penderita virus korona di negara tersebut menembus angka 80.246 orang, bahkan menjadi 87.187 pada 1 Mei 2020. Artinya, ada kenaikan sekitar 31 kali lipat.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


 
Jika kita bandingkan dengan data penderita virus korona di Indonesia, pada rentang waktu yang sama, kita harus bersyukur, kendati tetap waspada. Pada tanggal 25 Maret, jumlah penderita Covid 19 di Indonesia tercatat 790 kasus positif. Sementara sampai Kamis malam 30 April tercatat 10.118 kasus positif Covid 19. Artinya lonjakan eksponsialnya berkisar 12 kali lipat. Pada 1 Mei, angka tersebut berubah lagi menjadi 10.551. Lonjakan eksponensial wabah Covid 19 tercatat naik tajam mulai tanggal 19 Maret 2020. Apa yang menyebabkan kenaikan penderita Covid-19 di Brazil melonjak begitu tinggi? Salah satu alasannya, ketidakharmonisan antara kebijakan Presiden Brazil Jair Bolsonaro dengan Menteri Kesehatan Brazil Luiz Henrique Mandetta. Keduanya berseberangan dalam hal kebijakan menentukan arah yang tepat untuk mengatasi wabah Covid-19.
 
Menyepelekan ancaman Covid-19
 
Presiden Brazil Jair Bolsonaro terkesan menyepelekan ancaman pandemi Covid-19. Dia cenderung membiarkan masyarakat untuk menjalankan roda perekenomian seperti biasa. Bahkan Bolsonaro di berbagai pemberitaan menyebut ancaman wabah tersebut tidak lebih dari sekadar ancaman “flu ringan”. Parahnya lagi, Presiden Brazil itu menyerang para gubernurnya yang menerapkan kebijakan karantina wilayah.
 
Sikap Bolsonaro bertolak belakang dengan sikap Menteri Kesehatan Brazil Mandetta. Mandetta meminta agar pemerintahan segera membatasi kegiatan sosial secara tegas. Alhasil, masyarakat Brazil gamang, dan penanganan wabah Covid-19 berjalan setengah hati. Perdebatan di dalam pemerintahan Brazil itu faktanya membuat penderita Covid-19 di negara Amerika Latin itu melonjak tajam dalam sebulan terakhir.
 
Kita patut bersyukur, pemerintahan Jokowi-Amin tidak berlarut-larut mengatasi kebuntuan perbedaan sikap pemerintah pusat dan daerah. Pada Februari, Presiden Joko Widodo telah mengendus akan “bahaya” disharmoni kebijakan pusat dan daerah. Ketika wabah korona mulai menjakiti semua negara, tak terkecuali Indonesia, maka daerah-daerah mulai berlomba lomba hendak memberlakukan lockdown. Untunglah Jokowi sejak Februari menekankan pentingnya visi yang sama antara pusat dan daerah dalam memerangi wabah Covid-19.
 
Pentingnya satu visi ini ditekankaan berulang-ulang oleh Jokowi. Terakhir, Kamis 30 April saat membuka Musyawarah Perencanaan Pembangunan Nasional, Jokowi kembali mengingatkan, "Kita butuh sinergi yang kuat, kerja sama pemerintah pusat dan daerah, pemerintah provinsi, kabupaten, kota, sampai desa harus berjalan dalam satu visi, satu arah, satu kebijakan yang solid".
 
Perbedaan kebijakan pusat-daerah yang paling popular, manakala ada perbedaan kebijakan antara Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dengan Menko Maritim Luhut Binsar Pandjaitan selaku pejabat sementara menteri perhubungan menggantikan Budi Karya Sumadi, yang saat itu masih dalam perawatan lantaran positif Covid-19.
 
Dua aturan berbeda
 
Ada aturan berbeda yang membuat masyarakat bingung perihal aturan operasional ojek online (ojol), di saat sejumlah daerah memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Masyarakat bingung, dalam hal ojek online, apakah harus mengikuti Peraturan Menteri (Permen) dikeluaran Menteri Kesehatan atau Menteri Perhubungan.
 
Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor 9 Tahun 2020 tentang pedoman pelaksanaan PSBB yang ditanda tangani Menkes Terawan Agus Putranto, hanya mengizinkan ojek online mengangkut barang. Sebaliknya Permenhub Nomor 18 Tahun 2020 yang dikeluarkan Menhub ad interim Luhut Binsar Pandjaitan tentang pengendalian transportasi dalam rangka pencegahan penyebaran virus korona mengizinkan ojek online untuk mengangkut barang dan orang.

Bukan hanya masyarakat, para driver ojol pun dibuat bingung, mana aturan yang harus dipegang? Gubernur DKI Anies Baswedan tetap merujuk kepada Peraturan Gubernur yang sudah ada. Artinya hanya mengizinkan ojol untuk mengangkut barang dan menegasikan Permenhub Nomer 18 tahun 2020.


Untunglah juru bicara Gugus Percepatan Penanganan Covid-19, Achmad Yurianto berpegang pada Permenkes. Yurianto menegaskan, selama PSBB diberlakukan maka aturan yang dipegang adalah Permenkes Nomor 9 Tahun 2020, khususnya yang berkaitan dengan aturan operasional sepeda motor berbasis aplikasi ojol.
 
Baik Indonesia maupun Brazil layak berkaca dengan kebijakan yang diterapkan pemerintah China. Di awal munculnya virus korona, pemerinah China dengan sigap mengatasi wabah yang mematikan itu. Di negeri Panda tersebut, antara pemerintah dan masyarakat padu dan sinergis untuk bersama memerangi wabah Covid-19.
 
Hasilnya pun terlihat nyata. Sejak 1 Maret 2020, relatif tidak ada penambahan jumlah penderita covid 19 di negara terbesar di Asia itu. Pada tanggal 1 Maret data Worldometer menunjukkan warga China yang terinfeksi korona tercatat 80 ribu. Dan dalam satu bulan terakhir angka “hanya” bertambah 2.500 orang.
 
Bahkan Wuhan, yang merupakan daerah muasal wabah ini merebak, kini telah membuka diri. Kebijakan lockdown telah dicabut dan warga setempat bisa beraktivitas secara normal. []
 
*Segala gagasan dan opini yang ada dalam kanal ini adalah tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi Medcom.ID. Redaksi menerima kiriman opini dari Anda melalui kolom@medcom.id.
 

 

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif