Peneliti dari Trinity College Dublin, Elva Arulchelvan, mengkaji bagaimana stimulasi otak mampu memperkuat ingatan. Ia menjelaskan riset yang dilakukan selama puluhan tahun telah membedah cara kerja memori sekaligus langkah-langkah praktis untuk memastikannya berfungsi dengan optimal.
Cara Kerja Memori di Otak Manusia
Sistem memori manusia bekerja melalui tiga tahapan yang melibatkan kerja sama berbagai wilayah otak. Tahap awal dikenal sebagai memori sensorik, yaitu proses perekaman cepat terhadap rangsangan lingkungan seperti aroma atau suara yang hanya bertahan sekejap mata. Informasi ini diterima oleh korteks sensorik sebelum diputuskan apakah akan diteruskan atau dibuang.Fase berikutnya adalah memori kerja atau memori jangka pendek. Bagian ini berfungsi seperti meja kerja yang menyimpan data dalam durasi beberapa detik hingga menit saja. Inilah sistem yang digunakan manusia saat mencoba memahami kalimat, menghitung angka di luar kepala, atau sekadar mengikuti petunjuk jalan. Aktivitas ini dikelola oleh korteks prefrontal yang mengatur fokus dan logika.
Tahap terakhir adalah memori jangka panjang, gudang penyimpanan yang mampu menahan informasi hingga seumur hidup. Memori ini terbagi dua, yaitu eksplisit untuk fakta dan sejarah hidup, serta implisit untuk kebiasaan dan emosi. Bagian hipokampus menjadi pemain kunci untuk fakta, sementara amigdala dan serebelum bekerja dalam urusan emosional serta prosedur motorik.
Hal yang penting dipahami adalah memori kerja merupakan pintu masuk utama, namun kapasitasnya sangat terbatas. Pada 1956, George Miller mengungkapkan otak manusia hanya sanggup menampung sekitar tujuh unit informasi secara bersamaan. Meskipun jumlah ini masih terus diteliti, keterbatasan kapasitas inilah yang sangat menentukan efektif atau tidaknya proses penyerapan informasi seseorang.
5 Cara Praktis Melatih Daya Ingat
Untungnya, ada metode sederhana untuk memaksimalkan kapasitas memori tersebut. Berikut adalah lima langkah yang bisa dilakukan dilansir laman independent.co.uk:1. Jauhkan Ponsel dari Jangkauan
Menaruh ponsel dalam jarak dekat, meski dalam keadaan mati, ternyata tetap menyedot energi otak. Pikiran manusia secara bawah sadar tetap memantau perangkat tersebut, sehingga menguras sumber daya mental yang seharusnya digunakan untuk fokus.Kondisi ini disebut sebagai brain drain. Cara terbaik adalah memindahkan ponsel ke ruangan lain saat benar-benar butuh konsentrasi tinggi.
2. Tenangkan Kecemasan dan Pikiran yang Berlebihan
Stres adalah musuh utama memori kerja karena ia memakan ruang yang seharusnya digunakan untuk memproses informasi. Riset membuktikan teknik relaksasi dan mindfulness sangat membantu performa ingatan.Apabila meditasi terasa sulit, metode yang bisa dilakukan adalah teknik cyclic sighing atau menarik napas lewat hidung, ditambah tarikan pendek, lalu dibuang pelan lewat mulut. Teknik ini bisa dilakukan selama lima menit untuk menenangkan saraf.
3. Gunakan Teknik "Chunking"
Otak manusia lebih mudah memproses pola ketimbang deretan acak, itulah sebabnya metode chunking atau pengelompokan sangat efektif. Contoh sederhananya adalah saat kita membagi nomor telepon menjadi beberapa bagian angka yang pendek agar lebih mudah dihafal.Hal tersebut juga berlaku saat presentasi. Ketika sedang presentasi, kelompokkan poin-poin ke dalam tema besar agar beban kognitif otak berkurang dan materi lebih mudah melekat di ingatan audiens.
4. Latih Otak dengan Teknik Mengingat Kembali
Psikolog Hermann Ebbinghaus menunjukkan manusia kehilangan hampir separuh informasi baru hanya dalam 30 menit melalui fenomena ‘kurva lupa’. Untuk melawannya, gunakanlah retrieval practice atau latihan memanggil kembali ingatan secara aktif.Cobalah menguji diri sendiri tanpa melihat catatan. Proses ini dapat memperkuat jalur asosiasi di otak sehingga informasi lebih sulit untuk terlupakan.
5. Say No to "Sistem Kebut Semalam"
Belajar maraton tanpa jeda terbukti tidak efektif karena otak butuh waktu menyatukan informasi. Memori akan bekerja lebih baik jika sesi belajar dilakukan berkala dengan waktu istirahat yang cukup.Studi menyarankan agar seseorang memberikan jeda waktu istirahat sekitar 10–20 persen dari total waktu belajar yang ada agar otak punya kesempatan untuk menyatukan potongan informasi yang masuk.
Dengan begitu, daya ingat bukanlah bakat bawaan yang kaku, melainkan kemampuan yang bisa diasah dengan strategi yang tepat. Dengan melakukan penyesuaian kecil pada kebiasaan belajar dan bekerja, seseorang akan merasakan perbedaan signifikan dalam kecepatan dan durasi mengingat informasi penting. (Talitha Islamey)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News