Dok. Metro TV:  Tahun 2020 ditetapkan sebagai  International Year of the Nurse and the Midwife oleh WHO.
Dok. Metro TV: Tahun 2020 ditetapkan sebagai International Year of the Nurse and the Midwife oleh WHO. (Ns. Sri Nining)

Ns. Sri Nining

Mahasiswa Magister Ilmu Keperawatan, Peminatan Kepemimpinan dan Manajemen Keperawatan, Fakultas Ilmu Keperawatan, Universitas Indonesia

Penghargaan bagi Perawat di Masa Pandemik Covid-19

Pilar penghargaan bagi perawat
Ns. Sri Nining • 12 Januari 2021 08:45
BICARA pandemik, tentu di dalamnya ada kata “garda terdepan”. Mereka adalah sosok yang dianggap paling berjasa di saat ini. Bisa dikatakan bahwa mereka lagi trending topik hampir setiap pekan. Garda terdepan ini termasuk perawat, profesi yang paling banyak dalam jajaran tenaga kesehatan.
 
Tahun 2020 adalah tahunnya perawat. Spotlight dunia mengarah ke profesi ini. Seakan baru disadari keberadaannya, perawat begitu dikagumi dan dibanggakan. Sampai-sampai, banyak karya seni, baik musik maupun tulisan diciptakan untuk memberi penghormatan dan support untuk perawat yang sedang berjuang melawan covid-19.
 
Sebelumnya predikat judes, galak dan malas kadang disematkan pada profesi perawat. Kini, banyak predikat luar biasa yang diberikan kepada perawat, seperti superhero, pahlawan kemanusiaan, garda terdepan dan ada juga yang menyebut perawat sebagai malaikat. Tahun 2020 pun ditetapkan sebagai International Year of the Nurse and the Midwife oleh WHO.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


 
Tahun 2020 berganti 2021, masih ada harapan besar bagi semua perawat yang belum terwujud sampai saat ini, yaitu adanya perbaikan nasib, bukan hanya penghargaan kata-kata, namun harus ada penghargaan secara materil. Karena perawat ini bukan malaikat seutuhnya namun manusia, yang punya banyak kebutuhan. Jangan dilupakan, bahwa pekerjaan sebagai perawat ini adalah karir, yang menjadi sumber pundi-pundi bagi keluarga perawat itu sendiri. Kondisi pandemik menambah daftar masalah yang harus dihadapi perawat, ditambah program Universal Health Coverage 2030 yang menuntut dedikasi lebih lagi dari perawat.
 
Tak adil bila kita hanya menuntut dedikasi namun tanpa dukungan. Banyak penelitian membuktikan bahwa remunerasi adalah pendorong yang kuat untuk meningkatkan kinerja perawat, apalagi jika diberikan pada tingkat yang memuaskan, akan memberikan kepuasan dan motivasi kerja perawat. Prinsipnya jelas, yaitu keseimbangan dedikasi dan remunerasi.
 
Dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No 10 tahun 2019 Tentang Pelaksanaan Pemberian Tunjangan Kinerja bagi Pegawai di Lingkungan Kementerian Kesehatan, menempatkan perawat ahli pada kelas 7, dengan pendidikan terakhir S1 Ners sedangkan perawat dengan pendidikan D3 berada pada kelas 5.
 
Kurang Adil
Ini sebenarnya kurang adil karena jika diperhatikan dengan seksama, jabatan dengan pendidikan profesi harusnya berada pada posisi 8, contohnya profesi dokter. Namun dalam sistem remunerasi Kemenkes, posisi ners disamakan dengan D IV kebidanan, padahal tingkat pendidikannya tidak setara.
 
Kompleksitas kerja dan keilmuan diantara profesi kesehatan, tidak bisa disejajarkan untuk menjadi alasan penempatan kelas para ners. Dalam UU No 38 tahun 2014 tentang keperawatan, diakui bahwa profesi perawat adalah bagian integral dari pelayanan kesehatan dan berinteraksi secara sejajar dengan profesi lain.
 
Perawat belajar di bangku pendidikan dengan ilmu yang kompleks. Dalam pelayanan pun perawat merupakan profesi yang tak kalah pentingnya. Dari 24 jam pelayanan, perawat selalu berada di setiap detiknya memberikan pelayanan. Dalam kondisi covid ini, jumlah perawat yang menjadi korban pun banyak. Bukankah sudah terlihat jelas, dedikasi para perawat?
 
Kalau di tahun 2018 posisi perawat ahli berada di kelas 7, sekarang posisi itu seharusnya naik karena ada aturan baru, yaitu Permenpan No 35 tahun 2019 tentang jabatan fungsional perawat. Jika sebelumnya perawat berada pada golongan III B, Permenpan menaikkan posisi perawat ahli pada golongan III C. Dengan demikian, harusnya saat ini kelas perawat yang di tahun 2018 pada kelas 7 dinaikkan pula menjadi kelas 8, setara dengan jabatan pada profesi lain.
 
Selain itu, dalam Permenkes No 40 tahun 2014 tentang jenjang karir perawat klinis, perawat baru harus menjalani 1 tahun internsif atau magang dan harus lulus kredential dulu untuk bisa mendapatkan kewenangan klinis dan diakui sebagai perawat klinik. Dengan demikian, posisi perawat dengan grade Pra PK ini tidak jelas. Walaupun pendidikannya Ners, namun tidak bisa diberikan pada kelas 7, karena belum memiliki kewenangan klinis. Sehingga, kebanyakan instansi meletakkan posisi perawat baru (Pra PK) di bawah posisi kelas 7 ini. Apakah ini adil?
 
Harus Menunggu Satu Tahun
Profesi kesehatan lain, walaupun baru selesai pendidikan bisa langsung dikategorikan pada kelas remunerasi yang ditentukan, sedangkan perawat harus menunggu dulu selama setahun untuk bisa mendapatkan kelas yang sesuai.
 
Keberadaan perawat dalam sistem remunerasi adalah bukti penghargaan pemerintah dan para pembuat regulasi bahwa profesi ini memiliki prestasi yang dinilai dalam bentuk materi dan jabatan. Posisi dan angka yang sesuailah yang paling diharapkan perawat. Sebagai peraturan nasional, grading yang digunakan Kementrian Kesehatan akan menjadi potret bagi instansi-instansi kesehatan lain dalam menyusun remunerasi bagi perawat.
 
Ini sebenarnya bukan hanya membandingkan dengan profesi lain, namun fakta membuktikan bahwa saat ini perawat sudah mengalami demotivasi. Akibat pandemik ini, perawat mengalami tingkat kelelahan yang tinggi.
 
Jika beban hidup sudah berat, bagaimana seorang perawat bisa semangat bekerja? Perawat harus diberi vitamin yaitu remunerasi yang adil. Jika beban kerja dan dedikasi kita sama, maka harusnya penghargaan yang diterima juga sama. Itu baru adil!
 
Untuk itu, rekomendasi saya adalah perlu dilakukan addendum Nomor 40 Tahun 2017 tentang Pengembangan Jenjang Karir Profesional Perawat Klinis, terutama untuk menghilangkan posisi Pra PK bagi perawat baru. Selain itu, perlu kenaikan kelas perawat Ners ke kelas 8 dalam remunerasi yang dalam Permenkes No 10 tahun 2019 menempatkan pendidikan terakhir S1 Ners pada kelas 7.
 
Dengan demikian, perawat benar-benar akan mendapatkan penghargaan yang adil dalam sistem remunerasi. Harapan terbesarnya adalah perawat akan semakin bangga dengan profesi mereka, sehingga semakin termotivasi dalam meningkatkan kinerja dalam memberikan asuhan yang bermutu bagi semua masyarakat yang membutuhkan.
 
Memanfaatkan momen saat ini, sebaiknya pemerintah dan para stakeholder keperawatan lebih memperhatikan kondisi keperawatan. Karena bukan hanya masalah remunerasi ini yang dihadapi keperawatan. Ada banyak permasalahan lain yang juga sangat penting bagi kemajuan keperawatan di Indonesia. []
 
TERKAIT

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif